
Tidak terasa, liburanku tinggal seminggu lagi. Artinya, sudah 3 minggu aku menghabiskan waktuku di rumah. Aku telah selesai membaca 2 novel karya Kak Sam. Ending novel brjudul "Go Hijrah and Move up!" berakhir bahagia. Dimana, sang tokoh menikah dengan seorang wanita sholihah yang selalu setia hadir di masjid & mendengarkan ceramah sang tokoh. Dan ternyata, wanita tersebut adalah mantan pacar sang tokoh, yang dahulu mereka putus karena sama-sam berniat ingin berhijrah. Di halaman terakhir novel "Go Hijrah and Move up!", penulis memberikan pesan seperti ini :
.
"Pacaran itu hanya membuat kita rugi. Sudah nabung dosa, ditambah belum tentu jodoh kita. Makanya, yuk move up! Move up (menurut penulis) berarti bangkit dari sakit hati dan tak akan mengulangi untuk pacaran lagi. Jangan move on, karena move on berarti kita sembuh dari patah hati tapi ujung-ujungnya pacaran lagi. Ya, itu namanya bukan hijrah. Udah, yuk! Lupakan mantan! Cari ridha Allah, memantaskan diri dan menyendiri dalam keta'atan. Daripada bersama dalam kemaksiyatan. Setuju? Go Hijrah and Move up!"
.
.
Karena novel Kak Sam, aku sudah sangat mantap untuk tidak mengulangi dosa pacaran lagi.
Novel Kak Sam yang satunya, yang berjudul "Hijabku Mahkotaku" mengisahkan tentang seorang wanita yang dulunya suka berpakaian seksi kemudian mendapat hidayah, sehingga ia memutuskan untuk berhijab syar'i. Ketebalan novel "Hijabku Mahkotaku" hanya setengah dari ketebalan novel "Go Hijrah and Move up!". Sehingga, aku hanya membutuhkan waktu seminggu untuk membaca novel "Hijabku Mahkotaku". Novel karangan Kak Sam selalu disertai dalil-dalil Al-Qur'an dan Hadits, termasuk dalil tentang hijab. Ternyata selama ini pakaianku salah. Memang sudah berjilbab, tapi pakaianku blm sesuai syari'at. Pakaian syar'i yang benar adalah gamis yang longgar & jilbab yang menjulur sampai ke dada. Novel Kak Sam buatku berniat merubah penampilan.
.
Siang ini, Papa dan Mama sedang sibuk dengan laptop mereka masing-masing di ruang tengah. Aku mendekati mereka & memberanikan diri bertanya.
"Pa, Ma. Boleh gak Annisa meminta dibeliin pakaian syar'i? Anjisa rasa, apa yang selama ini Annisa pakai, tidak mencerminkan pakaian seorang muslimah," ucapku menunduk, memandang kaos lengan panjang & celana pensil yang kupakai.
Papa mendekatiku.
"MaasyaaAllaah, Nak. Akhirnya kamu sadar juga. Ini yang Papa tunggu-tunggu sejak dahulu," kata Papa sambil mengelus kepalaku.
Aku mendongakkan kepala, kulihat mata Papa telah berkaca-kaca, mencerminkan rasa haru bahagia dari semburat wajah beliau. Mama mendekatiku dan memelukku. Kudengar isak tangisnya.
__ADS_1
"Kamu tahu, sayang? Papa sama Mama sengaja tidak memaksamu perihal pakaianmu. Sepanjang masih berjilbab, kami membiarkan. Kami menunggu kamu mencari jati dirimu sendiri dan mencari kebenaran. Itulah tujuan kami menempatkanmu di kos Bu Sintia. Di sana, banyak yang berpakaian syar'i dan kami harap kamu sadar dengan sendirinya. Tapi, kami kecewa karena kamu belum berubah pikiran. Sakarang, setelah Allah menurunkan hidayah-Nya, akhirnya kamu meminta juga. Alhamdulillaah," jelas Mama yang sangat membuatku terharu.
Tangisku pun pecah di pelukan Mama.
.
***
Keesokan harinya.
*Ting-tong.
Bel rumah berbunyi, pertanda ada tamu. Aku melangkah menuju pintu dengan perasaan yang sangat gembira. Kubuka pintu. Benar dugaanku, kurir kantor pos yang membawa barang pesanan Mama.
"Ini Mbak, pesanannya," kata sang kurir sambil meletakkan plastik besar ke lantai.
"Oh iya, Pak. Makasih," ucapku sambil tersenyum riang.
"Sama-sama. Silakan tanda tangan disini, Mbak," kata kurir sambil menyerahkan secarik kertas & sebuah pulpen padaku.
Aku menandatangani surat tanda terima, lalu mengembalikan kertas & pulpen pada kurir itu. Lalu, kurir pun berlalu dari hadapanku. Aku mengangkat plastik yang berisi pakaian syar'i yang dipesankan oleh Mama semalam. Tapi, keberatan. Tak lama kemudian, Mama menghampiriku & membantuku mengangkat plastik itu. Seolah Mama sudah tahu kalau aku sedang membutuhkan bantuan.
.
***
__ADS_1
Tok-tok-tok!
Pintu kamarku diketuk. "Hoamh," aku menguap, lalu membaca do'a sesudah tidur.
Dengan langkah gontai, aku melangkah ke pintu & membuka kanopi nya. Terlihat, Mama sedang berdiri di hadapanku.
"Sholat subuh dulu. Trus mandi & siap-siap," perintah Mama.
"Siap-siap kemana, Ma?" tanyaku sambil mengucek-ngucek mata.
"Kamu lupa, ya? Tadi malam Mama udah bilang 'kan kita ikut kajian Al-Qur'an & As-Sunnah di pusat kota," jawab Mama.
"Oh iya! Wah, pake baju baru ni, Ma. Alhamdulillaah," syukurku.
Kantukku pun hilang, teringat pakaian syar'i yang pertama kalinya akan kupakai hari ini. Semalam, aku sudah coba satu per satu baju syar'i yang dibelikan oleh kedua orang tuan ku.
.
Aku segera melaksanakan kewajiban 2 raka'at, lalu bergegas mandi. Tak lama kemudian, aku sudah rapi dengan balutan gamis berwarna ungu tua & hijab lebar setangan warna senada. Aku menatap cermin.
"Annisa yang sekarang bukan Annisa yang dulu. Annisa mau hijrah yaa Allaah. Bismillaah," ucapku lirih.
.
***
__ADS_1
Bersambung.