Hijrah di Jalan Allah

Hijrah di Jalan Allah
Awal pertama di SMA


__ADS_3

"Assalamu'alaikum." Indra melangkahkan kaki masuk ke dalam rumahnya.


"Wa'alaikum salam. Kamu udah pulang? Kok cepet pulangnya? Ada rapat guru ya?" tanya emak Indra.


"Nggak kok, Mak. Nggak ada rapat guru," jawab Indra menundukkan kepala, takut emaknya itu memarahinya.


"Kalo nggak ada rapat guru, kenapa kamu pulangnya cepet sekali? Ini kan baru jam sebelas. Apa kamu cabut?" tanya emak Indra lagi dengan suara agak dikeraskan.


Emak Era mengangkat wajah Indra dengan kedua tangannya yang menunduk sedari tadi.


"Muka kamu kenapa?" Mak Era menutup mulutnya. Ia tampak kaget melihat ada lebam di wajah anaknya itu. "Kamu tauran?" tanyanya.


"Nggak, Mak. Indra nggak tauran." Indra menggelengkan kepalanya. "Indra di keroyok orang tadi di jalan," ucapnya.


"Di keroyok? Siapa yang keroyok kamu? Kasih tau ke emak siapa orangnya?" Emak Era tampak marah. "Biar emak bejek-bejek tuh orang. Beraninya dia ngeroyok anak emak yang paling ganteng ini," ucap emak Era. Wanita paruh baya itu mengusap kepala Indra.


Indra tampak panik. Pemuda itu tau seperti apa emaknya. Emaknya itu pasti bisa membuatnya malu kalo dia memberi tahu semuanya.


Indra menarik nafasnya perlahan, mencoba tenang. "Indra nggak tau juga siapa orangnya. Indra nggak kenal sama orang itu," ujar Indra membohongi emaknya.


"Yaudah, Mak. Indra ke kamar dulu mau istirahat," sambung Indra berlalu ke kamar.


Di dalam kamar Indra membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Kepala pemuda itu masih sedikit pusing. Ia mencoba memejamkan mata, namun handponenya tiba-tiba berbunyi. Ada sebuah notifikasi pesan masuk dari Ridho.


Ridho Lo bolos ya, Ndra?


Indra Iya. Kenapa emangnya?


Ridho Tumben lo bolos? Lo sakit?


Indra Nggak gue nggak sakit. Cuma lagi pengen bolos aja.


Setelah mengetikan itu di ponselnya, Indra meletakan handponenya di atas nakas. Pemuda itu sengaja membohongi sahabatnya itu agar tidak menghawatirkannya.


Indra mencoba memejamkan matanya lagi, namun tiba-tiba saja ia teringat dengan gadis yang menolongnya tadi.


"Semoga gue bisa ketemu dia lagi," gumam Indra. Pemuda itu tampak berharap tuhan akan mempertemukannya lagi dengan gadis yang berada di rumah sakit tadi saat ia pingsan.


Pulang sekolah Tito, Fiko, dan Dino pulang bareng naik motor mereka masing-masing. Rumah mereka bertiga juga searah, jadi setiap hari mereka pasti sering pulang dan pergi bareng.


Sedangkan Ridho seperti biasa ia berencana mengajak Rahma pulang bareng lagi.

__ADS_1


"Rahma yuk pulang," ajak Ridho sambil memasang senyum termanisnya.


"Rahma pulang sama gue," sahut Dimas yang memang ingin mengajak Rahma pulang bareng juga.


"Apaan sih lo. Rahma itu calon istri gue jadi dia bakalan pulang sama gue," ucap Ridho sedikit kesal.


"Berandalan kayak lo jangan mimpi dapetin gadis sholehah seperti Rahma. Dia nggak cocok buat lo," ungkap Dimas.


"Gue nggak mimpi. Ini nyata Rahma itu udah terima lamaran gue," ujar Ridho menjelaskan, bahwa Rahma telah menerima lamarannya.


"Gue nggak percaya." Dimas bangkit dari duduknya dan menarik tangan Rahma, gadis itu hanya mendengarkan perdebatan dua pemuda itu.


Ridho menepis tangan Dimas yang menggenggam tangan Rahma. "Jangan sentuh tangan calon istri gue," ucapnya kesal.


"Eh Rahma itu bukan calon istri lo. Jadi berhenti lah untuk bermimpi. Gue tau sebelum gue ada di sini, Rahma gadis yang paling lo benci kan." Dimas masih saja tidak percaya.


Ridho terdiam ia mengingat kembali kejadian di masa lalu.


Flashback on


Seorang gadis memakai seragam serta hijabnya berangkat ke sekolah dengan bersemangat. Hari ini adalah hari gadis itu memulai sekolah menengah atas. Gadis itu sangat bahagia, ia di terima di sekolah swasta terbagus di kotanya.


Pagi itu gadis yang bernama lengkap Rahma Putri Ramadhani itu diantar oleh ayahnya pakai angkot.


Angkot berhenti di depan gerbang sekolah. Rahma turun dari angkot setelah berpamitan dan menyalimi ayahnya.


Semua siswa-siswi menatap aneh pada gadis itu. Namun Rahma tidak mempedulikannya. Ia berjalan menuju kelasnya.


"Di sini beda sekali. Semua siswi di sini nggak ada satu pun yang memakai kerudung. Bahkan gurunya juga. Beda sekali dengan sekolah ku yang dulu," gumam Rahma dalam hati.


"Assalamu'alaikum." Rahma mengucapkan salam saat masuk ke dalam kelas.


Nggak ada yang menyauti salam dari Rahma. Semua orang menatapnya dengan aneh.


"Eh ada ustazah masuk ke kelas kita." Mereka semua tertawa setelah mengejek Rahma.


Rahma hanya menghela nafasnya, berusaha tidak mendengarkan omongan mereka.


Gadis itu duduk dekat bangku yang kosong. Semua orang tidak ada yang mau duduk di sampingnya.


Seorang pemuda yang sombong dan angkuh baru saja masuk kelas bersama dengan temannya

__ADS_1


"Eh minggir lo! Gue mau duduk di situ!" titahnya dengan suara lantang pada seorang siswa di dalam kelas itu. Siswa itu beranjak dari sana, ia menunduk takut. Ia juga tau pemuda sombong dan angkuh itu adalah ketua geng motor Rasta. Geng motor yang sangat ditakuti.


"Kita duduk di sini, Ndra." Pemuda itu duduk di bangku itu. Indra temannya dari kecil itu menurut. Ia duduk di samping pemuda itu yang tak lain adalah ketua geng motornya Ridho Ahmad Wibowo.


Pemuda yang bernama Ridho itu memutar bola matanya memandangi sekeliling. Matanya tertuju pada gadis berhijab yang duduk di depannya. Ia juga menatap aneh pada gadis itu.


Tak lama guru pun masuk. Semua murid kelas itu menatap sang guru berbicara di depan.


"Perkenalkan nama saya Mita, saya adalah guru Bahasa Indonesia dan selaku wali kelas ini juga. Nah karna ibu sudah memperkenalkan diri sekarang giliran kalian maju ke depan satu-satu untuk memperkenalkan diri kalian," ucap bu guru panjang lebar.


Semua murid telah memperkenalkan diri ke depan, kecuali seorang gadis berhijab yang sekarang duduk sendirian. Ia tampak ragu memperkenalkan dirinya. Namun karna bu Mita menyuruh ke depan dengan terpaksa ia menurutinya.


Perlahan gadis itu maju ke depan. Semua mata tertuju padanya.


Gadis itu membuka suara. "Perkenalkan nama saya Rahma Putri Rahmadhani. Saya berasal dari SMPN 2 Jakarta," ucapnya.


Saat jam istirahat tiba, Rahma berjalan di koridor sekolah menuju kantin.


BRUKK


Rahma terjatuh saat tiba di kantin dan tidak sengaja mengenai mangkok bakso seseorang yang ada di kantin itu. Ada yang sengaja menyandung kaki gadis itu.


"Apa apaan sih lo." Orang itu tampak memarahi Rahma, mukanya tampak memerah.


"Maaf."


Hanya kata maaf yang bisa terlontar di mulut gadis itu.


"Gue nggak terima maaf dari lo. Sekarang lo gantiin bakso gue dengan yang baru," ucap orang itu lagi. Orang itu ternyata pemuda bernama Ridho.


Gadis itu hanya berdiri mematung. Entah apa yang ia pikirkan.


Pemuda yang bernama Ridho itu tampak semakin marah melihat gadis itu tidak melaksanakan perintahnya.


Pemuda itu berdiri dari bangku panjang tempat ia duduk. Ia mendekati gadis yang bernama Rahma itu.


Ia mengulang perkataannya lagi. "Gue bilang gantiin bakso gue dengan yang baru. Jangan bengong, cepetan sana pesanin," bentaknya.


Gadis itu sedikit terlonjak. "Ba-baik," ucapnya.


Jangan lupa tinggalkan like, komen, vote dan kasih rate lima bintang juga ya.

__ADS_1


__ADS_2