
Liburan Semester pun dimulai, selama satu bulan. Tak terasa aku sudah melanjutkan studiku di UGM selama 6 bulan dgn lancar. Ya walaupun, hatiku hancur berkeping-keping karna memiliki 2 mantan sekaligus dalam waktu 6 bulan.
Semua anak di kos yang kutempati dijemput oleh orang tua masing-masing. Terlihat koper-koper besar di teras rumah & beberapa temanku yang duduk di teras. Ada juga yang di ruang tamu dan sebagian di kamar. Mereka semua telah berpakaian rapi.
Begitu pula dengan aku, aku masih menunggu Papa & Mama yang menurut pesan Mama di WA, Papa & Mama berangkat sejak kemarin siang dari Bandung. Aku senang sekali hari ini karena aku sudah sangat merindukan mereka. Namun, aku juga sedang bimbang. Bimbang dengan persyaratan dari Kak Sam kemarin. Aku tengah duduk di ruang tamu bersama beberapa teman kosku. Pandanganku kosong menatap vas bunga di meja. Aku sedang mengetuk-ngetuk dua buah novel yang ada di pangkuanku. Novel karya Kak Sam yang diberikannya secara gratis untukku, kemarin sepulang dari taman. Novel yang satu berjudul "Go Hijrah and Move up!". Sedangkan yang satunya berjudul "Hijabku Mahkotaku".
.
"Annisa, kenapa melamun?" tanya Kak Rere lembut, yang sedari tadi duduk di sampingku.
"Eh? Ee.. ee.. enggak papa koq, Kak," jawabku gelagapan.
"Kenapa? Ada masalah? Cerita dong sama aku," tanya Kak Rere.
"Aku baru aja putus dari Roy kemarin Kak," jawabku.
Air mata mulai mengalir di pipiku.
"Aku bilang juga apa? Udah deh ga usah pacaran. Pasti ujungnya sakit hati," saran Kak Rere.
Kak Rere memang sangat sering menasehatiku perihal agama, terutama masalah pacaran. Persis seperti Mbak Irma. Tapi, aku selalu mengabaikannya. Namun entah kenapa, hari ini seperti ada desiran hati untuk mendengarkan Kak Rere.
__ADS_1
"Kemarin, setelah aku mutusin Roy lewat chat, aku ketemu sama penulis novel ini, Kak. Samsul 'Abdurrahman," kataku sambil menunjukkan nama yang tertera di bawah novel yang kubawa.
"Ya? Terus? Bukankah dia juga pemilik toko buku yang besar itu, ya? Yang sering aku kunjungi kalo kamu pas main ke caffe," kata Kak Rere.
"Jadi Kakak tahu tentang Kak Sam? Kenapa Kakak ga pernah cerita sama aku?" tanyaku.
"Memangnya, apa hubungannya dia dengan kamu?" tanya Kak Rere.
"Eh iya! Kakak 'kan belum tahu masalah ini. Jadi Kak Sam itu kakak sepupuku. Anak dari kakaknya ayahku. Dia udah kabur dari rumah 6 tahnn yang lalu, sampe Paman & Bibi mengasuhku semasa SMA sebagai obat rasa rindu mereka pada Kak Sam. Paman & Bibi menganggapku sebagai anak. Ternyata Kak Sam sedang berusaha mandiri & sukses tanpa bantuan orang tua. Awalnya, aku fikir Kak Sam akan jadi oranhg brutal di jalanan & masa depannya hancur. Ternyata aku salah, dia sekarang sudah sukses. Aku mau kasih tahu Paman & Bibi soal ini. Tapi Kak Sam bilang, syaratnya aku harus berhenti pacaran. Aku harus bisa buktikan itu selama sebulan. Aku ragu, Kak. Apa aku bisa ya melakukan itu semua?" jelasku dengan suara parau.
Kak Rere merangkul pundakku.
"Aku yakin, insyaaAllaah, dengan pertolongan Allah, kamu pasti bisa! Buku itu, harus kamu baca. Aku udah baca. Dan aku harap, setelah kamu baca, sebulan lagi kita ketemu di kos ini, aku harap, kamu sudah hijrah & merubah penampilan kamu. Bukankah kamu ingin Kak Sam bersatu dengan keluarganya?" kata Kak Rere meyakinkanku.
"Nah, gitu dong. Jangan nangis lagi. Semangat!" kata Kak Rere sambil mengepalkan tangannya ke udara.
"Tapi kamu tahu gak soal Kak Sam sama Mbak Irma? Mbak Irma yamg katanya pernah mengajar kamu waktu sakit?" tanya Kak Rere.
"Enggak, Kak. Memangnya ada apa dengan mereka?" tanyaku.
"Mbak Irma sama Kak Sam itu saling mencintai dalam diam. Terus Kak Sam mendesak mau melamar Mbak Irma & tanya alamat orang tua Mbak Irma. Tapi Mbak Irma belum siap buat nikah. Setiap mereka tanpa sengaja ketemu, Mbak Irma selalu menghindar dari Kak Sam. Smpai akhirnya, Mbak Irma berhenti jadi dosen di UGM & memutuskan untuk pulang ke Garut. Katanya sih rumahnya di Garut. Kamu tahu gk dimana alamat Mbak Irma?" kata Kak Rere.
__ADS_1
"MaasyaaAllaah, Kak. Mbak Irma itu tetanggaku. Semoga setelah pulang, aku bisa jadi jembatan mereka untuk mempertemukan mereka dalam ikatan pernikahan," kataku berbinar.
"Hey! Tapi Mbak Irma itu belum siap buat nikah," kata Kak Rere.
"Berarti aku hrus nunggu Mbak Irma siap nikah dulu, ya? Oo jadi itu alasan Mbak Irma vakum ngajar? Padahal aku pengen banget diajarin sama Mbak Irma di kampus," kataku cemberut, "Eh tapi, kenapa mereka gak pacaran dalu aja?" lanjutku.
Kak Rere terkekeh.
"Ahahaha.. Annisa, Annisa. Pacaran itu haram. Mereka berdua tahu itu. Jadi mana mungkin mereka pacaran? Menyampaikan perasaan aja ga berani lewat chat, tapi lewat surat yang dititipin ke aku," kata Kak Rere.
.
Tak lama kemudian, dari jendela, terlihat mobil Papa memasuki tempat parkir kos. Aku pamit pada teman-teman ku & segera keluar.
"Assalaamu'alaikum. Pa, Ma, Annisa kangen banget," salamku sambil mencium tangan Papa & Mama.
"Wa'alaikumussalaam sayang," jawab Papa Mama bersamaan.
Lalu kupeluk Mama. Air mata tak mampu kubendung lagi.
.
__ADS_1
***
Bersambung.