
Setelah kembali ke kelas dari ruang Bu Dosen, aku mengikuti mata kuliah jadwal terakhir seperti biasa. Tidak banyak pembahasan, hanya mengerjakan beberapa latihan soal. Lalu, kami pulang. Seperti biasa, aku pulang bersama Vina.
.
"Kamu gak usah fikirkan apa yang dikatakan Dara tadi, ya? Bukankah sifatnya memang begitu?" kataku yang telah berdiri di samping Vina, di dekat tulisan besar "Universitas Gajah Mada".
Vina hanya mengangguk. Aku sengaja menemani Vina untuk menunggu angkot hari ini. Tiba-tiba, si centil Dara keluar dari kampus & menghampiri kami.
"Liat aku, Vin! Aku bisa beli baju baru, karna baju yang ditumpahi soto sama Annisa udah kubuang ke tempat sampah. Aku bisa beli & memakainya dalam waktu sehari. Bahkan setiap hari, aku bisa beli! Iyalah, orang kaya! Sedangkan kamu?" hardik Dara sambil melotot ke arah baju yang dikenakan Vina.
Aku & Vina hanya terdiam. Dara memang sudah tidak memakai baju yang tadi kutumpahi kuah soto. Tapi, dia mengenakan baju oranye tanpa lengan & baju itu memang terlihat baru.
"Kamu harus nabung sebulan buat beli baju satu. Haha! Orang miskin!" hardiknya lagi.
"Aku pastikan, kamu akan menyesal dengan ucapan kamu itu, suatu saat nanti!" kataku agak malas, bertemu si centil Dara.
Dara tak menanggapi & akhirnya pergi.
Tak lama kemudian, angkot datang & Vina pamit pulang. Aku pun berjalan menuju kosan. Aku sudah capai sekali. Aku duduk di ruang tamu untuk melepas lelahku. Lalu, Thea, teman satu kos ku yang beragama Kristen, datang dari dalam kos an & ikut duduk di ruang tamu. Gadis berkaca mata itu tersenyum padaku, lalu sibuk memainkan ponselnya.
"Baru pulang, Nis?" tanya Thea.
"Iya," jawabku.
"Kamu keliatan capek bangrt," kata Thea yang kini menatapku. Dia mengunci layar ponselnya.
"Iya. Tadi sempet nemuin Dosen Wali," kataku.
"Tumben. Ada apa?" tanya Thea, mengernyitkan dahi.
Aku pun menceritakan semua kejadian tadi siang, mulai dari Dara datang ke kantin sampai cerita keluar dari ruang Dosen.
"Ooh. Itu. Aku juga pernah liat caption dia di FB belum lama ini, tentang itu, yang kamu ceritakan tadi. Sebenarnya aku mau cerita sama kamu, tapi kita jarang ada waktu karna kesibukan masing-masing," kata Thea.
__ADS_1
"O ya? Mana coba liat? Aku belum pernah baca," tanyaku.
Thea mencari postingan Vina, lalu menyerahkan ponselnya padaku. Benar dugaanku, ts Vina diprivasi "Teman Kecuali". Sangat mungkin, salah satunya yang tidak dibolehkan melihat ts Vina yang ditunjukkan Thea, adalah nama akunku. Tapi aku lega, sekarang telah mengetahui semuanya.
"Ya udah, makasih ya. Aku mau ke kamar dulu," kataku sambil mengembalikan ponsel Thea.
.
***
Usai sholat 'Asar berjama'ah, seperti biasa aku membersihkan kamarku. Setelah selesai, aku ditugaskan Kak Rere untuk memanasi sayur & lauk yang kami buat tadi pagi. Saat sedang asyik menunggu sayur di kompor gas, dering tanda panggilan masuk di HP ku berbunyi. Aku merogoh kantongku, lalu membaca nama yang tertera di layar ponsel. Mama. Aku segera mengangkatnya.
"Assalaamu'alaikum, Ma," salamku.
"Wa'alaikumussalaam, sayang. Hiks...hiks.." jawab Mama di seberang sana, terisak.
"Mama kenapa nangis, Ma?" tanyaku khawatir.
"Apa???" tanyaku kaget. Aku ikut menangis.
"Iya. 'Kan Mama lagi sibuk urus acara tetangga kita. Dan di acara itu butuh sayur banyak. Trus Mama liat penawaran di sebuah link yang disuguhkan oleh seorang juragan sayur di Jogja," kata Mama.
"Jogja, Ma?" tanyaku kaget.
"Iya. Mama udah kirim uangnya kemarin lusa. Kata pemilik olshop, sayurnya sampai kemarin sore. Tapi sampai hari ini belum nyampe juga. Pas Mama cek, link nya udah gak ada. Kontak WA Mama juga diblokir," kata Mama.
"Astaghfirullaah... Trus Mama pake uang tetangga apa pake uang Mama sendiri?" tanyaku.
"Mama pinjemin dulu, sih.. Hiks.." kata Mama.
"Nama juragan itu siapa, Ma? Dan di mana alamatnya?" tanyaku.
"Pak Dirman. Alamatnya nanti Mama kirim lewat WA ya, sayang. Mama gak hafal," jawab Mama.
__ADS_1
"Pak Dirman???" tanyaku kaget.
"Iya. Kamu kenal, Annisa?" tanya Mama.
"Enggak sih, Ma. Cuma namanya sama kayak nama Papanya temen Annisa," jawabku.
"Coba kamu selidiki Papanya temenmu itu ya, sayang. Mama mohon. Mama pengen menjebloskannya ke penjara," pinta Mama.
"Baik, Ma. InsyaaAllaah, Ma. Yang sabar, ya. Ini ujian buat kita," kataku.
"Iya, sayang," kata Mama.
"Ma, aku tadi.." kataku.
"Iya, kamu tadi nyumbangin uang buat bapak temenmu 'kan? Dan pasti kamu minta uang saku lagi. InsyaaAllaah, nanti Mama kirim," potong Mama.
"Koq Mama tahu sih?" tanyaku sambil mengusap air mata.
"Dosen mu udah WA Mama tadi. Ya udah, Mama lagi sibuk. Udah dulu curhatnya. Assalaamu'alaikum," tutur Mama menutup telepon.
"Wa'alaikumussalaam, Ma," jawabku.
"Annisa! Awas gosong sayurnya!" teriak Kak Rere yang tiba-tiba mematikan kompor.
"Maaf, Kak. Lagi ditelefon Mama. Lagi ada masalah," jawabku.
Lalu, aku cerita pada Kak Rere & Kak Rere pun menghiburku.
.
***
Bersambung.
__ADS_1