Hijrah di Jalan Allah

Hijrah di Jalan Allah
Pria berkemeja hitam


__ADS_3

"Udah siap. Ayo berangkat!"


Ridho menggenggam erat tangan Rahma. Mengiringnya menuju bagasi rumah. Motor matic warna biru tua tampak terparkir di sana.


"Pegangan!"


Pria itu menarik tangan istrinya. Melingkarkan kedua tangan wanita itu kepinggangnya setelah menaiki motor matic itu.


Deru motor matic itu terdengar pelan. Ridho memacu motornya dengan kecepatan rendah. Menikmati sejuknya angin malam bersama istri tercinta. Tak ada yang lebih indah selain wanita itu berada di sisinya.


"Astagfirullah."


Motor berdecit. Mobil hitam menghadangnya dan mau tak mau Ridho terpaksa menghentikan motornya. Dan itu membuat Rahma terhuyung ke depan.


Mata Ridho memicing melihat dua orang turun dari mobil itu.


Saat seorang pria berkemeja hitam mendekat. "Mau apa Lo?" Ridho tampak waspada dan segera turun dari motornya.


Pria berkemeja hitam itu tertawa dan Ridho meliriknya dengan tatapan tak suka. Apakah dia waras? Pikirnya.


"Lo masih ada utang sama gue."

__ADS_1


"Lo masih dendam sama gue?"


Bukannya menjawab pria berkemeja hitam itu tertawa lagi. Kali ini lebih keras.


"Lo pikir gue bisa lupain gitu aja." Pria berkemeja hitam itu mengangkat sebelah alisnya sinis. "Lo ingat apa yang gue bilang dulu."


Pria berkemeja hitam itu menggantung kalimatnya seperkian detik.


"Nyawa harus dibayar dengan nyawa."


Rahma yang dari tadi hanya diam menutup mulutnya. Wanita itu tau dengan pria berkemeja hitam itu. Ia masih ingat jelas pria inilah yang menculiknya waktu SMA dulu. Mengapa dia mucul lagi?


Tanpa ba bi bu pria yang disebut Doni oleh teman sebelahnya itu melayangkan tinju ke arah Ridho.


Teman Doni pun tak tinggal diam. Ia juga melayangkan tinju mengarah kepala Ridho. Dengan sigap Ridho menyambut tangan itu lalu memelintirnya. Namun, saat terdengar suara wanita menjerit Ridho menoleh.


Rahma. Istrinya itu diseret oleh dua orang berbadan gempal.


Saat itulah konsentrasinya buyar.


Doni tidak melewatkan itu. Ia melayangkan tendangan di perut Ridho lalu tinjunya mengenai rahang membuat bibir pria itu berdarah akibat tergigit oleh giginya.

__ADS_1


Ridho yang telah tersulut emosi saat melihat istrinya tersakiti mengembalikan pukulan Doni. Meninju musuhnya itu dengan keras mengenai tulang pipinya hingga warna kulit pria itu berubah keunguan.


Melayangkan pukulan demi pukulan pada pria itu tanpa ampun. Tak menghiraukan teriakan istrinya yang menyuruh berhenti. Ridho telah dikuasai oleh emosinya. Bahkan teman Doni pun tampak takut dibuatnya.


Dan saat tubuh Doni ambruk saat itulah Ridho berhenti memukuli.


Doni terbatuk. Mengeluarkan darah beriringan keringat Ridho yang jatuh ke tanah.


Dan saat Rahma menumbruk tubuhnya. Memeluknya erat dari belakang dengan isak tangis. Saat itulah ia sadar bahwa hampir saja ia jadi pembunuh lagi.


Dua orang berbadan gempal tadi membopong Doni ke arah mobil. Memandang takut ke arah Ridho. Ternyata pria ini sangat berbahaya? Pikirnya.


Ia bejanji tidak ingin berusan dengan pria ini lagi. Namun, Doni masih tertanam di hatinya untuk membalaskan dendam nanti.


"Kita pulang saja ya."


Ridho menghapus air mata Rahma. "Maaf ya malam ini kita nggak jadi dinner," ucapnya lalu mengecup mesra kening istrinya.


"Aku gak pa-pa jangan nangis lagi," mendekap istrinya kepelukannya. Menenangkan wanita itu agar berhenti menangis.


"Ayo kita pulang," ajaknya.

__ADS_1


Bersiap menaiki motornya. Namun, ia terkejut saat tubuh istrinya menimpa dirinya. Rahma pingsan.


__ADS_2