Hijrah di Jalan Allah

Hijrah di Jalan Allah
Kesedihan itu masih ada


__ADS_3

Pagi ini, seperti biasa Ridho sudah siap dengan setelan kerjanya, sisa kesedihan pria itu sebenarnya masih ada walau tidak seberapa dibanding beberapa minggu lalu. Kemarin Indra mengabarkan bahwa pemuda itu dan tiga temannya sudah memberikan pelajaran pada Doni. Semoga saja musuhnya itu jera.


Di ruang makan terlihat istrinya sedang asik menata makanan untuk sarapan. Ia tersenyum, mendekat lalu melingkarkan tangan kekarnya di pinggang Rahma. Spontan saja wanita itu menoleh yang malah hal itu membuat Ridho berhasil mencuri cium di bibirnya.


Tubuh Rahma menegang, ia menatap Ridho yang tersenyum puas. Pipinya merah merona karna tindakan tiba-tiba itu, apalagi melihat wajah tampan itu. Ridho masih sama tampannya saat remaja dulu, hanya saja badan pria itu sedikit lebih berisi. Cukup ideal bagi pria dewasa, tidak kurus dan tidak pula gemuk.


"Udah liatinnya?"


Pertanyaan itu membuat Rahma sadar dari kekagumannya. Ia berdehem singkat serta mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Suamimu ini tambah tampan ya?" Ridho menangkup pipi Rahma agar menatap wajah tampannya lalu mengedipkan mata menggoda. Ia yakin istrinya ini pasti terpesona dengan ketampanan yang dimilikinya. Tapi, jawaban istrinya malah membuatnya ...


"Enggak! Kurang."


Apa?


Maksudnya kurang tampan gitu? Ah masa sih? Ridho merasa ketampannya malah bertambah menjadi tampan akut. Apa mungkin penglihatan Rahma bermasalah?


"Dah yuk sarapan!"

__ADS_1


Wanita itu menarik Ridho untuk duduk. Pagi ini ia memasak nasi goreng kesukaan Ridho tak lupa menaruh telur dadar mata sapi di atasnya.


"Yang?"


Belum sempat Rahma memasukkan nasi goreng ke mulutnya, panggilan Ridho membuat tindakannya terhenti lantas menoleh.


"Cium aku juga dong," nada suaranya sengaja dibuat manja dengan senyum lebar yang ia punya.


Jujur saja Rahma tidak ingin melakukannya, ia terlalu malu. Selama ini bisa diitung jari ia mencium Ridho. Hanya pria itu yang sering melakukan padanya.


"Di pipi aja sekali," ucap pria itu lagi sambil menunjuk pipi kanannya.


Cup


Ah akhirnya berhasil juga. Dekat-dekat dengan Ridho selalu semendebarkan ini. Tapi ia bahagia.


Ridho balas mengecup pipi wanita itu. "I love you, Sayang," bisiknya tepat di telinga Rahma lalu melanjutkan sarapan yang tertunda.


* * *

__ADS_1


"Bu Rahma!"


Rara mengejutkannya membuat Rahma tersadar dari lamunan.


"Ibu kenapa?"


Pertanyaan itu Rahma jawab dengan gelengan.


"Kalo ada masalah cerita aja sama aku, Bu."


"Enggak ada masalah apa-apa kok, Ra," agar lebih meyakinkan senyum paksa ia coba keluarkan.


Rara menghela nafasnya. Ia yakin bosnya itu ada masalah, tapi ya sudahlah kalo Rahma tidak mau menceritakan ia juga tidak bisa memaksa. Setelah itu ia pamit mengantarkan makanan ke meja pelanggan.


Restoran Rahma ini semakin lama makin rame saja. Bahkan tempatnya sekarang sudah menjadi dua tingkat dan lebih luas. Karyawannya juga bertambah. Rahma senang ia dapat membuka lapangan kerja bagi banyak orang. Kapan-kapan ia akan membuka cabang di kota lain.


Semakin banyak pendapatan semakin banyak juga ia membantu orang-orang yang membutuhkan. Rahma bahagia melakukannya. Ah sepertinya besok ia harus ke panti memberi donasi dan bertemu anak-anak. Semoga saja dapat menghilangkan rasa kehilangan ini. Rasa sedihnya.


Rahma berharap semoga saja ia diberi kesempatan lagi untuk memiliki anak. Ia juga ingin merasakan bagaimana menjadi seorang ibu.

__ADS_1


__ADS_2