
Aku & Om Dewa sudah sampai di rumah Adam untuk menjemputnya. Adam muncul dengan pesona sangat tampan malam ini. Kami berpamitan pada Bunda & masuk mobil. Sampai di mobil, Adam berniat mengikatkan tutup mata.
"Kenapa ditutup mata segala, sih?" tanyaku kesal.
"Biar surprise to sayang," jawabnya mulai mengikatkan kain itu.
"Nutupin nya nanti aja kan bisa?" tanyaku.
"Nanti kamu tahu jalan ke tempatnya. Gak surprise," jawab Adam.
"Sudah sudah bertengkarnya. Haha, kalian jadi mengingatkan kisah Om sama pacar Om yang sekarang jadi istri Om," timpal Om Dewa, membuat aku & Adam terkekeh.
Sementara aku tak bisa melihat apa-apa, hanya hitam semua karna ikat mata ini.
.
***
Sampai di tempat tujuan yang entah itu dimana. Adam menuntunku berjalan hingga kumerasa silau seperti lampu-lampu.
"Taraaaaa!" teriak Adam sambil melepas ikatan mata.
Aku mengucek-ngucek mataku & di depanku tampak sebuah cafe dengan banyak lilin di meja-meja makan, seperti candle light party. Di depanku, tampak sebuah gravity dengan cahaya lampu keemasan yang sangat indah, bertuliskan :
.
Aku ingin menemanimu mulai dari nol. Kita lulus bareng, masuk perguruan tinggi & bekerja. Lalu sukses bareng dan aku akan menikahimu. Love you, Annisa. Hope it's a beautiful birthday!
.
Aku menutup mulut pertanda takjub. Tak kuasa berkata apa-apa lagi. Aku & Adam duduk di salah satu nomor meja. Beberapa menit kemudian, pelayan membawakan kami makanan & minuman favoritku. Kami mulai makan dan diiringi musik klasik di panggung cafe yang dimainkan oleh musisi-musisi berjas hitam. Tak lama kemudian, brrdatangan beberapa pengunjung dan cafe mulai rame.
.
"Terimakasih ya sayang," ucapku di sela-sela makan.
"Sama-sama, sayang," jawab Adam.
"Ngomong-ngomong, yang pesen kue tart sebesar tadi siang siapa?"
"Bundaku," jawab Adam.
"Aku jadi merasa merepotkan," ucapku cemberut.
"Tidak lah. Kan buat calon menantu," ucap Adam tersenyum.
"Ha?" tanyaku kaget.
"Iya, Bundaku bilang. Kalo kita udah sukses nanti, aku akan menikahimu. Dan kamu jadi menantu Bunda," jawab Adam buatku berbunga-bunga.
"Aamiin..."
"o ya, tadi siang napa sih? Sengaja ya bikin aku cemburu? Sama Rani lagi. Aku gak kenal lagi. Kenal, tapi tahunya cuma adik kelas," kesalku menghentikan makanku.
"Kan cuma buat ngerjain. Namanya juga lagi ultah. Maaf deh," sesal Adam.
"Ya tapi kan tetep aja cemburu. Pokoknya tahun depan kalo ultah ga mau digituin lagi!" kesalku lagi.
__ADS_1
"Ciyee cemburu," goda Adam.
"Apa sh! Nyebelin," kataku tambah kesal.
"Iya. Kayla nyebelin," goda Adam lagi.
"Kamu yang nyebelin! Malah niru kata-kata itu lagi! Temen satu sekolah ngerjain. Iih sebeell!" jengkelku mencubit tangan kiri Adam.
"Aaaw! Sakit, sayang," keluh Adam.
"Soyang sayang! Kalo sayang koq bikin cemburu!" ucapku melepas cubitanku.
"Kan aku udah bilang berapa kali sama kamu? Aku gak akan pernah duain kamu sampai kapanpun. Aku setia selalu sampai kita menikah," janji Adam.
"Iyaa iyaa!" jawabku.
"Buruan dimakan. Keburu dingin lho," kata Adam.
Aku menyelesaikan makanku dan minum.
"Udaah ah jangan marah lagi. Nanti cantiknya ilang lho," goda Adam lagi.
"Biarin ilang. Biar ditemuin orang," jawabku kesal.
"Eee gak bisa! Cantikmu buat aku saja ya," godanya lagi.
"Iya tapi janji jangan diulangin!" perintahku.
"Iya janji! Napa sih marah-marah mulu? Lagi PMS ya?" tanya Adam buat aku tambah marah.
"Ini dinner apa apaan sih? Berasa ketemu harimau," gumam Adam.
"Apaaa??" tanyaku pura-pura ga dengar.
"Ampun ampun ampun! Iya, maaf sayang," pinta Adam ketakutan.
.
Lalu, aku beranjak menuju tempat para musisi tadi. Berniat akan menampilkan puisi untuk Adam.
"Mau kemana?" tanya Adam tak kuhiraukan.
.
Aku meminta izin pada para musisi itu dan mereka turun dari panggung
"Cek cek," aku mencoba mic. Mata semua orang di cafe tertuju padaku, tak terkecuali Adam.
.
.
"Kita dan Semesta"
.
Lihatlah embun-embun pagi itu, mereka berdamai dengan hatiku
__ADS_1
menyatukan cinta
yang tersimpan jauh dalam lubuk hatimu
menetes di jalan-jalan setapak tempat roda berpijak
roda-roda kendaraanmu mengantarkan kita di atas mahligai cinta
awan-awan tersenyum melihat kita berdua
pelangi selepas hujan itu menguraikan kisah-kasih kita
keceriaan anak-anak SMA menyatukan jiwa kita
Mereka, dari semesta untuk kita
.
Kita
jangan sampai mengecewakan mereka
tetaplah bersamaku
jangan jauh-jauh dariku
tetaplah buat embun-embun bahagia
di pagi hari beranjak ke SMA
tetaplah meramaikan jiwa jalan setapak & roda-roda besi
dan membuat tersenyum awan-awan di atas sana
berdamai bersama warna-warna pelangi dalam canda kita
menyemai benih indah pada pertemanan masa putih abu-abu
dengan segala kasih sayang kita
Dari kita untuk semesta
.
Dear, Adam Setiyawan
.
.
Riuh tepuk tangan mengapresiasiku. Adam datang padaku. Dia melingkarkan sebuah cincin emas di jari manisku, lalu mengecup punggung tanganku. Malam terindah. Peringkat ketiga yg tak pernah kulupa.
.
***
Bersambung
__ADS_1