
Troli bergerak saat di dorong seseorang. Pria muda yang sangat tampan itu mengikuti istrinya, terlihat sibuk memilih bahan-bahan dapur. Langkahnya terhenti saat ponselnya berdering. Ia memberikan troli pada wanita itu dan minta izin untuk mengangkat telepon.
"Mohon maaf, Mbak. Saya mau tanya! Jahe itu yang mana ya?"
Rahma menoleh pada pemuda di belakangnya yang tampak bingung dengan jahe dan lengkuas di tangan.
"Yang ini, Dek," jawab Rahma sambil menunjuk tangan kanan pemuda itu.
"Oh ini ya. Makasih ya, Mbak." Ia menaruh kembali lengkuas di tangan kiri ke tempatnya. Lalu memasukkan jahe ke dalam plastik sebelum ditimbang.
"Belanjanya sendiri, Mbak?" tanya pemuda itu lagi, seperti berbasa-basi.
"Kalo saya sih sendiri, Mbak. Tadi pagi Mami nyuruh saya belanja ke sini." Ia menghela napas berat. "Ternyata ribet juga ya," keluhnya.
Rahma hanya bisa tersenyum kaku. Pertanyaannya saja belum ia jawab, tapi orang ini sudah nyerocos lagi. Saat ia beranjak pemuda itu terus mengikutinya. Wanita itu terlihat risih.
"Namanya siapa, Mbak?"
__ADS_1
"Tinggal di mana? Pulangnya saya antar ya?"
Dan sekarang makin parah. Untungnya Ridho segera datang menyelamatkannya dari pemuda ini.
"Lo aja yang gue antar pulang! Pulang ke rahmatullah tapi!"
***
Di sisi lain, Ridho yang baru menutup telepon memicingkan mata saat melihat Rahma diikuti seorang bocah tengil. Langkahnya tergesa. Tidak ingin membiarkan bocah tengil itu terus berada dekat istrinya.
"Tinggal di mana? Pulangnya saya antar ya?"
"Lo aja yang gue antar pulang! Pulang ke rahmatullah tapi!"
"Eh?" Bocah tengil itu mengerjap, lalu menoleh bingung padanya.
Ridho mengambil alih troli yang dipegang istrinya. Lalu pergi dari sana sambil menggengam tangan wanita itu.Tidak mempedulikan raut terkejut di wajah si tengil.
__ADS_1
"Semuanya udah lengkap 'kan?" tanya Ridho saat sampai di dekat kasir. Rahma mengecek barang-barang sekali lagi. Saat merasa ada yang ia lupakan, wanita itu beranjak pergi.
***
Ridho mengerutkan kening saat melihat apa yang dibawa istrinya. "Untuk apa ini?" tanyanya, setelah memperhatikan benda di tangan istrinya.
"Biasanya alat ini untuk apa?" tanya Rahma balik sambil menatap suaminya.
"Tes kehamilan," jawabnya pelan.
"Itu Abang tau." Rahma menyerahkan benda di tangannya pada kasir. Ridho menatapnya sedih. Ia tau istrinya itu mengharapkan seorang anak. Lagi.
"Kalo hasilnya gak sesuai keinginan jangan kecewa ya!" Ia mengusap kepala istrinya, menciumnya sekilas tanpa mengiraukan tatapan mata dari orang-orang yang antri termasuk bocah tengil tadi.
"Kalo mau mesra-mesraan liat tempat dong," celetuk bocah itu sambil memalingkan wajah. Andai saja ia punya istri pasti juga lebih dari itu. Sayangnya Mami melarangnya menikah sebelum lulus kuliah. Mau pacaran, tapi takut dosa. Terpaksa ia harus jadi jomblo sejati.
"Syirik aja nih bocah," balas Ridho menatapnya tajam. Rahma mengusap tangannya agar tidak emosi. "Sabar," bisiknya.
__ADS_1
"Iya, Sayang." Ia mencium pipi istrinya itu yang membuat aura panas memekat di udara. Setidaknya begitu yang dirasakan bocah tengil di belakangnya.
Mami carikan anakmu istri, Bocah itu meringis. Bagaimana pun caranya ia harus membujuk Maminya agar menikahkannya dengan anak tetangga. Ia tidak sanggup lagi tersiksa seperti ini.