
Satu malam sudah aku, Bibi dan Bunda menginap di rumah sakit. Kemarin, Bunda membawa kasur kecil dan 3 selimut. Sementara Meli pulang dijemput Bu Nana kemarin, setelah Bu Nana menjenguk Adam. Pagi hari di rumah sakit, alhamdulillaah Adam sudah membaik & siap diperiksa menggunakan sinar X. Bunda & aku juga selalu mengingatkan Adam di setiap waktu-waktu sholat. Adam sholat dengan duduk kakinya dijulurkan ke ujung ranjang.
"Adam. Jangan lupa selalu mengucapkan kalimat Laa ilaaha illallaah. Karena barangsiapa mengucap kalimat tahlil di akhir hayatnya, niscaya dia masuk surga," nasihat Bunda seraya tersenyum pada Adam. Ibu yang tegar itu mengelus kening putranya dengan lembut.
"Laa ilaaha illallaah. Laa ilaaha illallaah..." Adam terus menerus mengucapkan kalimat tahlil.
Aku duduk bersama Bibi di tikar. Aku terus mengucapkan do'a untuk Adam dengan lirih. Sesekali, bulir bening tak sengaja keluar dari sudut mataku. Buru-buru aku menyekanya agar Adam tidak sedih karenaku. Akupun beranjak & berdiri di samping Bunda untuk ikut membimbing Adam mengucapkan kalimah thoyyibah itu.
"Laa ilaaha illallaah.."
Adam mengikuti dengan terus berdzikir. Keadaan hatiku saat ini bagai hati disayat-sayat.
Tak lama kemudian, Dokter & beberapa suster masuk dan mendorong ranjang Adam ke ruang pemeriksaan sinar X. Aku, Bunda & Bibi duduk di luar kamar Adam. Aku terus memanjatkan do'a.
"Tolong kompakkan satu kelas ke RS. MARYAM di Jl. Dua Merpati No. 45. Adam sedang menjalani Pemeriksaan Sinar X di lantai 2. Aku sedang membutuhkan kekuatan dan dukungan dari teman-teman semuanya."
Pesanku di grup WA KELAS XII IPS.
.
***
Aku & teman-teman sekelas berada di mushola untuk melaksanakan sholat Dzuhur berjama'ah. Selesai sholat, aku berdo'a agar Allah menyembuhkan Adam. Badanku rasanya telah tenang sekarang. Beberapa menit kemudian, kami keluar mushola menuju tikar yang disediakan di luar kamar tempat Adam dirawat. Ya, Adam telah keluar dari ruang Pemeriksaan Sinar X dan kami semua sedang menunggu hasil pemeriksaan.
.
__ADS_1
"Kamu yang tenang, Annisa. Ada kami disini," ucap Meli menenangkanku.
Tak lama kemudian, Dokter dan Bunda datang. Dokter masuk ke kamar Adam, sedang Bunda duduk di sampingku dan telah membawa print hasil pemeriksaan.
Bunda menghela nafas panjang.
"Sayang, kamu yang sabar ya. Jangan berhenti berdo'a. Ginjal Adam rusak parah dan harus diganti dengan ginjal yang sehat. Sedangkan Bunda belum menemukan pendonor ginjal yang cocok untuk Adam. Bunda sendiri ragu akan mendonor, karena rahim Bunda sudah melemah semenjak shock karena kepergian Bapaknya Adam 5 tahun yang lalu," jelas Bunda.
*Deg. Aku terhenyak. Dadaku sesak, air mata tak mampu lagi kubendung.
Tak lama kemudian, Dokter keluar dari kamar Adam. Aku berdiri.
"Bismillaah, Dok. Saya siap diambil ginjalnya untuk Adam. InsyaaAllaah, ginjal saya masih sehat, Dok," ucapku, sendu.
Semua anak sekelas berdiri & menatapku dengan tatapan kesedihan.
"Baik, Dok."
.
Aku melirik ke Bibi & Bibi mengangguk. Lalu, Bibi & Bunda pergi ke ruangan administrasi. Aku kembali duduk dan teman-teman mendukungku.
"Kamu pasti kuat Annisa."
"Annisa kamu bisa."
__ADS_1
"Semoga Adam sembuh karena kekuatan cinta kalian berdua."
.
Aku masuk sebentar ke dalam kamar Adam.
"Adam, semoga Allah menyembuhkanmu. Dan dengan bersatunya ginjalku di ragamu, semoga itu pertanda bahwa kita memang jodoh. Semoga ginjalku bisa menguatkanmu. Dan insyaaAllaah aku siap apapun yang terjadi. Aku percaya dengan kata-kata terakhirmu. Bahwa jika kita tidak menikah di dunia ini, semoga Allah mempertemukan kita di surga. Aku menyayangimu," ucapku, lalu kukecup kening Adam yang sedang tak sadarkan diri karena obat bius.
Perlahan, kulangkahkan kaki keluar dan menuju ruangan yang tadi ditunjuk Dokter, yaitu kamar pasien kosong di samping kamar Adam. Sebagian teman mengikutiku & mereka terus mendo'akanku. Kubaringkan tubuhku di ranjang. Teman-teman menghiburku di dalam kamar.
"Bismillaah. Apapun yang terjadi, aku harus ikhlas. Bunda bilang, barangsiapa mengucap kalimat Laa ilaaha illallaah di akhir hidupnya, maka ia masuk surga," kataku dalam hati.
Lalu, aku tiada henti-hentinya mengucapkan kalimat tahlil selama satu jam.
.
"Laa ilaaha illallaah.. Laa ilaaha illallaah.."
.
Sampai suster datang ke ruanganku. Dan menutup korden jendela kamar. Sejak suster menyuntikkan obat bius padaku, aku mulai tak sadarkan diri. Dan aku tidak tahu apa-apa yang terjadi.
.
***
__ADS_1
Bersambung.