Hijrah di Jalan Allah

Hijrah di Jalan Allah
Aku akan menjauh darimu


__ADS_3

Tak terasa ujian nasional tinggal menghitung hari. Semua siswa-siswi kelas 12 jadi disibukan dengan banyak pelajaran dan tugas sekolah.


Di sebuah kelas nampak siswa-siswi dengan tertibnya memperhatikan bu Susi menerangkan pelajaran Biologi. Biologi adalah perlajaran IPA yang paling banyak peminatnya di kelas itu bila dibandingkan dengan pelajaran Fisika dan Kimia.


* * *


Di Kantin


Terdengar ocehan siswa-siswi di Kantin Mpok Nani. Kantin itu sangat ramai di padati oleh murid-murid dari kelas 10 sampai kelas 12. Beberapa bulan ini kantin sederhana itu menjadi tempat makan favorit bagi siswa-siswi di sana.


Dino dengan santai menyantap makanan yang telah di sajikan di atas meja. Pemuda itu terlihat sangat senang mendapat makanan gratis dari sahabatnya.


Tito terlihat diam mengamati makanan di atas meja. Ia belum menyentuh makanan itu. "Ada maksud apa lo traktir kita semua makan?" tanyanya pada Indra dengan tatapan curiga.


Indra yang sedang mengunyah makanan menoleh ke arah Tito. "Maksudnya?" Indra balik bertanya setelah meneguk air putih dalam gelas di sampingnya.


"Enggak biasanya lo traktir kita. Biasanya kan Ridho yang sering bayarin kita makan," sahut Tito masih mengamati makan tersebut.


"Udah jangan curiga gitu sama gue. Maksud gue baik kok. Nggak ada maksud apa-apa," ucap Indra. Ia melanjutkan kegiatan makan.


Perlahan Tito meraih piring di atas meja dan mulai makan. Baru saja makan, ia mendongak saat teman-temannya berdiri. Mau beranjak dari sana. "Kalian mau kemana?" tanyanya. "Jangan pergi dulu. Tungguin gue," pintanya.


"Lo sih kelamaan. Makanan kita udah habis lo baru mulai," balas Fiko jengkel. Heran kenapa ia bisa punya teman seperti itu.


Dengan terpaksa mereka semua duduk kembali.


"Bro gimana hubungan lo dengan Rahma. Baik-baik aja kan. Gue liat si Dimas nempel mulu sama Rahma. Kemana Rahma selalu di ikutin," ucap Indra. Memperhatikan Rahma dan Dimas dari jauh.


"Gue juga bingung. Akhir-akhir ini Rahma ngejauhin gue lagi," jawab Ridho terlihat sedih. Padahal ia merasa tidak pernah berbuat kesalahan pada gadis itu.


"Gue yakin semua ini ada hubungannya sama si Dimas. Dia pasti mempengaruhi Rahma biar jauh dari lo," tebak Indra.


"Udah lah biarin aja. Gue nggak mau mikirin itu," ucap Ridho seperti tidak bersemangat. Dari tadi pemuda itu banyak diam. Dan tidak terlalu menghiraukan teman-temannya mengoceh seperti burung beo.


Dino mengusap punggung Ridho. "Lo yang sabar ya, Bro. Kalo kalian jodoh pasti akan dipersatukan dengan cara yang indah oleh allah," ucapnya memberi semangat. Entah dari mana ia dapat kata-kata bijak seperti itu. Pikir Indra.

__ADS_1


Ridho hanya diam tak menjawab. Ia berlalu saja pergi meninggalkan kantin.


Sekarang Ridho sudah berada di kelas. Duduk sambil menyandarkan kepalanya ke meja. Kejadian berapa minggu yang lalu teringat kembali di otaknya.


Flash back on


Ridho tersenyum saat mendapati Rahma di taman belakang sekolah. Tempat favorit gadis itu. Ia berjalan mendekat duduk di samping gadis itu. Sepertinya gadis itu tampak kaget saat dirinya tiba-tiba ada di sana. Terlihat jelas gadis itu terlonjak saat menoleh ke arah Ridho.


Tapi, Ridho tampak bingung. Ada yang aneh dengan Rahma saat ini. Matanya kelihatan bengkak seperti habis menangis. Entah apa yang membuat gadis itu menangis ia tidak tahu soal itu.


"Rahma kamu kenapa?" Pertanyaan itu akhirnya ia lontarkan saat beberapa detik yang lalu berada di otaknya.


Gadis itu terdiam seperkian detik lalu menjawab, "Kenapa bertanya seperti itu?" tanyanya balik. Suaranya jelas sekali seperti habis menangis.


"Apa kamu habis menangis? Mata kamu keliatan bengkak," ucap Ridho tampak cemas. "Apa terjadi sesuatu sama kamu? Apa ada yang membuatmu terluka? Katakan padaku siapa yang membuatmu terluka?" tanyanya beruntun.


Gadis itu menghela nafas. Mencoba menormalkan suaranya. "Kamu telah buat aku terluka," ucapnya. Air matanya jatuh saat mengucapkan kalimat itu.


Ridho terlihat tidak mengerti dengan ucapan gadis di sampingnya itu. "Maksud kamu apa?"


Ridho semakin tidak mengerti dengan ucapan gadis itu. "Kenapa aku harus jauhin kamu? Apakah aku ada salah? Kalo benar aku ada salah aku minta maaf."


Gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Hatinya terasa sakit medengar kata maaf yang diucapkan pemuda itu. Pemuda itu benar-benar tidak mempunyai salah kepadanya. Kalo pun ada salah itu pun dulu. Ia juga sudah melupakan itu.


"Ridho kamu itu telah mengganggu hidup aku tau nggak. Mulai sekarang jangan dekatin aku lagi."


Rasa ditoreh sembilu. Hatinya sungguh perih. Ridho terdiam sesaat mencoba memahami. "Baiklah kalo itu yang kamu mau. Aku akan menjauh dari kamu," ucapnya. Hampir saja air matanya menetes. Dengan cepat ia mengusap sudut matanya. "Aku nggak akan ganggu kamu. Aku minta maaf kalo selama ini keberadaan ku di dekatmu membuat hidupmu terganggu," sambungnya. Perlahan ia pergi meninggalkan gadis itu.


Tangis Rahma pecah. Ia sudah tak sanggup menahan. Ia tak tau harus berbuat apa. Mungkin itu adalah satu jalan terbaik. Pikirnya.


Flash back off


Ridho berteriak histeris membuat semua orang di kelas itu melirik ke arahnya.


"Lo kenapa, Bro?" Indra yang baru masuk ke kelas tampak kaget.

__ADS_1


Ridho menatap lurus ke arah temannya itu. "Gue nggak apa-apa," jawabnya lesu.


"Keliatannya lo kurang sehat. Lo pulang aja. Biar gue anter lo pulang," ucap Indra prihatin dengan kondisi temannya itu.


"Gue nggak apa-apa. Lo tenang aja gue sehat kok," sahut Ridho mencoba menarik bibirnya agar tersenyum. Jelas sekali itu senyum terpaksa yang ia lakukan.


Indra menghela nafasnya perlahan ia lepaskan. Ia mengerti dengan keadaan temannya itu.


"Lo harus semangat, Bro. Jangan menyerah untuk dapatin hatinya Rahma. Lo harus kejar cinta lo. Gue yakin Rahma juga mencintai lo."


"Nggak Ndra dia nggak mencintai gue. Dia bilang kalo gue ini adalah pengganggu," balas Ridho menekankan kata terakhir dari ucapannya.


* * *


"Ridho," panggil Hermana. Papa Ridho.


"Iya ada apa, Pa?" tanyanya.


"Sebentar lagi kamu lulus sekolah. Kamu mau kuliah dimana?"


"Aku juga nggak tau, Pa," sahut Ridho tak bersemangat.


"Gimana kalo kamu kuliah di London saja. Ambil jurusan bisnis di sana," usul Hermana.


"Terserah Papa saja."


Bibir Hermana tertarik membentuk senyuman. Akhirnya putranya itu mau mengikuti keinginannya.


"Nanti papa akan urus semuanya. Kamu hanya tinggal kuliah saja," sambung Hermana.


"Iya makasih, Pa," balas Ridho. Mungkin dengan cara ini ia bisa melupakan Rahma. Pikirnya.


"Jika aku hanya pengganggu hidupmu aku akan menjauh darimu. Menjauh sejauh mungkin dari hidupmu," batinnya.


* * *

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, rate 5 bintang dan komen karna semua itu GRATIS.


__ADS_2