
Kubuka mataku perlahan. Aku melihat sekitar. Aku masih di kamar yang tadi. Tidak ada siapa-siapa di sini. Aku melihat tanganku, kenapa tidak diinfus? Aku menyentuh pinggang, tidak ada jahitan. Apa aku tak jadi dioperasi? Aku bangun & melihat jam dinding. Jam 03.05 WIB. Kuambil ponselku yg terletak di meja kecil sebelah ranjangku, lalu melangkah keluar. Apa Adam sudah sembuh? Mungkin, Adam sudah sembuh dengan sendirinya tanpa penggantian ginjal. Aku linglung & hatiku terus bertanya-tanya.
.
Sampai di luar, kulihat teman-temanku sedang menangis & berpelukan. Mereka berdiri begitu melihat aku keluar.
"Mengapa kalian menangis? Aku baik-baik saja," ucapku tersenyum.
Namun, tak ada jawaban. Mereka semua diam.
"Mengapa kalian diam? Bukankah Adam sudah sembuh? Buktinya, tidak perlu dilakukan penggantian ginjal?" tanyaku. Tapi, tetap tak ada jawaban. Jantungku pun mulai berdegup kencang.
Bunda & Bibi juga menangis. Mereka berdua menghampiriku yang masih mematung di pintu. Bunda menghela nafas panjang.
"Bismillaah. Sayang, apa pendapatmu jika seseorang meminjamkan barang pada org lain. Dan pemilik barang itu meminta kembali barangnya?" tanya Bunda, sedih.
"Maka si peminjam barang harus mengembalikan barang yang dipinjamnya kepada sang pemilik," jawabku.
"Kamu benar. Maka, ikhlaskanlah Adam yang telah diambil oleh Sang Pemilik, Allah," jawab bibi.
*Deg.
__ADS_1
Seketika aku terduduk di lantai. Aku berderai air mata. Ingin rasanya aku berteriak! Namun, kutahan dengan menutup mulutku rapat-rapat. Kakiku lemas, badanku tak berdaya.
"Aku...tidak percaya," kataku dengan suara parau.
Bunda jongkok dan menatap ke arahku dalam-dalam.
"Sayang, terimalah takdir Allah dengan lapang dada," nasihat Bunda.
"Akuu ingin melihat Adam untuk terakhir kalinya," pintaku.
Bunda mengangguk. Bunda & Bibi membopongku dengan merangkulkan kedua tanganku di pundak mereka. Aku melangkah dengan langkah terhuyung. Teman-teman prihatin denganku. Pelan, kumenuju kamar Adam.
"Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun," ucapku berderai tangis, saat melihat Adam telah ditutupi kapas pada hidung & telinganya.
Aku meminta Bunda & Bibi untuk diantar ke mushola. Pelan sekali, aku keluar dari kamar Adam.
"Kamu yang sabar ya, Nis!"
"Kamu pasti kuat!"
"Kamu gadis yang tegar, Nis!"
__ADS_1
"Ikhlaskan Adam."
"Biarkan Adam bertemu Sang Pemilik dengan tenang."
"Allah bersamamu."
"Ada kami disini."
"Jangan pernah merasa sendiri."
Kata teman-temanku yang coba menghiburku saat aku melewati mereka menuju mushola. Aku berusaha tersenyum dengan senyum yang kupaksakan. Sebab hatiku belum bisa menerima.
.
Aku berwudlu dan alhamdulillaah merasa agak tenang. Langkahku juga tak terhuyung lagi selepas berwudlu. Bunda & Bibi meninggalkanku di mushola rumah sakit. Aku memakai mukena dan mengerjakan sholat sunnah Tahiyyatul Masjid & sholat 'Asar. Lalu, aku berdo'a.
"Ya Rabb yang Maha Kuasa. Engkau telah mengambil orang yang paling kusayangi dan aku harus menerimanya. Semua berjalan di atas takdir-Mu dan aku yakin takdir-Mu pasti yang terbaik untukku. Yaa Allaah, sesungguhnya di balik sesuatu yang tidak aku sukai, mungkin menurut Engkau baik untukku. Engkau Maha Mengetahui sedangkan aku tidak mengetahui. Aku makhluk yang lemah, maka kuatkanlah hatiku setelah kejadian ini yaa Allaah. Ampunilah segala kesalahan yang pernah Adam perbuat. Balaslah setiap kebaikannya. Termasuk segala kebaikan yang pernah ia perbuat padaku. Allah, Engkaulah tempat bergantung. Kugantungkan seluruh masalahku & kegundahan hatiku hnya kepada-Mu. Kupasrahkan sakit hatiku hanya kepada-Mu. Berikan aku kekuatan melewati cobaan ini. Allaahummaghfirlahu warhamhu wa'fu'anhu wa'aafihi. Wa akrim nuzulahu wawassi' madkhalahu. Waghsilhu bimaain wa tsaljin wabaradin. Wanaqqihi minal khathaaya kamaa yunaqqatstsaubul abyadhu minaddanas. Wa abdilhu daaran min daarihi, wa ahlan khairan min ahlihi, wa zaujan khairan min zaujihi. Wa qihi fitnatal qabri wa 'adzaabannaar. Aamiin," do'aku lalu kuusapkan kedua telapak tanganku ke mukaku yang telah basah oleh air mata.
.
***
__ADS_1
Bersambung.