Hijrah di Jalan Allah

Hijrah di Jalan Allah
Liburan sekolah


__ADS_3

"Ridho? Kamu ngapain kesini?" tanya Rahma saat melihat Ridho sudah berada di pasar tempat ibunya jualan.


"Gue kesini mau belajar dengan lo," sahut Ridho yang duduk di salah satu bangku di sana.


"Bukannya biasanya kita belajarnya malam ya, kalo sekarang aku bantuin ibu jualan."


"Nggak masalah gue tungguin lo sampe pulang," ucap Ridho sambil mengeluarkan ponsel di saku celananya.


"Yaudah kalo gitu nih minum dulu tehnya," ucap Rahma meletakan teh di atas meja dekat Ridho.


"Iya makasih," jawab Ridho lalu meminum teh itu.


Sambil menunggu Rahma pulang Ridho sibuk dengan permainan game cacingnya. Meski game itu selalu bikin ia ngoceh sendiri, tapi tetap saja ia sangat suka dengan game itu.


Beberapa jam menunggu, sekarang saatnya Rahma dan ibunya pulang ke rumahnya.


Selesai sholat magrib Ridho dan Rahma belajar bersama seperti biasa.


"Udah jam 9 malam nih, gue pulang dulu ya," ucap Ridho sambil melirik jam tangannya.


Gadis yang di samping Ridho mengangguk, dan akhirnya Ridho pulang ke rumahnya.


"Dari mana kamu?" tanya Hermana yang berdiri di ambang pintu masuk.


"Bukan urusan papa," sahut Ridho yang langsung masuk ke dalam rumah.


"Dasar nggak tau sopan santun," ucap Hermana yang tampak kesal, namun Ridho tidak menghiraukannya sama sekali. Pemuda itu langsung menuju kamarnya dan membaringkan tubuhnya di kasur.


Tak butuh waktu lama, akhirnya Ridho tertidur lelap.


Seminggu kemudian ujian pun telah selesai dan disusul pengambilan rapor siswa dan siswi.


Hari ini para guru membagikan rapor para murid. Seperti semestes sebelumnya Rahma mendapatkan peringkat 1 lagi dikelasnya. Berbeda dengan Ridho, semestes ini pemuda itu mendapatkan peringkat sepuluh besar di kelasnya.


"Bro lo dapat peringkat berapa?" tanya Indra sambil melihat isi rapornya sendiri.


"Nggak gue belum liat," sahut Ridho sambil melihat ke arah guru di depan.


Indra mengambil rapor Ridho dan membukanya.


"Ini nggak salah Bro lo dapat peringkat 8," ucap Indra tak percaya.


"Masa sih peringkat 8." Ridho mengambil alih rapornya. "Oh iya kok bisa," ucapnya juga tak percaya.


* * *

__ADS_1


Setelah usai pengambilan rapor para murid diliburkan selama dua minggu oleh pihak sekolah.


"Liburan semestes ini kita kemana Bro?" tanya Fiko pada teman-temannya.


"Kalo gue sih nggak kemana-mana," sahut Ridho sambil memakan cemilan yang ada di atas meja rumahnya.


"Tumben lo nggak liburan, biasanya lo tiap libur pasti liburan," ucap Dino yang memandang Ridho dengan heran.


"Males gue liburan mulu, meding gue di sini aja," jawab Ridho dengan santainya.


"Kalo lo liburan kemana Ndra?" tanya Fiko pada Indra di sebelahnya.


"Kalo gue liburan ke Surabaya tempat keluarga emak gue," jawab Indra sambil memainkan game yang ada di ponselnya.


"Berarti ketua kita aja dong nggak liburan," timpal Tito dengan nada sedikit mengejek.


"Kalo Ridho mah nggak liburan pasti karna Rahma nggak liburan," sahut Indra setelah meneguk jus jambu di atas meja ruang tamu.


"Beneran Bro lo nggak liburan karna cewek alim itu?" tanya Dino menatap Ridho yang duduk lesehan di karpet dekat sofa ruang tamu.


"Kalo iya kenapa, ada masalah emangnya," ucap Ridho dengan wajah dingin.


"Ya ... nggak masalah sih," jawab Dino tersenyum kikuk.


* * *


Setelah selesai sholat magrib, Rahma pergi ke ruang makan untuk makan malam bernama ibu dan ayahnya.


Setelah usai liburan sekolah, murid-murid pun melakukan aktivitas seperti biasa kembali.


Pagi itu terlihat Ridho memarkirkan mobilnya di parkiran sekolah. Ia berjalan menuju kelas. Di dalam kelasnya sudah berkumpul teman-temannya di sana.


Dino yang melihat Ridho baru datang dengan antusias menghampiri Ridho seraya merentangkan kedua tangannya. Ia hendak berpelukan dengan cepat Ridho menghindarinya.


"Yah ... lo nggak kangen ya sama gue," ucap Dino dengan nada kecewa.


"Nggak, buat apa juga gue kagen sama lo," sahut Ridho dengan ketus.


"Teganya ..." ucap Dino dengan wajah yang dibuat-buat sedih.


"Lebay banget lo Din kayak cewek," timpal Tito yang agak geli liat kelakuan Dino teman sekelasnya itu.


"Sialan lo To, gue ini cowok bukan cewek," sahut Dino tak terima sambil memasang muka jengkel terhadap temannya yang satu itu.


"Baru juga dua minggu nggak ketemu Ridho udah kangen lo Din," timpal Indra yang menggeleng-gelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Emangnya lo nggak sama Ridho?" tanya Dino yang sedikit kesal pada Indra.


"Kangen sih," jawab Indra sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Lah napa lo ngatain gue," ucap Dino yang menatap Indra di depannya.


"Tapi gue nggak lebay kayak lo juga kali, kangen mah kangen aja nggak usah lebay," sahut Indra yang membuat Dino tambah kesal.


"Gue nggak lebay, lo nya aja nganggapnya gitu," ucap Dino yang duduk di meja Indra.


"Udah udah, berisik lo pada pusing gue. To mendingan lo ajak si Dino ke kelas lo deh ntar lagi masuk," ujar Ridho memegang kepalanya yang sedikit pusing.


"Siap ketua. Ayo Din." Tito menarik tangan Dino untuk beranjak dari kelas itu.


"Nggak usah tarik-tarik napa. Gue bukan anak kecil." Dino menarik paksa tangannya yang ditarik Tito.


Sedangkan Fiko yang sedari tadi diam saja mengikuti Tito dan Dino masuk ke kelasnya.


"Rahma kamu liburan sekolah kemana?" tanya Dimas yang baru datang dan mendudukan tubuhnya di bangku samping Rahma.


"Nggak kemana-kemana cuma di rumah sama ke pasar bantuin ibu jualan," jawab Rahma sedikit tersenyum.


"Oh gitu. Aku denger kamu dapat peringkat satu. Selamat ya," ucap Dimas yang menampilkan senyum termanisnya.


"Iya makasih. Selamat juga kamu dapat peringkat dua," ucap Rahma memberi selamat. "Waktu ambil rapor kamu kemana kok nggak ke sekolah?" tanyanya.


"Waktu itu aku di Bandung nenek ku sakit tapi alhamdulillah sekarang udah sembuh kok," jawab pemuda itu.


"Syukurlah kalo gitu."


Ridho yang melihat dua orang itu yang asik mengobrol membuat hatinya menjadi panas. Ia tidak suka melihat kedekatan mereka berdua.


"Sialan tuh orang sok ganteng banget. Tapi dia emang ganteng sih ... tapi tetap aja gantengan gue," batin Ridho yang menatap Dimas dengan tatapan tak suka.


Indra yang memperhatikan Ridho seperti orang kesetanan mengusap-usap punggung pemuda di sampingnya itu.


"Sabar Bro sabar gue yakin Rahma sukanya sama lo," ucap Indra yang terus mengusap-usap punggung temannya itu.


"Cemburu itu boleh tapi jangan diseramin juga tuh muka," sambung Indra.


"Apaan sih lo." Ridho menepis tangan Indra sambil menatap tajam pada pemuda di sebelahnya itu.


"Lah tuh muka napa jadi tambah horor sih. Nanti anak-anak kelas ini pada kabur lo liat muka lo," ujar Indra sambil merilik ke arah sekitarnya.


"Sialan lo muka gue ganteng gini lo bilang horor," sahut Ridho menoyor kepala Indra dan bersamaan dengan itu guru pun masuk ke kelas itu yang membuat keadaan yang semula ricuh menjadi diam menatap sang guru di depan.

__ADS_1


* * *


Jangan lupa tinggalkan jejak ...


__ADS_2