
"Ngapain Nis ke counter?" tanya Meli yang sedang makan bersama Paman, Bibi, Om Dewa & Bu Nana di warung makan.
"Aku flash in HP ku. Semoga bisa membantuku cepat move on," jawabku sembari ikut duduk untuk makan.
"Aamiin," kata Meli.
.
Tak lama kemudian, kami semua selesai makan. Kamipun menunggu Paman yang sedang membayar makanan. Lalu, aku melihat seorang ibu dengan seorang anak di sampingnya sedang meminta-minta di pinggir jalan seberang. Sehingga aku merasa iba.
"Mbak, tolong bungkuskan 2 porsi nasi ayam," pintaku pada pemilik warung.
"Baik, mbak," jawabnya.
"Biar Paman bayarkan sekalian ya?" tawar Paman.
"Mmm.. Annisa saja ya, alhamdulillaah uang saku Annisa masih banyak. Annisa iba dengan peminta-minta itu," jawabku lalu menunjuk peminta-minta yang di seberang jalan.
"Baiklah. Paman tunggu di mobil ya," kata Paman sambil berlalu.
Aku membayar makanan yang kubeli, ketika penjual warung selesai membungkuskan makanan & menyodorkan 2 kotak makan padaku. Dengan langkah pelan, aku menuju si pengemis. Aku menyeberangi jalan dengan sangat hati-hati. Aku duduk di tikar lusuh yang digelar & diduduki si pengemis. Kebetulan, masih ada sisa tempat di tikar walau agak sempit.
"Permisi, Bu. Perkenalkan nama saya Annisa. Ini ada 2 kotak makan untuk Ibu & anak Ibu," ucapku sambil menyerahkan kotak makan itu.
"Alhamdulillaah. Terimakasih, Dik. Alhamdulillaah yaa Allaah, akhirnya anakku bisa makan juga," kata Ibu itu.
Aku mulai menitikkan air mata & buru-burh menyekanya agar tidak keluar. Anak Ibu itu makan dengan lahapnya. Betapa aku harus banyak bersyukur, masih ada yag jauh lebih lemah di bawahku.
"Anaknya umur berapa Bu?" tanyaku.
"Umur 5 tahun, Dik," jawab Ibu.
__ADS_1
"Berati udah TK ya Bu?" tanyaku.
"Anak saya tidak bisa sekolah, Dik. Bapaknya sudah meninggal 2 tahun yang lalu," jawab Ibu itu.
Aku mengambil surat keterangan cincin emas yang ada di dalam tas ku.
"Bu, ini ada cincin emas yang insyaaAllaah bisa diuangkan. Dan ini suratnya. Semoga bisa membuat kehidupan Ibu lebih baik ya," kataku sambil menyerahkan cincin pemberian Adam & suratnya.
"MaasyaaAllaah. Terimakasih bnyak, Dik. Tapi Adik tidak keberatan?" Ibu itu menitikkan air mata. Tangannya gemetaran saat menerima.
"Tidak, Bu. Annisa sudah bosan memakainya," jawabku berbohong.
"O ya, Bu. Annisa juga udah bosan pakai HP ini. Nanti, Ibu jual ke counter seberang jalan itu ya. Semoga dengan ini, anak Ibu bisa sekolah," kataku lalu menyerahkan HP ku.
"Terimakasih banyak, Dik. Hatimu benar-benar berlian. InsyaaAllaah Ibu akan melaksanakan amanahmu untuk menguangkan cincin & HP ini, agar anak saya bisa sekolah. Ibu tidak tahu cara membalasnya," kata Ibu itu.
"Tidak perlu dibalas, Bu. Kata Papa, do'a orang yang lemah itu dikabulkan oleh Allah. Saya baru saja mengalami cobaan yang berat sekali. Saya minta, Ibu mendo'akan saya agar bisa melewatinya," pintaku.
"Iya, pasti Dik. InsyaaAllaah pasti Ibu do'akan di setiap sesudah sholat 5 waktu," jawab Ibu itu.
"Iya Kak. Kakak orang yang baik sekali. Alhamdulillaah hari ini bisa makan ayam dari warung itu. Sudah lama aku pengen, tapi baru bisa makan sekarang karna Kakak. Kapan-kapan main ke tempatku ya Kak," kata Adik itu riang.
Aku tersenyum & pamit pada Ibu pengemis itu, lalu menuju mobil yang sudah menungguku sedari tadi.
.
***
Di perjalanan pulang, aku memutar musik mobil lagu "Perpisahan Termanis" milik Lovarian. Membuat lamunanku kembali pada Adam.
.
__ADS_1
"Jadikan ini perpisahan yang termanis,
yang indah dalam hidupmu sepanjang waktu
Semua berakhir tanpa dendam dalam hati...
maafkan semua salahku yang mungkin menyakitimu.."
.
"Nak, kamu sudah menghubungi Mama bahwa kamu pulang sekarang?" tanya Bibi membuyarkan lamunanku.
"HP Annisa yang udah di flash tadi, Annisa serahkan ke pengemis tadi, Bi," jawabku.
Kulihat dari spion atas depan mobil, Bibiku tersenyum.
"Ya sudah, biar Bibi yang menghubungi," jawab Bibi lalu mengambil smartphone nya.
Tiba-tiba...
"Awww!! Perut kiriku sakit!" aku mengerang kesakitan. Perutku sakit sekali.
"Kamu tadi sudah makan 'kan?" tanya Paman khawatir.
"Sudah Paman. Aduuhh, astaghfirullaah.." jawabku.
"Kita ke rumah sakit sekarang Pak Dewa."
Itulah kata-kata terakhir yang kudengar dari Bibi. Sebab, aku tak sadarkan diri alias pingsan.
.
__ADS_1
***
Bersambung.