Hijrah di Jalan Allah

Hijrah di Jalan Allah
Pindahan


__ADS_3

"Nah ini dia rumah baru kita."


Dengan antusias Ridho mengeluarkan sebuah kunci lalu memberikan pada istrinya.


"Aku cuma bisa beli rumah kayak gini doang. Gak pa-pa ya."


Rahma menoleh. Kunci rumah itu sudah beralih ke tangannya. "Menurutku ini sudah bagus. Aku suka kok." Rahma memutar kunci lalu pintu terbuka.


Kaligrafi Allah dan Muhammad yang Rahma tangkap saat masuk. Rumah ini bersih dengan dinding berwarna biru muda. Ada sofa melingkar di ruang tamu dan ada Tv juga.


Saat Rahma melangkah lebih dalam lagi ternyata rumah itu hanya ada dua kamar. Dan dapur yang ukurannya tidak seberapa.


"Nanti malem kita makan di luar ya." Ridho tersenyum menggoda. " Semacam dinner gitu," ucapnya.


Rahma tampak berpikir. "Hemm gimana ya," jedanya.


Hal itu membuat Ridho cemberut. "Ayolah, Yang," rengeknya. Menggoyang-goyangkan lengan Rahma hingga pakaian yang lagi dilipatnya berserakan di lantai.


"Iya iya." Rahma mengalah. "Tapi beresin ini dulu," memungut pakaian di lantai lalu memberikannya pada Ridho.


"Mana bisa aku rapiin ini, Yang." Ridho mengacungkan kaosnya di udara.


"Lalu kamu bisanya apa?"


Wanita itu meraih kaos yang diacungkan itu lalu melipatnya lagi.


"Godain kamu."


Ridho mencubit pipi Rahma lalu kabur begitu saja. Hal itu membuat Rahma geleng-geleng kepala. Suaminya itu kelakuannya masih saja kayak bocah. Pantas saja sampai sekarang mereka belum dikaruniai anak. Mungkin suaminya belum cocok jadi ayah. Pikirnya.


Rahma menepuk kepalanya pelan. Tentu saja yang di pikirannya itu tidak benar. Masalah dapet anak kapan udah diatur oleh Tuhan. Ia harus punya banyak kesabaran.


Rahma rebahan setelah selesai merapikan semua pakaian ke lemari lalu terlelap.


* * *

__ADS_1


Rahma mengerjabkan matanya beberapa kali. Ia lirik jam di nakas ternyata sudah jam empat sore. Berarti tidurnya lumayan lama juga. Pikirnya.


Rahma duduk lalu beranjak dari tempat tidur. Tujuannya sekarang kamar mandi. Membersihkan diri lalu berwudhu untuk melaksanakan sholat ashar.


"Shadaqallahul'azhiim..."


Rahma menutup kitab suci setelah selesai ia baca. Lalu pikirannya mengarah kepada pria yang telah mendampinginya satu tahun ini. Kemana pria itu? Mata Rahma menjelajah kesegala penjuru. Tak ada sosok itu.


Rahma berdiri. Merapikan mukena dan meletakannya bersama kitab suci di atas nakas. Lalu keluar kamar menuju ruang tamu mencari pria itu. "Tidak ada."


Menghela nafas sejenak wanita itu berjalan ke dapur. Air putih yang ia butuhkan sekarang. Tenggorokan kering membuatkannya ingin minum.


Langkah Rahma terhenti melihat punggung itu. Ternyata pria itu di sini. Ngapain dia di dapur?


Merasa ada yang mengawasi Ridho menolehkan kepala. "Sayang udah bangun?"


Rahma mengangguk, melanjutkan langkahnya menuju dispenser.


Setelah minum Rahma bertanya, "Abang ngapain di dapur?"


"Emang Abang bisa masak?"


"Bisa dong."


"Masak apa emang?"


Ridho berbalik. Dengan bangga ia memamerkan masakannya. Dua piring yang telah diisi dengan makanan itu ia bawa menuju meja makan.


"Mie instan?"


Kening Rahma berkerut. Masak mie instan siapa aja juga bisa kali. Pikirnya.


"Dimakan dong, Sayang." Ridho bersuara. "Aku masaknya pake cinta lho."


Rahma tersenyum. Tak mau menyinggung perasaan suami ia memakan indomie yang dimasak pake cinta katanya itu.

__ADS_1


"Enak?"


Rahma meneguk air. "Hmm."


Merasa tidak puas dengan jawaban Rahma. "Cuma hmm doang?"


"Enak banget, Sayang..."


Jawaban itu yang Ridho inginkan. Matanya berbinar dan tersenyum kelewat lebar.


Rahma terkikik geli. "Jangan kayak gitu senyumnya!"


"Kenapa?"


"Kalo kayak gitu Abang kayak badut."


Senyum Ridho pudar. "Mana ada kayak badut," menelan indomie yang telah ia kunyah. "Kalo kayak badut mana mungkin kamu mau," ucapnya.


Rahma nyengir. "Kalo cinta meskipun kayak badut nggak masalah."


Ridho tersenyum lagi. Kali ini tidak selebar tadi. "Kamu cinta sama aku?"


"Menurut Abang?


"Menurut aku..."


Ridho menampilkan gigi putihnya. "Kamu cintanya sama badut."


Ridho tertawa sampai indomie yang ia makan muncrat ke atas meja.


"Iih Abang jorok."


Hanya itu yang bisa Rahma katakan. Entah kenapa ia tidak suka melihat pria itu tertawa seperti mengejeknya.


Tolong tinggalkan jejak ...

__ADS_1


__ADS_2