
"Ssuut, kamu tenang dulu biar Kakak jelasin semuanya," kata Kak Sam.
Aku pun terdiam.
"Dan jangan ajarin Kakak tentang durhaka sama orangbtua. Kamu tanya dirimu sendiri. Apakah kamu tidak durhaka pada orang tua? Kamu tahu orang tua mu, yaitu Paman Bibi Kakak, ngelarang kamu pacaran?" tanya Kak Sam, suaranya menggelegar.
Hatiku terasa pecah mendengarnya, hatiku sangat lemah saat dikasari orang lain, apalagi itu Kakak aku sendiri. Kakak sepupu, yang sudah kuanggap kakak kandungku sendiri.
"Iya, Annisa tahu Annisa salah," kataku dengan suara parau.
"Bagus," jawab Kak Sam ketus.
"Tapi, Kakak tahu darimana Annisa pacaran?" tanyaku.
"Kakak pernah liat 2 kali kamu brduaan disini sama 2 cowok yang berbeda. Kakak juga liat pas kamu pergokin mantan kami selingkuh," jawab Kak Sam.
"Kenapa Kak Sam gak samperin Annisa waktu itu? Annisa kangen sama Kakak," kataku.
"Karena Kakak belum dapat timing yang tepat. Maafkan Kakak, tapi setegas apapun Kakak sama kamu, kamu tetap adekku," kata Kak Sam.
__ADS_1
Aku mengulurkan tangan kananku di depan Kak Sam & menunduk. Sudah jadi kebiasaanku dari dulu, menyalami & mencium tangan Kak Sam ketika kami brrtemu. Tapi, Kak Sam tidak membalas menyalamiku. Dia menangkupkan kedua tangan di dada.
"Maaf, Annisa. Sepupu itu bukan mahram," kata Kak Sam.
Aku mengernyitkan kening, tak paham akan perubahan sikap Kak Sam. Aku menyatukan jariku kembali, membentuk sebuah genggaman tangan, lalu menarik tangan turun ke samping badanku.
"Duduk dulu," kata Kak Sam sambil duduk di bangku yang ada di hadapanku.
Aku pun duduk & menyalakan layar ponselku.
"Bibi harus tahu ini, Kak. Beliau pasti senang denger anaknya ketemu," kataku riang.
"Tunggu! Kakak buat sebuah tantangan ke kamu. Sebelum kamu beri tahu Papa & Mamanya Kakak, kamu harus bisa buktikan tidak pacaran lagi sampai kelak halal nanti," kata Kak Sam.
"Akan Annisa fikirkan dulu," jawabku tanpa melirik Kak Sam.
"Kakak tahu, ini berat buat kamu. Tapi, ini demi kebaikanmu," kata Kak Sam.
Suasana hening sesaat.
__ADS_1
"Oke, Kakak akan cerita. Kakak kabur 6 tahun yang lalu, tepatnya setelah lulus SMA. Kakak frustasi karena dikekang, tak boleh pacaran. Kakak naik bus jurusan Bekasi. Kakak duduk di salah satu jok bus & ada seorang wanita yang pake seragam SMA duduk di samping Kakak. Dia pake jaket merah & menutupi perutnya dengan jaketnya. Dia menangis. Kakak ajak dia kenalan. Di sepanjang perjalanan, dia cerita tentang kisah hidup nya yang tragis. Berawal dari pacaran & akhirnya dia hamil di luar nikah. Dia turun duluan & mengucap terimakasih telah mendengarkan curhatannya. Kakak turun di sebuah masjid besar di Bekasi, sambil memikirkan si wanita tadi. Itulah akibat pacaran sekaligus resiko terbesar pacaran. Akhirnya, Kakak ga jadi pacaran. Kakak memutuskan kerja jadi marbot masjid untuk menyambung hdup. Kakak tinggal di masjid. Dan alhamdulillaah, setiap Ahad disana ada kajian remaja, salah satu yang dibahas adalah larangan pacaran. Trus Kakak berniat nulis cerita fiksi yang intinya biar pembaca memutuskan ga pacaran. Kakak kirim ke penerbit. Berkali-kali ditolak tapi Kakak gak menyerah. Sampe akhirnya ada karya yang diterima. Kakak diajak kerjasama bikin Draft Novel. Trus novel Kakak laris. Penghasilan Kakak banyak & pekerjaan marbot Kakak lepas. Trus alhamdulillaah sampe bisa beli rumah di Bekasi. Trus beberapa bulan kemudian, ditawari temen di Jogja untuk membeli rukonya. Dan kamu liat toko buku yang di samping mall tempat kamu sering belanja, itu milik Kakak. Kakak seorang penulis novel, sekaligus pemilik toko buku yang besar itu. Segala puji bagi Allah yang telah memberi semua nikmat ini ke Kakak. Alhamdulillaahirabbil 'aalamiin," jelas Kak Sam panjang lebar.
"MaasyaaAllaah, Kak. Kakak jadi orang sukses sekarang. Trus kenapa Kakak merahasiakan ini dari Paman & Bibi?" tanyaku.
"Karena Kakak ingin membuktikan bahwa Kakak bisa sukses secara mandiri, tanpa campur tangan orang tua, sekaligus tanpa pacaran," jawab Kak Sam.
"Ooh gitu. Trus rumah yang di Bekasi?" tanyaku.
"Kakak sewain sekarang. O ya, kamu kalo udah lulus kuliah, kerja di Bank Syari'ah di dekat rumah Kakak, ya? Nanti Kakak kasih kos itu gratis buat kamu. Di Bank Syari'ah itu lingkungannya agamis, pekerjanya berpakaian syar'i & insyaaAllaah menjauhi riba semaksimalnya," jawab Kak Sam.
Aku hanya terdiam. Bimbang.
"Tapi Paman sama Bibi harus tahu kalo Kakak udah sukses, Kak!" kataku.
"Kamu kasih tahu Papa Mama, setelah satu bulan kamu harus bisa buktikan berhenti dari pacaran!" kata Kak Sak.
"InsyaaAllaah, Kak," jawabku ragu.
.
__ADS_1
***
Bersambung.