
Di balik wajah teduhnya, Rahma tersenyum kepada segerombolan anak panti yang bersorak gembira karena kedatangannya. Bergiliran mereka bersalaman, mencium punggung tangan wanita itu seperti biasanya.
"Udah lama nggak ke sini kak." anak remaja yang berumur sekitar 11 tahun mendekati Rahma. "Kemana aja?" tanyanya. Lalu ikut duduk di samping wanita itu.
"Maaf kakak baru bisa ke sini sekarang," balasnya.
Melihat tatapan menerawang wanita yang ia anggap kakak kandung sendiri itu, remaja bernama Jio itu bertanya lagi. "Ada masalah apa, Kak?"
Rahma menoleh, sedikit terkejut dengan pertanyaan Jio. Dari mana anak ini tau.
"Aku tau Kakak ada masalah." Jio kembali bersuara. "Nggak biasanya Kakak murung seperti ini."
"Kalo Kakak nggak keberatan, Kakak bisa cerita sama aku."
"Beberapa minggu lalu Kakak masuk rumah sakit," ujarnya mulai bercerita. "Waktu itu Kakak pingsan." Ia menjeda sebentar. "Pas Kakak bangun, Bang Ridho bilang Kakak keguguran." Suaranya tercekat, sakit rasanya kehilangan anak yang bahkan keberadaannya belum diketahui sebelumnya. Jika ia tahu bahwa waktu itu lagi hamil, ia akan menjaganya dengan baik. Ia akan lebih berhati-hati.
Andai saja wanita ini sedarah dengannya, maka Jio akan memeluknya sekarang juga. Tapi yang bisa ia lakukan hanya menenangkan lewat kata-kata. "Kakak yang kuat ya, semua yang terjadi pasti hikmahnya."
__ADS_1
"Mungkin nanti Kakak bisa dapat ganti yang lebih baik, lebih sholeh, lebih tampan seperti aku ini."
Rahma tergelak mendengar celotehannya. Ia akui wajah anak ini memang rupawan. Jio kecil sekarang sudah menjelma menjadi sosok remaja tampan yang tingginya sudah menyamai dirinya.
***
"Ini serius, Pak. Saya naik jabatan?" Laki-laki yang hampir berusia 25 tahun itu tampak tidak percaya. Ia membaca lagi surat di tangannya dengan lebih teliti. Benar surat itu menyatakan bahwa ia diangkat menjadi Direktur di perusahaan ini.
"Selama ini kerja kamu sangat bagus, sudah sepantasnya kamu dapat jabatan itu."
"Lagian ini cuma perusahaan kecil. Saya rasa kamu bisa mendapatkan pekerjaan di perusahaan yang lebih besar dari ini."
"Apa kamu keberatan dengan posisi itu?"
Ridho menggeleng, ia sama sekali tidak keberatan tapi bagaimana dengan Direktur yang lama?
"Tenang Pak Yudi sudah saja pindahkan ke kantor cabang dengan posisi yang sama."
__ADS_1
Oh syukurlah. Ia tidak mau Pak Yudi memusuhinya gara-gara jabatan ini.
"Jadi gimana apakah kamu menerima posisi itu?"
Bismillah. Dengan mantap Ridho menjawab," Insya allah saya terima, Pak."
Hans tersenyum. "Terima kasih. Sekarang kamu sudah resmi menjadi Direktur perusahaan, selamat," ucapnya sembari menjabat tangan Ridho di depannya.
***
Sepulang dari kerja Ridho menyempatkan diri ke toko bunga. Seingatnya ia tidak pernah memberi wanita kesayangannya bunga seperti laki-laki pada umumnya. Tidak ada salahnya kali ini ia membelinya.
Sempat ia pusing memilih bunga yang berjejer rapi. Tidak tau mana yang disukai istrinya. Tidak tau juga apakah istrinya itu suka bunga atau tidak.
Lama ia bengong tidak jelas akhirnya pria itu memilih bunga yang sempat mencuri perhatiannya. Bunga lily putih yang sangat cantik. Diikat rapi dengan pita warna pink. Mudah-mudahan Rahma suka, batinnya berdoa.
"Yang ini berapa, Mbak?" tanyanya pada penjaga toko yang tampak bosan menunggu. Untung saja wajah Ridho tampan jadi ia bisa menelan kekesalannya.
__ADS_1
"Lima puluh ribu, Mas."
"Oke saya ambil yang ini ya." Setelah membayar Ridho berlalu pergi. Rasanya tak sabar memberikannya kepada Rahma. Pengen cepat-cepat pulang.