
"Iya sayang. Maaf terpaksa jujur sama kamu. Sejak SD, aku terkena kanker ginjal di sebelah kiri. Dann..Ga tahu kenapa, kankerku ga pernah kambuh selain ketika melihat kamu sama Kak Bim, atau mendengar namanya," jelas Adam yang membuat hatiku bak disambar petir.
"Jadi, selama ini kamu menyembunyikannya dariku?" tanyaku dengan hati yang tak karuan.
"Maaf, sayang. Akuu..hanya tak ingin membuatmu khawatir," jawab Adam.
Kufikir, Adam adalah makhluk sempurna tanpa kekurangan. Ternyata Adam punya kekurangan yang aku sulit menerimanya. Air mataku tak bisa berhenti. Aku baru sadar, tidak ada manusia sempurna di dunia ini. Semua orang pasti punya kekurangan.
Aku memeluk Adam, tangisku membasahi seragamnya di bagian pundak kanan.
"Aku tidak mau kehilangan kamu, sayang. Kamu harus sembuh. Aku yakin kamu bisa. Tidak ada yang tak mungkin bagi Allah. Aku janji tidak akan menyebut nama dia lagi di depanmu. Aku tak mau sakitmu kambuh lagi," ucapku berusaha menguatkannya.
Adam melepas pelukanku & mengusap air mataku.
"Kamu tidak usah risau, sayang. Aku rajin memeriksakan diri ke dokter & selalu patuh minum obat. Aku sedang menjalani obat jalan. Kuharap, kamu selalu menguatkanku sayang. Kau ingat sejak aku mulai mengajakmu bicara & menguatkanku, pertama kali di kelas? Sejak saat itu, sakitku tak pernah kambuh lagi. Seolah ada keajaiban yang datang, sejak aku dekat & bersahabat denganmu. Hanya saja, dulu aku belum punya dana untuk ke dokter. Tapi, semenjak satu sekolah membantuku, alhamdulillaah keadaanku membaik. Dan semua bantuan itu, tiada lain karnamu. Aku juga tak mau kehilangan wanita sehebat kamu," kata-kata Adam mulai menenangkanku.
Kamipun beranjak pulang. Di perjalanan, dalam hati aku berkata, "Semoga Allah menyembuhkanmu, Adam. Kamu harus sembuh. Aku akan selalu berusaha untuk itu. Dan jika kelak kau sembuh, aku harap, aku bisa menjadi bagian dari penyebab kesembuhanmu. Aamiin."
.
***
__ADS_1
Kusingkapkan tirai jendela kamarku & kubuka jendela. Mentari yang hangat, sinarnya menyemangati jiwa-jiwa pekerja di kota Jakarta. Jam menunjukkan pukul 07.00 pagi. Kebetulan aku sedang libur sholat sehingga aku sengaja bangun siang.
Ya, hari ini adalah hari pertama libur sekolah. Aku sengaja tidak pulang ke Garut karena seminggu ke depan ada tugas dari Kepala Sekolah. Yakni, memantau perkembangan pembangunan rumah Adam dan membuat laporannya. Sehingga, aku punya banyak kesempatan mengobati rinduku pada Adam. Karena, seminggu setelahnya aku harus pulang ke Garut dan tidak bisa berkomunikasi dengan Adam, kecuali diizinkan ke warnet oleh Papa Mama untuk inbox-an dengan Adam.
Kucuci mukaku yang sembab karena menangis semalaman & menggosok gigi. Lalu, ku berniat mengambil ponsel untuk SMS-an dengan Adam. Namun, tiba-tiba ponselku mati & tidak bisa dinyalakan lagi. Huh, mungkin sudah umurnya. Tidak terasa HP itu udah 2 tahun kupakai.
"Makan dulu, sayang!" panggil bibi dari ruang makan.
"Iya, Bi!" jawabku sambil meletakkan HP itu & berjalan menuju ruang makan.
.
"Kamu sudah SMS Adam, nanti ke rumahnya jam berapa?" tanya bibi sambil mulai memakan nasi.
"Ya sudah, tenang saja. Nanti, bibi belikan yang baru dan yang lebih canggih. Bisa live streaming di instagram, haha," ujar Bibi terkekeh.
"Haha, Bibi bisa aja. Jadi Bibi gaul. Terimakasih banyak, Bi," ujarku.
"Sama-sama. O ya, nanti kamu ga usah naik bus, ya. Om Dewa akan jemput kamu. Pamanmu sudah menelefonnya sebelum berangkat kerja, soalnya beliau belum libur," jelas Bibi.
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum senang.
__ADS_1
.
***
Sesampainya di halaman rumah Adam.
"Sayang, kamu kemana aja? Aku telfon ga diangkat, SMS ga dibales. Aku tuh kangen kamu tahu," ucap Adam sambil memencet hidungku sampai kemerahan.
"Aduuh. Sakiit tahu! Belum juga ucap salam, udah diinterogasi. HP ku rusak. Tapi, Bibiku janji mau beliin yang baru." Aku berusaha menampakkan senyum terbaikku.
Lalu, Adam bersalaman dengan Om Dewa dan mencium tangan beliau. Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki dari dalam rumah yang tak lain adalah ibunda Adam. Nama beliau ialah Bu Ratih. Aku mengucap salam dan mencium tangan beliau.
.
"Mari masuk," ucap beliau sembari tersenyum indah, senyuman dari pancaran wajah seorang ibu berjilbab lebar.
Kamipun mengangguk lalu masuk & duduk di kursi tamu. Ibu Adam masuk ke dapur, lalu beberapa menit kemudian membawa minuman & beberapa camilan ke meja tamu. Lalu beliau duduk & bercerita banyak padaku. Bahwa selama ini Adam sudah bercerita bnyak tentangku. Beliau juga menyuruhku memanggil beliau dengan sebutan "Bunda" agar lebih dekat. Sesekali, aku juga mengajak beliau bercanda. Dan, dalam sekejap akupun sangat akrab dengan beliau. Pak Dewa & Adam bercakap-cakap membahas ilmu bela diri. Hari ini begitu indah.
.
***
__ADS_1
Bersambung.