Hijrah di Jalan Allah

Hijrah di Jalan Allah
Kembali kehilangan


__ADS_3

Pria itu menghembuskan nafas kasar. Sesekali melirik kearah pintu ruangan itu. Tetutup.


Kenapa lama sekali? pikirnya cemas.


Orang-orang berlalu lalang dan suara tangisan entah dari mana asalnya membuatnya tak tenang.


Semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan istrinya.


Bau obat yang menyengat menganggu indra penciumannya. Pria yang biasa dipanggil Ridho itu sangat benci sekali dengan tempat ini.


Rumah sakit adalah tempat Mamanya mengembuskan nafas terakhirnya. Ridho masih ingat itu. Bayangan sang Mama terlintas di benaknya. "Ma."


Pria itu menerawang sembari meneteskan air mata. Dalam hati ia berdoa semoga Mamanya tenang di alam sana.


"Dengan suaminya Ibu Rahma?"


Ridho menoleh. Wanita berjas putih menatap ke arahnya.


"Iya. Saya suami Rahma, Dok."


Lantas ia berdiri mendekati wanita yang baru saja keluar dari ruangan istrinya.


"Bagaimana keadaan istri, Saya? Apa yang terjadi dengannya? cecarnya.


"Silahkan masuk ke ruangan Saya. Ada yang ingin saya bicarakan dengan, Anda."


Ridho mengikuti dokter itu. Langkahnya kaku seiring dengan detak jantungnya tak menentu. Ia takut terjadi hal buruk yang menimpa istrinya.

__ADS_1


"Kenapa dengan istrinya Saya, Dok?" Sekali lagi Ridho bertanya setelah berada di ruang dokter itu.


"Begini, Pak. Istri Anda ..." Dokter itu menjeda.


Ridho menunggu dengan tak sabar. Dari raut wajah sang dokter yang menangani istrinya itu ia tau ada hal yang tidak diinginkannya terjadi.


"Istri Anda hamil."


Ridho mencoba mencerna kembali kalimat dokter itu. Apa katanya istrinya hamil. Itu sesuatu yang menggembirakan bukan lalu mengapa raut wajah dokter itu seperti itu?


Ridho menarik sudut bibirnya. "Benar istrinya saya hamil, Dok?"


Binar matanya tampak bahagia. Namun, binar itu pudar saat sang dokter melanjutkan lagi kalimatnya.


"Tapi janin dalam kandungannya tidak bisa diselamatkan."


"Maafkan kami, Pak. Janin dalam kandungan istrinya Anda sangat lemah jadi sedikit goncangan saja mengakibatkan keguguran."


Dokter itu terlihat merasa bersalah. Tapi, ia sudah berusaha semaksimal mungkin. Lalu ia harus bagaimana? Ini semua kehendak tuhan. Ia tidak bisa berbuat apa-apa.


Lagi-lagi Ridho meneteskan air mata. Ia kembali kehilangan. Sedih, kesal, dan marah bercampur jadi satu.


Ridho menggeram frustasi. Kenapa semua ini bisa terjadi?


Ah ya. Dia ingat ini semua gara-gara si brengsek Doni. Ia akan membunuh lelaki bajingan itu sekarang juga.


Ridho berjalan tergesa-gesa. Wajah lekaki bajingan itu seakan tertawa di pikirannya. Akan ia habisi lelaki itu sekarang juga.

__ADS_1


Namun, wajah polos sang istri tiba-tiba terlintas di otaknya seiring langkahnya terhenti. Pria itu berbalik menuju ruangan istrinya di rawat.


* * *


"Sayang."


Tetesan air itu jatuh lagi di matanya. Ridho menatap wajah yang tertidur itu. Pasti akan berat bagi istrinya jika tau ia baru saja kehilangan bayinya.


"Maafkan aku tidak bisa menjagamu dan bayi kita."


Ridho membelai pipi istrinya. Menatap wajah terlelap itu dengan sendu. Lelehan air tidak mudah ia hentikan di matanya. Ia menangis. Perasaannya sungguh kecewa. Mengapa ia harus kehilangan bayinya? Bahkan bayi itu belum ia ketahui keberadaannya.


Bagaimana jika istrinya mengetahui tentang fakta ini? Apa yang akan terjadi pada wanita itu? Apakah dia akan menyalahkannya?


Beberapa jam Ridho meratapi kesedihan lantas membuatnya tertidur. Ia lelah. Sangat lelah menangis.


* * *


Pukul empat pagi Ridho merasakan ada yang menepuk bahunya membuatnya terbangun dari tidurnya.


"Abang nggak sholat tahajjud?"


Ridho menatap wajah itu. Tersenyum manis. Apakah jika mengetahui semuanya senyum itu masih tetap ada?


"Bang?"


Ridho terkesiap lalu membalas senyum itu. Mencoba melupakan kesedihannya sejenak.

__ADS_1


"Iya Sayang."


__ADS_2