
5 tahun kemudian ...
Seorang pemuda tampan baru saja turun dari sebuah pesawat. Yang beberapa detik yang lalu mendarat disebuah bandara.
Pemuda berbadan tegap atletis itu kembali lagi ke tanah air setelah menyelesaikan S2 nya di London. Ia menyeret koper besar di tangannya. Melirik arloji di tangan kirinya. Sepertinya pemuda itu sedang menunggu seseorang. Sudah satu jam ia menunggu, namun orang yang di tunggu belum datang juga.
Beberapa menit kemudian, terlihat seorang pemuda manis dengan alis mata tebal menghampirinya.
Ia mendengus kesal saat pemuda manis itu mendekatinya. "Lama banget lo," kesalnya. "Gue udah jamuran nungguin lo tau nggak."
Bukannya marah mendengar ucapan kasar dari orang di hadapannya itu. Ia malah tersenyum, "Maaf jalanan macet," jelasnya. Ia adalah Indra sahabat pemuda yang baru pulang dari luar negeri itu.
"Oke gue maafin." Ia menyerahkan koper besarnya yang entah apa isinya itu pada Indra. "Bawain koper gue!"
Senyum Indra pudar seketika. "Lo kira gue babu lo. Udah untung gue jemput lo." Indra ikutan kesal. Namun kopernya ia ambil juga dari tangan sang sahabat.
* * *
"Papa mana, Bik?" tanya pemuda yang bersama Indra tadi saat turun dari sebuah mobil. Bik Ira menyambut kedatangan pemuda itu.
Bik Ira tersenyum, "Bapak lagi nggak ada di rumah, Den Ridho." Ridho? Ya pemuda yang baru turun dari mobil itu Ridho, sahabat Indra.
Ridho terdiam. Ternyata papanya itu masih sama seperti dulu. Meskipun ada sedikit perubahan beberapa tahun yang lalu. Tapi sekarang kenapa ia malah tidak ada saat Ridho baru saja pulang. Papanya itu bahkan jarang menghubunginya saat masih berada di London. Dia merasa seperti anak terbuang. Papanya benar-benar tidak peduli dengannya.
"Bik tolong bikinin minum buat Indra." Ridho berlalu masuk ke dalam rumah yang ia tempati 5 tahun yang lalu.
Bik Ira mengangguk, "Baik, Den."
Indra mengekori Ridho di belakang. Koper tadi ia berikan pada satpam di rumah Ridho.
Ridho masuk ke dalam kamarnya yang berada di lantai dua rumah mewah itu. Pemuda itu memandangi sekeliling. Kamar itu terlihat masih sama saat terakhir ia tinggalkan. Terlihat rapi dan bersih. Sepertinya Bik Ira sering membersihkannya.
Pemuda itu melirik kasur, lalu rebahan di sana. Ia memejamkan mata sejenak, tiba-tiba ia teringat dengan gadis yang selalu ada dalam mimpinya. Gadis selalu ada di hatinya. Walaupun dengan susah payah ia lupakan, namun hatinya tetap sama seperti 5 tahun lalu. Ia benar-benar mencintai gadis itu. Apakah mungkin itu yang dinamakan cinta sejati.
Lamunan Ridho buyar saat kasurnya tiba-tiba bergoyak. Indra baru saja menghamburkan badannya ke kasur. Ikut tiduran di sana.
"Lagi mikirin apaan lo?"
__ADS_1
Ridho duduk, kemudian berdiri. Pemuda itu mengambil handuk dan berlalu ke kamar mandi tanpa menghiraukan pertanyaan Indra. Indra hanya menatap punggung Ridho yang hilang di balik pintu kamar mandi.
* * *
"Den minumannya udah Bibik siapin di meja ruang tamu." Bik Ira bersuara saat Indra dan Ridho baru saja tutun dari lantai dua.
"Makasih, Bik."
Mereka berdua duduk di sofa tamu sambil berbincang-bincang.
"Lo kerja di mana?" tanya Ridho melihat penampilan formal Indra.
Indra menyeruput jus jeruk di atas meja. "Gue kerja di perusahaan Sanjaya grup," jelas Indra. Sanjaya grup adalah perusahaan kakeknya Indra. Ayah dari emaknya.
Ridho ber oh mendengar jawaban sahabatnya itu. Indra kembali menyeruput jus jeruk yang masih tersisa. Sayang kalo tidak dihabiskan, pikirnya.
"Anak-anak yang lain pada kerja di mana?"
"Tito dan Fiko bekerja jadi Staff biasa di tempat gue bekerja." Indra mengambil cemilan di atas meja. Lalu memasukannya ke dalam mulut. Kebiasaannya dari dulu kalo bertamu di rumah Ridho. Ia sudah menganggap rumah itu seperti rumahnya sendiri. Jadi tidak ada rasa canggung ataupun sungkan. Apa yang ada di atas meja pasti ia habiskan. Bahkan isi kulkas pun bisa habis saat ia bertamu ke rumah Ridho.
"Lalu Dino?" Kening Ridho terlihat sedikit berkerut menanyakan sahabat humornya yang satu itu.
"Kenapa dia nggak bekerja di tempat lo bekerja juga?" Kali ini kening Ridho tambah berkerut. Ia ingin tau semua tentang teman-temannya.
"Dino ngambil jurusan berbeda dari kita. Dia ngambil jurusan pendidikan," jawab Indra.
"Yaudah, Bro. Gue pamit." Menyambar jasnya yang tergeletak di meja. "Ntar malam anak-anak yang lain ke sini. Lagi pada sibuk kerja soalnya."
"Hmm."
* * *
"Tambah ganteng aja lo. Gue jadi iri." Tito mengoceh di ruang TV rumah Ridho.
"Wajar lo iri muka lo di bawah rata-rata," sahut Fiko. Dua makhluk itu sering berantem akhir-akhir ini.
"Gue nggak ngomong sama lo setan," kesal Tito. Ia menimpuk kepala Fiko dengan bantal sofa yang ia ambil tadi.
__ADS_1
Fiko tampak tak terima. Ia balik menimpuk Tito dengan bantal yang mengenai kepalanya. Terjadilah perang timpuk-menimpuk bantal di ruang TV itu. Dino tampak geleng-geleng. Temannya itu masih saja kekanakan. Ia sebagai guru pun melerainya.
"Karna kalian berdua telah membuat keributan di kelas ini. Kalian bapak kasih Sanksi." Dino terlihat seperti seorang guru memarahi muridnya.
Tito dan Fiko pun melongo. Apa yang terjadi pada Dino?
"Sini kalian." Dino mendekat menjewer telinga dua temannya itu. Tangan kanannya menjewer telinga Tito dan tangan kirinya menjewer telinga Fiko.
Mereka menjerit kesakitan. Telinganya terasa panas. Sungguh mengerikan juga Dino itu ternyata.
"Udah udah. Kalian kenapa sih? Udah pada gila ya?"
Sontak jeweran Dino berhenti. "Keterlaluan sekali anda. Belum pernah melihat kemurkaan pak guru ini ya."
"Ampun Pak guru ampun." Indra mengatupkan kedua tangannya di dada. Ia ikut gila juga ternyata.
Ridho tergelak. Selama 5 tahun tidak bertemu kegilaan teman-temannya itu tambah parah. Sepertinya Ridho harus hati-hati jangan sampai ia ketularan.
* * *
Hari ini Ridho mulai berkerja di perusahaan papanya. Hermana grup. Perusahaan besar yang mempunyai banyak cabang di setiap kota. Perusahaan yang Hermana rintis sendiri.
Saat Ridho memasuki perusahaan tersebut. Para karyawan di sana tersenyum ramah. Dan tak jarang membungkukkan badannya pada pemuda itu. Ridho membalas dengan tersenyum juga.
"Direktur baru kita tampan sekali," puji salah satu staff wanita di sana.
"Iya. Denger-denger dia anak satu-satunya Pak Hermana lho," balas staff yang lain.
"Serius?"
Temannya mengangguk. "Iya."
"Gue harus bisa dapatin dia," ucapnya dengan raut wajah sombong.
"Nggak bakalan bisa. Mana mau dia sama lo," sinis temannya.
* * *
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, komen, rate 5 bintang