Hijrah di Jalan Allah

Hijrah di Jalan Allah
Si Dino


__ADS_3

Seorang pria berbaju dinas rapi menghampiri pria berhoodie hitam di sisi tukang cilok. Wajah seriusnya berubah kocak saat bertemu sahabat lamanya. "Woy! Ngapain lo di sini?" Mata di balik kacamata bundar itu mengalihkan pandang pada tukang cilok yang sibuk membungkus dagangan sesuai pesanan pembeli.


"Sekarang selera lo udah ganti?" Alis pria berkacamata terangkat.


Ridho mengulum senyum tipis. Binar matanya menunjukkan kebahagian. "Bukan buat gue tapi buat istri."


"Ooh." Mulut pria yang menjabat sebagai guru Biologi membulat.


Sekolah yang tadinya sepi karna masih terlalu pagi kini lumayan ramai. Dino sang guru menormalkan raut wajahnya seperti biasa saat berada di sekolah.


"Napa lo?" Melihat raut wajah aneh itu tentu saja membuat Ridho tercengang. Kemana raut wajah kocak tadi?


Bahkan seorang siswa yang melewati pria itu menunduk takut-takut. Ridho menatap takjub. Ingin sekali ia bertepuk tangan untuk pria berkacamata bundar itu. Sungguh akting yang sangat luar biasa.


Bukan hanya siswa tadi tapi yang lain juga sama. Ridho tak menyangka mereka semua setakut itu pada si Dino kocak.


Bugh


"Adoohh." Sebuah buku paket melayang sekoyong-koyong mengenai kepala Dino hingga menimbulkan bunyi gedebuk.

__ADS_1


Telinga Dino berdenging. Mata di balik kaca mata itu mengedarkan pandang ke arah asal buku paket melayang. Dia lagi?


Ridho menganga melihat kejadian itu.


"Dek?"


"Dek? Ini ciloknya." Tukang cilok memberikan kantong plastik lumayan agak besar. Ridho reflek mengambilnya. Dan mulut itu semakin terbuka lebar saat melihat kantong yang ia pegang.


"Pak? Kenapa sebanyak ini?"


"Lima puluh ribu emang sebanyak itu, Dek," ujar tukang cilok bertopi itu. "Satu biji 'kan serebu, jadi lima puluh rebu ya lima puluh biji."


Ia tidak beranjak dari sana walau urusannya sudah selesai. Ia masih penasaran dengan siswi yang meleparkan buku pada kepala Dino. Entah sengaja atau tidak.


"Kamu lagi?" Teriak Dino marah pada siswi yang berdiri beberapa langkah darinya.


"Gimana, Pak? Hadiah lemparan dari saya?" Siswi dengan kerudung tidak rapi tersenyum mengejek. Ia memperpendek jarak dari guru killer menyebalkan itu. Dari sekian banyak murid, hanyalah dirinyalah yang berani dengan guru tersebut. Ia mengambil bukunya yang jatuh lalu pergi begitu saja.


Ridho di sisi Dino terkekeh. "Sabar, Din!" Ia menepuk pundak pria itu sebelum berlalu menuju motor.

__ADS_1


***


"Apa ini, Bang?"


"Cilok."


"Iya tau cilok. Tapi kenapa harus sebanyak ini?" Rahma merajuk. Wanita itu mengira suaminya tidak ikhlas sehingga membeli cilok sebanyak itu.


Ridho pergi ke dapur mengambil piring. Setelah kembali ia menyisihkan sepuluh biji cilok ke piring menggunakan lidi. Ia mengangsurkan piring pada sang istri.


"Aku gak tau, Sayang. Kalo lima puluh rebu sebanyak ini!"


Penjelasannya membuat raut cemberut sang istri memudar. Ia mengambil piring lalu memakan cilok dengan mata berbinar.


Ridho mengulas senyum. Saat hamil istrinya lebih sering merajuk seperti anak kecil. Ia mengusap ujung kepala wanita itu lembut.


Hari ini dan seterusnya Ridho harus ekstra sabar menghadapi sang wanita hamil.


Pria berhoodie hitam menyodorkan air kepada sang istri setelah selesai makan cilok. Piring bekas wanitanya ia ambil dan di isi lagi dengan cilok yang masih tersisa di plastik. Sekarang Ridho harus menghabiskan cilok untuk pertama kalinya dengan porsi yang tidak sedikit. Semoga saja tidak muntah.

__ADS_1


__ADS_2