
Aku mengusap air mataku & menuju cermin.
"Apakah seorg Annisa, seorang aktivis pacaran, bisa berubah menjadi wanita sholehah?" gumamku sambil menatap wajahku di cermin.
"Tak ada yang tak mungkin," kataku lagi sambil meletakkan HP di meja tempat kosmetikku.
Kusisir rambutku yang sudah mulai kering & menguncirnya. Lalu, kuambil jilbab di lemari & memakainya. Aku mengambil handukku dengan kasar, lalu melangkah menuju tempat jemuran. Kujemur handukku, & aku teringat sesuatu.
"Mbak Irma! Ya, aku harus menemui Mbak Irma untuk mengobati kegusaranku ini," batinku.
Aku menghampiri Papa yang sedang duduk di sofa ruang tamu & membaca koran.
"Pa? Boleh aku ke rumha Mbak Irma sebentar?" pintaku, meminta izin.
"Mbak Irma tidak di rumah, Nis. Dia sekarang kerja di Bekasi," jawab Papa.
"Ooh, ya sudah Pa," kataku sambil berlalu.
Aku menuju kamar & mengambil ponsel. Berniat chat WA Mbak Irma. Beruntung, dia sedang online. Namun, centang satu. Aku diblokir. Kemungkinan besar Mbak Irma sengaja menghindariku. Lebih tepatnya, menghindari Kak Sam. Karena aku sudah lama mengenal Kak Rere, mungkin Mbak Irma tahu kalau Kak Rere menceritakan semua hal tentang Mbak Irma selama aku di Jogja. Ah iya, Kak Rere! Aku segera chat WA Kak Rere & to the point. Kucurhatkan semua tentang penolakan Vina terhadap hijrahku. Tak lama kemudia, Kak Rere membalas.
"Yang sabar, Annia. Itu adalah ujian untuk hijrahmu. Itu belum seberapa, dibandingkan Rasulullah SAW. yang dilempari batu, bahkan disebut kaum kafir sebagai orang gila," balas Kak Rere.
Aku bernafas lega. Aku tak perlu ragu lagi dengan hijrahku.
"Annisa! Sarapan dulu, Nak!" teriak Mama dari ruang makan.
"Iya, Maa," jawabku sambil melempar HP ku ke kasur, sembarangan.
.
__ADS_1
***
Selama liburan, aku lebih bnyak meluangkan waktu untuk hal-hal positif. Membantu membersihkan rumput di halaman rumah, bersih-bersih, membantu Papa mengetik laporan, mijitin Mama, dan sebagai nya.. Pokoknya, segala hal yang bisa mengalihkan perhatianku dari chat an dengan ikhwan yang bukan mahram. Aku juga telah selesai membersihkan kontak ikhwan di HP ku. Terkait kepentingan kuliah, aku bisa menghubungi mereka lewat grup. Aku jg sudah menghapus semua kenanganku di sosmed bersama Bangkit, maupun Roy. Ah, kenangan Bangkit baru kuhapus sekarang karena sibuk dengan tugas kuliah. Di waktu senggang, aku menghabiskan waktuku untuk membaca novel Kak Sam.
Seperti siang ini, aku duduk di ruang tengah, sambil membaca. Bagian yang paling kusuka adalah ceramah sang tokoh yang mendamaikan hati. Diantaranya :
.
"Allah berfirman :
"Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu & sekali-kali janganlah setan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah. Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala". [QS. FAATIR (35) : 5 - 6].
Coba renungkan. Ketika antum memilih untuk pacaran, antum tahu bahwa syaithan adalah musuh yang nyata, tapi mengapa antum justru mengikutinya? Dan jika antum ditanya, ingin masuk surga atau neraka? Pasti jawab, ingin masuk surga. Tapi mengapa, jalan yang dipilih adalah jalan menuju neraka? Apakah kita merasa aman dari adzab Allah? Apakah dengan pacaran & melanggar aturan agama itu, antum merasa tenang-tenang saja? Merasa tidak mendapat peringatan Allah? Merasa Allah tidak melihat kita? Merasa Allah mengabaikan kita? Padahal, hal itu sudah tertulis di dalam Al-Qur'an,
"Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mrreka akan luput dari (azab) Kami? Amatlah buruk apa yang mreka tetapkan itu". [QS. AL-ANKABUUT (29) : 4]."
.
.
"Yaa Allaah, ampuni aku yaa Allaah. Hamba takut akan azab-Mu," kataku dalam hati sambil memejamkan mata.
Tiba-tiba, Mama datang & kubuka mataku.
"Kelihatannya, akhir-akhir ini kamu sibuk sama itu novel," kata Mama sambil mengambil novel Kak Sam & mengamati sampulnya.
"Ooh, bagus dari judulnya. Pengarangnyaaa..." kata Mama menggantung.
*Deg!
__ADS_1
Gimana kalo Mama tahu bahwa pengarangnya itu keponakannya yang selama ini kabur?
"Samsul 'Abdurrahman," gumam Mama sambil masih mengamati novel itu.
"Hmmh, nama yang sama dengan Kak Sam ya Nak," sambung Mama sambil meletakkan novel itu ke meja lagi.
"I-iya Ma," sahutku gugup.
"Mudah-muduhan dia baik-baik aja ya Nak," kata Mama sambil berlalu.
"Aamiin Ma," jawabku.
Aku bernafas lega, untung Mama gak tanya-tanya soal Kak Sam. Ini 'kan belum waktunya aku ngasih tahu, belum ada sebulan.
"O ya, Nis!" seru Mama sambil menghentikan langkahnya.
*Deg.
Mama berbalik badan.
"Nanti jangan lupa angkat jemuran kalo dah kering," perintah Mama.
"Ok, Ma!" jawabku riang.
Mama berbalik badan & melanjutkan langkahnya. Aku mengelus dada, lega.
"Maafkan Annisa, Ma. Pengarang novel itu, memang keponakan, Mama. Maaf, Annisa belum bisa jujur sekarang, Ma," kataku dalam hati.
.
__ADS_1
***
Bersambung.