
Ridho melongo saat istrinya meletakan sebuah ampop coklat tebal di telapak tangan kanannya. Ia menyerngit heran. "Apa ini?" tanyanya tak mengerti.
Rahma terdiam sejenak. Memikirkan kata-kata yang akan di ucapkannya agar pria yang duduk di depannya itu tidak tersinggung. "I-itu." Tenggorokannya tercekat. Bagaimana harus menjelaskannya? Ia takut suaminya itu marah. Dan menganggap seolah-olah telah diremehkan oleh istrinya sendiri.
Tanpa menunggu kelanjutan jawaban wanita itu. Ridho membuka amplop coklat tebal di tangannya. Matanya terbelalak melihat kertas merah ratusan ribu yang berada dalam ampop itu. "Untuk apa ini?"
Dengan cepat ia mengembalikan amplop itu ke tangan istrinya. "Aku tau kamu berniat membantuku. Tapi tolong biarkan aku berjuang sendiri." Seolah tau apa yang ada dipikiran sang istri.
Ridho berdiri lalu pergi menuju kamarnya. Membanting pintu kamar agak kuat hingga membuat Rahma terlonjak. Apakah suaminya itu marah?
Dengan perasaan tidak menentu Rahma menyusul Ridho ke kamar.
"Bang?"
Panggilan itu sudah keluar dari mulut Rahma. Panggilan yang baru beberapa bulan ini berubah untuk pria yang tengah berbaring di atas kasur. Pria itu memejamkan matanya. Membuat Rahma berpikir apakah pria itu telah tidur? Apakah secepat itu suaminya itu terlelap? Tidak mungkin bukan.
Dengan sedikit takut Rahma duduk di atas kasur. Lalu menarik lengan suaminya. "Bang?" Yang hanya dibalas deheman pelan dari Ridho.
"Marah?"
Tak ada jawaban dari pria itu membuat Rahma sedikit kesal. Apakah salah ia membantu suaminya sendiri. Bukankah tidak terlalu berlebihan jika suaminya itu marah padanya. Padahal kan maksudnya baik.
"Bang?"
Lagi-lagi hanya deheman pelan yang keluar dari mulut pria itu. Rahma berdecak. "Bang maaaf," rengeknya.
__ADS_1
Ridho menarik sudut bibirnya. "Oke aku maafin, tapi ada syaratnya," ujarnya menyeringai jahil.
"Syarat?"
Alis Rahma bertaut. Perasaannya menjadi tidak enak saat melihat seringai jahil dari wajah tampan itu.
"Emang harus pake syarat-syarat segala?"
Rahma tak habis pikir makin hari tingkah suaminya itu makin aneh saja menurutnya.
"Mau dimaafin nggak?" Ridho tampak sengaja membuat wanita itu semakin kesal. Sepertinya menyenangkan juga. "Kalo nggak mau yaudah aku tetap marah," lanjutnya.
"Oke-oke," jawab Rahma cepat. "Apa syaratnya?" tanyanya.
Keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Suasana mendadak tegang. Dan pada akhirnya pria itu bersuara.
"Tidur."
Krik krik krik krik
Suara jangkrik pun berbunyi. "Apa?"
Ridho menarik istrinya hingga berbaring di samping kanannya. "Tidur," ulangnya. Melingkarkan tangannya di pinggang sang istri dengan erat. Hingga aroma tubuh wanita itu sangat jelas tercium di indra penciumannya. "Sudah larut malam. Tidur dan pejamkan matamu." Mengecup singkat kening sang istri lalu memejamkan matanya.
Rahma menghela nafas lega. Syukurlah pria itu hanya menyuruhnya tidur. Dan pada akhirnya ia menggumamkan sesuatu di telinga suaminya. "Suami yang baik," pujinya dengan nada pelan. Membalas memeluk sang suami dan ikut memejamkan matanya.
__ADS_1
* * *
Kendaraan roda empat berlalu lalang di tengah kepadatan ibu kota. Polusi udara bertebaran di jalanan membuat seorang nenek tua yang hendak menyebrang terbatuk-batuk. Rahma yang baru saja turun dari taksi mendekati nenek tua itu. Menawarkan bantuan agar nenek tua itu menyebrang bersamanya.
Rahma memberi salam yang langsung dijawab oleh nenek tua itu. Lalu menawarkan bantuan. Nenek tua itu menganggung setuju tampak bersyukur ada yang membantunya menyebrang. Maklum karna sudah tua ia agak takut menyebrang. Matanya juga udah mulai agak rabun.
"Terimakasih Cu."
Rahma tersenyum lalu mengangguk. "Sama-sama, Nek," balasnya. "Nenek udah makan?" tanyanya. Nenek itu terdiam lalu menjawab belum dengan ragu-ragu. "Ayo ke dalam," ajaknya melirik pintu restoran miliknya. "Ada banyak makanan di dalam."
"Ta-tapi Cu. Saya ..." Nenek itu menjeda kata-katanya. "Saya nggak punya uang," ujarnya kemudian.
"Jangan khawatir." Rahma melebarkan senyumnya. "Spesial untuk nenek makanan apa saja yang ada di sana gratis. Nenek boleh makan sepuasnya."
* * *
Satu piring makanan sudah habis tandas. Nenek tua yang duduk di hadapan Rahma tampak kekenyangan. Air putih di dalam gelas ia teguk habis. Tampaknya nenek tua itu bukan hanya kelaparan, tapi juga kehausan. Rahma meringis. Mengingat nenek tua itu bilang dia ditinggalkan di jalanan beberapa hari yang lalu oleh cucunya sendiri. Sedih melihat nasib nenek tua itu. Entah siapa orang yang tega menelantarkan neneknya sendiri seperti ini.
* * *
.
.
.
__ADS_1