Hijrah di Jalan Allah

Hijrah di Jalan Allah
Gagal fokus


__ADS_3

"Tinggalkan rumah ini sekarang juga," teriak seorang laki-laki paruh baya yang marah-marah pada seorang wanita berkerudung biru. Mira adalah nama dari wanita itu.


"Suami kamu punya hutang banyak sama saya. Dia sudah menggadaikan rumah ini sebagai jaminannya," sambungnya.


"Tolong beri saya waktu sebentar Pak untuk membereskan semua barang-barang saya," pinta Mira. Ia memilih menuruti saja.


"Baiklah saya akan berikan waktu 1 jam untuk membereskan barang-barang kamu." Laki-laki itu berlalu pergi.


Mira menghela nafasnya. "Hanya karna judi kamu rela menggadaikan rumah kita Mas," gumamnya. Ia sudah lelah dengan kelakuan suaminya yang suka berjudi. "Sekarang kamu menghilang entah kemana." Wajah Mira tertunduk. Sangat kecewa dengan perbuatan suaminya itu.


Beberapa saat kemudian ia sudah selesai membereskan semua pakaiannya kedalam tas.


"Apa yang terjadi Bunda?"


Suara itu berasal dari seorang gadis berpakaian putih abu-abu lengkap dengan kerudungnya. Kelihatannya gadis itu baru saja pulang sekolah. Perlahan gadis itu mendekati bundanya dan duduk di sampingnya.


Mira yang dipanggil bunda oleh gadis itu menoleh ke anak gadisnya itu. Ia tersenyum. "Kita harus pindah dari rumah ini sayang," ucapnya lembut sambil membelai kepala putrinya.


Kening gadis itu berkerut. "Kenapa kita harus pindah, Bun?" tanyanya bingung.


"Rumah ini sudah digadaikan ayahmu sama pak Burhan. Jadi kita harus pindah," jawab Mira.


* * *


Pagi-pagi sekali setelah sholat subuh Indra, Tito, Dino, dan Fiko berolahraga di depan rumah Indra. Tadi malam mereka semua menginap di rumah Indra.


Hari ini adalah hari minggu dimana biasanya kebanyakan orang memilih bermalas-malasan di tempat tidur. Namun tidak bagi mereka. Bermalas-malasan akan membuat tubuh merasa kurang sehat lebih baik diisi dengan berbagai aktivitas.


Indra terlihat melakukan pemanasan. Tito dan Fiko juga mengikutinya. Namun berbeda dengan Dino. Pemuda itu malah memilih lompat tali tanpa melakukan pemanasan seperti teman-temannya lakukan.


Ia terlihat asik melompati tali dengan sangat cepat.


Setelah melakukan pemanasan Indra memulai push up dan entah kenapa Tito dan Fiko mengikut juga.


"Satu dua tiga ..." Indra mulai menghitung.


Sampai pada hitungan ke lima puluh.


"Aduuh kaki gue," pekik Dino yang merasakan kakinya keram. Ia terduduk sambil memegangi kakinya.


Sontak saja push up yang lakukan Indra pun terhenti. Dan otomatis Tito dan Fiko juga menghentikan push up nya. Entah kenapa dua makhluk itu selalu mengikuti Indra sejak dari melakukan pemanasan.


"Lo kenapa?" Indra bertanya setelah duduk di samping Dino.


"Ka-ki gue ke-ram." Dino terbata saat menjawab. Sakit yang ia rasa di kakinya membuatnya susah untuk berkata-kata.

__ADS_1


"Lo sih nggak pemanasan dulu. Kan jadi gini jadinya." Tito masih sempat saja memarahi Dino yang sedang kesakitan. Sungguh sangat sadis.


"Mana sini kaki lo." Indra menjulurkan tangannya ke kaki Dino.


Satu detik ... dua detik ... tiga detik..


Kraakkk


"MAMAAA," teriak Dino saat kakinya tiba-tiba ditarik Indra dengan sangat kuat.


"Udah jangan lebay." Indra memukul pelan kaki Dino. "Coba lo gerakin kaki lo," ucapnya.


Dino menggoyang-goyangkan kakinya ke kiri dan ke kanan.


"Keren banget coy kaki gue enggak keram lagi." Dino mencoba berdiri lalu berjalan mondar-mandir.


Fiko yang dari tadi diam mematung jadi berkomentar. "Ngapain lo mondar-mandir? kayak lagi nungguin bini beranak aja."


Indra tegelak mendengar ucapan Fiko. "Dia emang lagi nungguin bininya beranak. Itu bininya lagi melahirkan," sahutnya. Ia menujuk ke arah samping Dino.


Sontak ketiga temannya mengikuti arah yang di tunjuk Indra.


"Hahahaha." Ketawanya pecah saat tau yang Indra tunjuk kucing betina yang tampak sedang melahirkan.


Namun tentu saja Dino tidak ikut tertawa.


"Tapi kayaknya kucing itu kesusahan deh. Kasian juga gue liatnya." Setelah puas tertawa Tito memperhatikan kucing itu dan mendekat. Ia terlihat sangat iba pada hewan itu.


"Anaknya ada empat," ucap Fiko setelah kucing itu selesai melahirkan.


"Ini kucing siapa sih, Ndra?" tanya Dino. Duduk di rumput lesehan.


"Kucing emak gue," sahut Indra. Ia ikut begabung juga duduk di sana.


"Anaknya imut banget. Gue mau kasih nama ah. Yang ini gue kasih nama Joker," ucap Tito menunjuk anak kucing yang berwarna orange.


"Jahat dong kucingnya," komentar Dino. "Jangan joker lah enggak bagus. Bagusan Bambang aja namanya," sambungnya. Ia terlihat tak terima kucing yang comel itu di kasih nama Joker oleh Tito. Sangat tidak cocok menurutnya.


"Pokoknya namanya Joker. No comment," celetuk Tito yang tetap kekeh dengan nama itu.


"Pokoknya namanya gue ganti jadi Bambang," ucap Dino dengan suara agak dikeraskan menekankan kata-kata terakhir.


" Pokoknya Joker."


"Pokoknya Bambang."

__ADS_1


"Joker."


"Bambang."


Dua makhluk itu malah ribut mempermasalahkan nama buat anak kucing warna orange itu. Fiko tampak pusing sendiri. Temannya itu seperti anak kecil berebut mainan saja. Pikirnya.


"Udah udah. STOOOPPP," teriak Fiko yang sudah pusing mendengar keributan itu. "Indra aja yang kasih nama buat anak kucing itu. Biar adil," sambungnya.


Fiko menyenggol lengan Indra. "Ndra lo mau kasih nama apa buat anak kucing warna orange itu?" tanyanya. Menujuk anak kucing berwarna orange.


Indra memperhatikan anak kucing itu. Sebuah nama yang cocok sudah tertulis di otaknya. Namun perhatiannya teralih saat seorang gadis berkerudung putih menjemur pakaian di halaman rumahnya. "Nisa."


Kening Fiko sedikit berkerut. Masa iya kucing di kasih nama Nisa? Kayak manusia aja? Enggak kebagusan itu namanya. Pikirnya.


Namun tetap saja terpaksa ia menyetujuinya. "Oke nama kucing warna orange itu Nisa," ucapnya kemudian.


"Nggak salah, Ndra? Masak iya kucing di kasih nama Nisa. Kayak manusia aja." Tito tampak heran. Temannya yang satu itu sangat aneh menurutnya.


Bukannya menjawab Indra malah pergi begitu saja tanpa menghiraukan teman-temannya.


"Ndra lo mau kemana?" teriak Fiko saat Indra beranjak dari sana.


Fiko jadi kesal sendiri pertanyaannya tak dijawab. Jangankan dijawab menoleh pun tidak.


* * *


"Nisa." Indra mendekati gadis yang sedang menjemur pakaian di depan rumahnya.


Gadis itu menoleh ke arah pemuda itu. "Indra."


"Kamu ngapain di sini?" tanya Indra.


"Aku ngontrak sama bunda ku di sini. Kami baru aja pindah kemaren," jelas Nisa sambil terus melanjutkan pekerjaannya.


"Berarti sekarang kita tetanggaan dong," ucap Indra terlihat senang. "Besok berangkat sekolah mau bareng nggak," tawarnya.


Gadis itu menyerngitkan keningnya. "Kita kan beda sekolah," sahutnya.


Indra tersenyum. "Maksudnya aku mau anter kamu ke sekolah," jelasnya.


"Nggak usah. Aku bisa naik angkot," tolaknya. "Aku ke dalam dulu," ucapnya kemudian. Setelah selesai menjemur kain.


"Kenapa dia menolak," gumam Indra. "Semangat Indra ini baru permulaan. Kamu pasti bisa bikin dia jatuh hati padamu." Indra tersenyum sambil menyemangati dirinya sendiri.


* * *

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, rate 5 bintang dan komen juga ya ...


__ADS_2