
Seorang wanita berambut panjang terawat menatap orang di depannya datar. "Di mana ruangan Ridho?" tanyanya, dengan nada yang terdengar angkuh.
"Ada keperluan apa ya, Bu?" Orang yang merupakan resepsionis tempat itu bertanya setelah berpikir siapa orang yang dimaksud. Mencoba untuk tetap sopan walau lawan bicaranya bersikap tidak mengenakan. Orang kaya memang begitu, pikirnya. Dilihat dari segi penampilan wanita itu ia sudah bisa menebaknya.
"Bukan urusan lo ya!" Wanita itu mendelik kesal karna pertanyaannya dijawab pertanyaan. "Cepat katakan kalo lo masih mau kerja di sini," gertaknya.
Wina, yang digertak terdiam beberapa saat. "Saya tidak bisa memberitahu kalo Anda tidak mengatakan keperluan Anda menemui pak Ridho," balasnya.
Wanita itu berdecak, "Lo tau siapa gue?" tanyanya.
Tentu saja Wina menggeleng. Mana ia tau, wanita ini baru ia temui hari ini.
"Kalo gitu kenalin nama gue Sinta," ucapnya menjeda beberapa detik, terhibur melihat raut kebingungan dari Wina. "Gue salah satu pemilik saham Hans group. Bukan hanya itu gue juga anak dari pengusaha terkaya nomor 4 di dunia." Wanita yang mengaku nama Sinta itu tersenyum melihat kesiap di wajah resepsionis muda di depannya. "Jadi gimana? Mau ngasih tau atau tidak? Atau lo mau angkat kaki aja di sini?"
Dalam hati tentu saja Wina kesal. Mentang-mentang orang berada, wanita ini bersikap semaunya. "Lantai 3 paling ujung sebelah kanan, Bu," jawabnya dengan nada terpaksa yang terdengar kentara.
Wanita itu melengos begitu saja setelah mendapat jawaban darinya. Wina mengumpatnya dalam hati melihat wanita itu pergi.
Beberapa menit kemudian, seorang wanita berkerudung pashmina syar'i membuka pintu lobby. Wajahnya terlihat bercahaya. Wina berpikir mungkin karna efek dari sering berwudhu.
Belum lagi senyum cantiknya yang membuat siapa saja terpana. Ternyata ada ya orang sesempurna ini? Wina membandingkan dengan wanita tadi. Memang sih wanita yang tadi juga cantik. Tapi kecantikan akhlak lebih diutamakan.
__ADS_1
"Permisi, Mbak. Saya mau nanya ruangan pak Direktur di mana ya, Mbak?"
Wina semakin kagum. Suaranya juga sangat lembut. Ia menanyakan keperluan wanita itu dengan nada sopan seperti ciri khasnya.
Wanita berkerudung yang di tanya mengangkat rantang di tangannya. "Mau nganterin makan siang buat pak Ridho, Mbak," balasnya dengan senyum. Yang semakin cantik terlihat oleh Wina mungkin juga orang-orang sekitar jika mereka memperhatikan.
Baru Wina ingat wanita ini istri dari atasannya yang baru naik jabatan itu. "Ruang Direktur di lantai tiga, Bu. Paling ujung sebelah kanan."
Setelah mengucap terima kasih, wanita berkerudung dengan wajah bercahaya itu melempar senyum ramah padanya. Beda sekali dengan wanita tadi, batinnya terus membandingkan.
Bersamaan dengan kepergian wanita berkerudung itu Wina baru menyadari sesuatu. Bukankah wanita yang mengaku mempunyai saham di perusahaan ini juga pergi ke tempatnya sama? Gawat.
***
Ridho tersenyum menuju pintu. Tidak sabar menemui istrinya. Namun, senyum itu pudar saat melihat orang yang tak ingin ia temui berada di sana setelah ia membuka pintu.
"Ngapain lo ke sini?" Raut wajahnya terlihat tak suka, dengan nada ketus yang kentara.
"Boleh aku masuk?" Orang itu tidak menjawab pertanyaannya, tapi malah balik bertanya.
"Gak boleh. Pergi sana!" usirnya seraya hendak menutup pintu.
__ADS_1
Dengan cepat orang itu menahan. "Sebentar aja! Aku mau ngomong," pintanya dengan suara memohon.
Ridho tetap akan menutup pintunya. Namun, orang yang merupakan mantan pacarnya itu tidak kehabisan akal.
"Apa kamu tidak merasa bersalah padaku?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca. "Aku mencintaimu dengan tulus Ridho, tapi kamu malah memanfaatkanku."
Sinta, mantan pacar Ridho itu menyembunyikan senyum dengan menunduk saat gerakan pria itu hendak menutup pintu terhenti. Ia semakin melancarkan aksinya. "Aku tidak ada niat mengganggu kehidupanmu. Aku hanya ingin bertanya banyak hal padamu agar hatiku lega," jelasnya.
Sejenak Ridho terdiam. "Yaudah mau ngomong apa?" tanyanya yang masih mempertahankan nada ketusnya.
"Biarkan aku masuk!" pinta Sinta lagi.
"Ngomong di sini saja! Mau ngomong apa?"
"Tapi ngomong di sini gak enak di liatin orang," ucap Sinta. Ridho melirik ke sekretarisnya yang merupakan seorang pria, memperhatikan interaksinya dengan wanita ini.
"Oke. Cuma sebentar!" tekannya.
Sinta mengangguk, kemudian masuk ke ruangan mengikuti Ridho yang masuk lebih dulu. Wanita itu menutup pintu sehingga kelua protes di mulut Ridho. Tentu saja ia tidak mau berduan dalam satu ruangan dengan wanita selain Rahma dengan pintu tertutup pula. Itu bisa saja menjadi fitnah.
"Aku gak mau omonganku di dengar sekretarismu yang sepertinya ingin tau itu."
__ADS_1
Ridho terpaksa membiarkan wanita itu menutup pintu. Walau ada keraguan di hatinya, tapi segera ia tepis. Hanya sebentar setelahnya wanita ini tidak akan mengganggunya lagi, pikirnya.