Hijrahku Dari Pacaran

Hijrahku Dari Pacaran
part 32


__ADS_3

Ini semua seperti mimpi. Rasanya, baru sebulan yang lalu aku sibuk mencari-cari info pendaftaran UGM. Hari ini, aku telah berada di Jogja bersama teman-teman kos yang berjilbab lebar & Ibu kos yang berjilbab lebar selutut itu. Hmm pantas mbak Irma memilih kos ini selama di Jogja dulu. Karena suasananya agamis.


.


Kami semua sudah saling berkenalan dan mulai akrab satu sama lain. Ternyata, yang tadi memberiku kertas peraturan adalah Kak Rere. Dia yang jadi Ketua Anak Kos di sini. Dia Mahasiswi UGM 1 angkatan lebih dulu dariku. Jadi, bukan mahasiswi baru. Sedangkan 18 orang lainnya, semua mahasiswi baru sepertiku. Ada 1 orang yang beragama Kristen, namanya Thea. Pantas saja dia tidak pernah berjilbab & tak pernah kelihatan sholat sejak tadi pagi.


.


Setelah berkenalan, Ibu Sintia memimpin do'a acara makan malam bersama.


"Bismillaahirrahmaanirrahiim," do'a kami kompak.


Acara makan malam berlangsung khidmat, tanpa ada suara berbicara. Selesai makan, kami membersihkan meja & cuci piring bersama-sama. Lalu, kembali ke kamar masing-masing.


.


***


Aku menghela nafas panjang & tersenyum lebar. Aku menatap sebuah tulisan besar di hadapanku dengan penuh keyakinan.


"Universitas Gajah Mada"


Dan aku melangkah masuk ke dalam kampus. Aku berjalan santai & membawa buku-buku tebal di tanganku. Tiba-tiba...


*BRAAKK!!!


Seorang laki-laki menabrakku tanpa sengaja. Alhasil, buku-bukuku jatuh. Akupun memungutinya dengan perasaan sayang, sebab buku-bukuku itu masih baru.


"Sory, gue buru-buru," kata cowok itu lalu berlalu pergi.


Aku hanya diam dan menahan perasaan jengkel karena buku-buku baruku dijatuhkannya. Buku-buku mata kuliah yang bagiku sangat penting. Akupun melanjutkan langkahku menuju kelas. Di kelas, aku berkenalan dengan beberapa mahasiswi. Lalu, aku merasa lapar & pergi ke kantin.


.


*Di kantin*


Setelah mendapat semangkuk soto, aku mencari tempat duduk. Penuh semua. Tinggal ada 1 bangku kosong di pojokan. Aku menuju ke sana. Saat aku hendak duduk, tiba-tiba ada seseorang yang menyerobot menduduki duluan. Sotoku pun hampir tumpah. Aku menatapnya geram. Ternyata cowok itu yang tadi menabrakku di dekat pagar kampus.


"Hey! Ini tempat duduk saya!" umpatku.


"Gak bisa! Gue duluan yang nyampe sini," katanya santai sambil menyuap sotonya.

__ADS_1


"Kenapa sih! Hari pertama ke kampus sial! Semua gara-gara kamu! Awas, tunggu pembalasan saya. Nih bayar soto saya," kataku marah, lalu menaruh sotoku di meja. Kemudian beranjak pergi.


"Bales aja kalo berani!" teriak cowok itu.


Aku tak mempedulikannya & berjalan keluar kantin. Semua pengunjung kantin menatapku heran. Tapi, aku tak mempedulikan mereka karena sibuk dengan perasaan jengkelku.


.


***


OSPEK. Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus di UGM dimulai. Aku sudah mempersiapkan diri dengan memakan kue bekalku sekembalinya aku ke kelas dari kantin. Dua anggota BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) masuk ke dalam kelas kami. Program kontroversial itu pun dimulai. Bagaimana tidak mengundang kontroversi? Seringkali kekerasan dialami oleh calon Maba (Mahasiswa Baru).


Aku memperhatikan dengan saksama salah seorang dari BEM yang duduk di kursi guru. Ya! Ternyata cowok yang tadi membuatku kesal. Aku menatapnya geram. Tapi dia pura-pura tidak mempedulikanku.


.


Kedua cowok itu pun menayangkan slide dengan menggunakan LCD proyektor & sebuah laptop, kemudian mempresentasikan semua tentang UGM. Termasuk fasilitas, dan sebagai nya.. Dua cowok itu memang terlihat gagah dengan jas almamater UGM. Namun, tetap saja aku tak suka dengan kejahilan salah satu di antara mereka, yang ternyata namanya adalah Bangkit. Aku tahu setelah mereka memperkenalkan diri. Aku enggan menyebut Bangkit dengan sapaan 'Kak' karena umurnya sama denganku. Hanya saja, dia kuliah duluan saat aku sedang sakit di tahun lalu. OSPEK hari ini pun selesai. Semua anak beranjak pulang. Tapi, 2 cowok itu belum beranjak dari tempat duduknya. Dan saat mereka hendak keluar, aku menarik kerah jas belakang si Bangkit.


.


"Hei! Cungkring! Urusan kita belum selesai!" teriakku di telinganya.


Langkahnya terhenti, dia pun mengusap-ngusap telinganya. Ia membalikkan badan & memelototiku.


"Iya cungkring orang badan kerempeng gitu! Aku gak budi, telingaku masih normal!" teriakku lagi.


"Ooh.. Lu sengaja ngeledek gue?" tanyanya.


"Bukan ngeledek. Tapi 'kan emang kenyataan lo cungkring! Haha.." kata temen Bangkit, namanya Kak Dani, yang tadi ikut presentasi.


"Lo koq malah belain dia, sih? Oke, gadis mungil! Gue harus ngelakuin apa biar urusan kita selesai?" tanyanya, berdecak pinggang.


"Kamu berani ledekin aku? Oke, aku anggap kita impas dengan ledekan masing-masing. Sekarang biar selesai, minta MAAF sama aku!!" kataku menyilangkan tangan di dada.


"Ih! Ogah! Gadis mungil kayak kamu. Bye bye!!" teriaknya sambil berlari, diikut Kak Dani yang juga ikut lari.


"Woyy!! Pengecut! Balik gak!" teriakku. Aku mendengus kesal.


Aku berjalan pelan keluar kelas. Ternyata, seorang temanku bernama Vina menungguiku di dekat pintu. Lalu, kami berjalan bersama keluar kampus.


"Eh, kamu berani banget sih sama Kak Bangkit? Jangan galak-galak dong, ntar naksir lagi," kata Vina sembari tersenyum menggoda.

__ADS_1


"Aah apaan sih, Vin? Bangkit tu udah ngejatuhin buku pentingku & menggagalkan sarapanku," kataku kesal.


"Eh panggilnya pake 'Kak' dong! Tahu gak? Kak Bangkit itu satu-satu nya arjuna di kampus ini," kata Vina yakin.


"Ah! Bodo amat! Ngapain panggil 'Kak'? Umurnya aja ga jauh beda sama aku," kataku lalu berjalan mendahului Vina.


Vina dengan cepat menyamai langkahku.


"Ya udah, jangan marah-marah mulu. Cuma masalah sepele 'kan? Hmm awas aja suatu saat nanti kamu suka sama dia," kata Vina.


"Ngapain sih kamu belain dia terus? Atau jangan-jangan kamu ya yang naksir sama dia?" tanyaku, mencolek pinggang Vina, bermaksud menggodanya.


"Annisa.. Annisa.. Cuma kamu kali yang gak sadar sama ketampanan dia! Satu kampus tuh berharap jadi pacarnya dia. Tapi, ga ada yang berhasil dapetin dia," jelas Vina.


"Kamu tahu dari mana?" tanyaku mengernyitkan kening.


"Diceritain sama kakakku, yang juga kuliah di sini," katanya.


"Ya udah, kamu kejar aja dia," kataku mendukung.


"Gak ah. Minder. Kayaknya dia cocoknya sama kamu. Aku gak secantik & secerdas kamu. NEM ujian kita kayak bumi sama langit. Saran aku sih, kamu PDKT aja sama dia. Aku dukung 100 %," kata Vina mengembangkan senyuman tulus.


Seketika ingatanku kembali pada Adam, jika menyangkut urusan cowok. Aku membalas tersenyum kaku. Langkahku terhenti.


"Aku... Belum siap buat jatuh cinta lagi, Vin," kataku menunduk lesu.


"Kenapa, Nis?" tanyanya.


"Mantanku meninggal. Tapii udah lama. Sejak itu, aku trauma sama yang namanya cowok," kataku menatap Vina sendu.


Vina langsung memelukku.


"Maafkan aku membuatmu sedih. Aku tidak bermaksud...." kata Vina.


"Gakpapa, Vin," ucapku memotong. "Kamu 'kan gak tahu sebelumnya. Aku pulang dulu, ya?" lanjutku, melepas pelukan Vina.


Vina mengangguk. Aku berjalan menuju kosan, sementara Vina menunggu angkot untuk pulang.


.


***

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2