Hijrahku Dari Pacaran

Hijrahku Dari Pacaran
part 37


__ADS_3

Usai mmbersihkan kamar & mengepelnya, aku merebahkan tubuhku di kasur. Kuambil ponsel yang ada di bantalku, lalu menghidupkan layarnya.


*Ting


Satu chat nomor baru masuk.


"Hai, Annisa. Ini aku, Roy. Save ya WA ku," isi pesan itu.


"Oh, Roy. Iya," balasku singkat, lalu menyimpan nomornya.


"Boleh gak kita sahabatan? Yaa aku tahu sih kita udah punya pacar. Tapi, pacarku sih gak posesif. Gak tahu kalo pacarmu," pesan Roy, to the point.


"Sebentar. Aku tanya sama pacar aku dulu," balasku.


Aku membenamkan layar ponsel ke atas perutku. Aku mengernyitkan kening. Bingung dengan apa yang ditanyakan Roy tadi.


*Ting.


Satu pesan lagi masuk. Ternyata dari Vina.


"La, tahu gak sih! Roy chat aku duluan. Aku seneng banget. Dia ngajak aku sahabatan!" isi pesan Vina.


"Katanya gak boleh gangguin pacar orang! Mmm tapi soal sahabat, dia juga menanyakan hal yang sama denganku," balasku.


"Aku gak ganggu koq! Dia yang chat aku duluan! O ya? Berarti dia serius ngajak kita sahabatan," balas Vina.


"Mungkin," balasku singkat.


*Ting.


Ada pesan masuk lagi. Kali ini dari Bangkit.


"Lagi apa, yang? Sibuk, gak?" isi pesan Bangkit.

__ADS_1


"Lagi tiduran, abis ngepel kamar. Udah sante koq gak sibuk. Kamu?" balasku.


"Abis buka kado kamu. Makasih banget ya, yang. Kemejanya bagus banget. Aku suka," balasnya, ditambah emoticon senyum.


"Iya sama-sama, maaf ya jangan diliat harganya. Maklum, yang. Kantong Mahasiswi ga bisa beli yang distro," balasku kutambah emoticon sedih.


"Yaang yang. Aku tulus cinta sama kamu, gak memandang kekayaan," balasnya ditambah emoticon love.


"Ok ok. Aku sengaja beliin kemeja karna aku suka banget liat cowok pake kemeja, apalagi lengan panjang. Kesannya lebih rapi daripada pake kaos," balasku.


"Iya, aku udh tahu koq," balasnya.


"Boleh nanya gak, yang?" tanyaku.


"Boleh. Nanya apa, sayang?" balasnya.


"Kamu tipe yang posesif gak dan apa penilaian kamu tentang posesif?" tanyaku.


"Enggak. Menurutku, sikap posesif justru mengekang pasangan kita. Bukankah pacar kita itu juga berhak menentukan dunianya sendiri asal tetap jaga komitmen," jawabnya.


"Boleh lah, sayang. Aku yakin kamu bisa jaga hati kamu. Kamu udah dewasa. Tahu mana yang baik & yang enggak. Dan tahu sikap yang harus dilakukan," balasnya.


"Makasih ya, yang. Aku tahu koq, aku harus tetap setia," balasku.


"Naah 'kan. Aku udh janji berulang kali, mau nikahin kamu setelah sukses," balasnya.


"Iya, aku percaya. Ya udah, aku rehat dulu. Capek," balasku.


"Ok," balas Bangkit.


.


***

__ADS_1


"Kesimpulan presentasi saya hari ini, seorang pengusaha yang menjalankan usahanya, harus mau menagih piutang pada orang yang berhutang padanya. Karena biasanya, orang yang hutang itu malas melunasi hutangnya. Jadi tanpa pengusaha menagih, kemungkinan besar usahanya gagal karena modal yang tidak berputar," tuturku menutup presentasi di depan kelas. Sekaligus sebagai pemaparan terakhir sebelum waktu istirahat.


.


Pak Dosen pun keluar. Kami berhamburan keluar kelas menuju kantin. Aku & Vina pun demikian.


"Annisa! Vina! Gimana pertanyaanku kemarin?" tanya Roy tiba-tiba menghadang aku & Vina.


"Kita bicarakan itu di kantin," jawabku ketus.


"Ayo, Roy? Kamu jalan di samping kananku. Annisa di samping kiriku," kata Vina sok manis.


Lalu kami berjalan bertiga. Vina & Roy saling bercanda. Aku diam untuk menjaga komitmenku dengan Bangkit. Sesekali, aku melirik ke arah Roy. Hatiku berdesir saat menatap matanya. Roy pun juga beberapa kali menatapku dengan tatapan lembut. Meski sedetik, dua detik, tapi aku senang bisa saling menatap dengan Roy selama di perjalanan ke kantin. Aku memang menyukainya. Namun entah, apa dia juga merasakan hal yang sama denganku?


.


Sesampainya di kantin, di bangku pojok tempat biasa aku & Bangkit makan berdua, terlihat sosok Bangkit yang sedang menikmati makanannya. Tapi, dia tidak sendiri. Ada seorang cewek yang juga sedang makan. Namun, aku tidak tahu dia siapa sebab posisi duduknya menghadap Bangkit dan tak terlihat olehku. Aku hanya melihat rambut kuncir kudanya.


"Vin, pesenin makanan kayak biasa. Aku mau nyamperin Bangkit dulu," kataku sambil berlalu.


Aku berjalan & sampai di tempat Bangkit makan. Kini, aku bisa melihat wajah cewek yang duduk menghadap Bangkit. Cewek asing, mungkin Mahasiswi baru juga. Dia cantik dengan poni tayl & pipi chubby nya. Dia mengangguk trsenyum padaku. Aku memasang senyum kaku.


"Ini ga seperti yang kamu lihat, yang. Dia anak baru & tadi minta ditunjukin kantin yang jual soto. Dia anak sastra satu tingkat di bawahku, jadi kelasnya di samping kelasku," kata Bangkit lancar, menyiratkan kejujuran.


"Kamu tenang aja lagi, yang. Bukannya kemarin, kita janji gak akan jadi tipe posesif?" tanyaku ketus, lalu duduk di samping Bangkit.


Roy datang mmbawa semangkuk soto & sgelas es teh.


"Oh, ternyata kamu di sini, yang. Annisa, kenalin, ini Diana, pacar aku," kata Roy lalu duduk di samping cewek cantik itu & meletakkan maknan serta minumannya di meja.


"Oh. Aku Annisa. O, ya, Roy. Kenalin ini pacarku. Namanya Bangkit," kataku.


.

__ADS_1


***


Bersambung.


__ADS_2