Hijrahku Dari Pacaran

Hijrahku Dari Pacaran
part 35


__ADS_3

"Bila dia mendekati diriku, hatiku rasa sesuatu. Bila dia senyum pada diriku, hatiku rasa tak menentu."


.


Nyanyian berjudul "Aku Suka Dia" selalu terngiang di hatiku, saat melihat Bangkit dari kejauhan. Saat ada kegiatan kampus, yang dilaksanakan bersama seluruh Mahasiswa, di situlah aku mendapat kesempatan untuk bertemu Bangkit. Dan nyanyian itulah yang bergeming di hatiku, saat menatap Bangkit dan mata kami saling bertemu. Refleks, kami saling tersenyum. Dan senyumannya itu, sangat manis bagiku. Hanya itu yang bisa aku & Bangkit lakukan untuk merasakan cinta masing-masing, selain lewat chat. Selebihnya, aku sibuk dengan kegiatan di kampus & di kos. Pagi masak, nyuci, mandi, kuliah, pulang, bersih-bersih, nyetrika, mandi, malam belajar, terus tidur. Begitulah rutinitasku selain sholat & makan setiap hari. Kecuali di hari Minggu, pagi hari diajak Kak Rere belanja bahan makanan selama seminggu, dengan uang patungan anak satu kos. Terus siangnya masak, dan dilanjut mengerjakan tugas kuliah.


.


Ya, aku & Bangkit saling memahami kesibukan masing-masing. Tapi, kami tetap menjaga hubungan lewat chat. Kadang, telfon juga. Jika sedang beruntung, aku & Bangkit makan siang berdua di kantin. Menjalani hubungan dengan ketidakleluasaan. Namun aku sangat bahagia. Hingga tak terasa seiring berjalannya waktu, hubungan kami telah berjalan selama 2 bulan lamanya.


.


Hari ini, kebetulan ada jadwal kuliah yang kosong karna dosen tidak hadir. Tapi, 2 jam lagi masuk untuk dosen yang lain. Sedangkan Bangkit belum berangkat ke kampus karena jadwalnya kuliah siang hari. Sehingga aku sengaja tidak pulang ke kos. Aku ingin mengajak Bangkit ketemuan. Aku yakin Bu Sintia tahunya aku kuliah, jadi tidak perlu minta izin.


.


"Yang, kamu udah berangkat ke kampus belum? Ketemuan yuk? Dosen kelasku lagi ga dateng nih," isi chat WA ku ke Bangkit.


"Belum lah, kan kamu hafal jadwal aku. Serius? Gmana kalo kita jalan-jalan, yang?" tanya Bangkit di chat.


"Kemana? Boleh-boleh yang," balasku.


"Udah ntar gampang. Kamu tunggu aja di depan kampus," balas Bangkit.


"Ok," balasku lagi.

__ADS_1


Aku melangkah keluar kampus. Lima belas menit kemudian, Bangkit datang dengan motor Sportnya. Bangkit memakai kaos putih yang dipadu dengan kemeja kotak-kotak warna hitam putih dan celana jeans pensil warna hitam. Ditambah helm motor balap, menguatkan kesan maskulinnya. Bangkit memang keren. Sangat keren. Tak hanya itu, saat dia berhenti di depanku, aku mencium aroma parfum maskulin. Tak seperti biasanya saat kuliah yang tak pakai parfum apapun.


.


"Mmm kamu ganteng banget hari ini," kataku sambil memakai helm yang disodorkan Bangkit.


"Kamu bisa aja, yang. Ayo naik," kata Bangkit.


"Wangi banget, ya. Ntar kalo cewek lain nempel ke kamu gimana?" tanyaku sambil naik ke motor Bangkit.


"Gak lah. 'Kan udah ada kamu yang jagain. Iyalah wangi kan mau ketemu permaisuri di hatiku," kata Bangkit lalu mulai menyalakan mesin motornya.


Aku tersipu. Akupun melingkarkan tanganku ke pinggang Bangkit. Bangkit mulai menjalankan motornya dgn kecepatan sedang. Aku diam tanpa kata, menikmati suasana indah bersama orang yang aku sayang. Sekitar beberapa menit kemudian, Bangkit membelokkan motor ke sebuah taman kota. Kami berdua pun turun dari motor sesampainya di parkiran. Aku melepas helm, lalu merapikan jilbab yang sedikit berantakan.


.


"Tetep cantik kok, sayang," gombal Bangkit.


"Iih, ini gimana sih," kataku cemberut, sambil membenahi jilbab.


"Cewek mah emang ribet, ya!" kata Bangkit, namun tak kupedulikan.


Lalu, aku & Bangkit berjalan menuju taman. Bangkit memegang tangan kananku. Aku hanya terdiam. Kami berjalan cukup jauh melewati orang-orang yang berlalu lalang di sekitar taman.


"Kita duduk di sini aja, ya!" kata Bangkit sambil menunjuk sebuah bangku yang cukup untuk diduduki 2 orang.

__ADS_1


Kami berdua pun duduk sambil masih tetap berpegangan tangan. Di sekitar kami, agak sepi dari orang yang berlalu lalang. Mungkin karena bangku yang kududuki ini letaknya paling jauh dari parkiran.


.


"Aku sayang kamu, yang," kata Bangkit.


"Aku juga," jawabku singkat.


Lalu kami berdua saling diam. Bagiku, berada di samping Bangkit itu cukup membuatku bahagia. Tak perlu diungkapkan dengan kata-kata. Diam di sampingnya, sudah sangat membuatku nyaman.


Bangkit pun melepas pegangannya & merangkul pundakku. Aku menyandarkan kepalaku ke bahu kiri Bangkit. Rasanya indah sekali. Lalu, Bangkit mendekatkan wajahnya ke wajahku. Daaan...


*Cupp


Bangkit mencium pipiku. Aku sedikit kaget.


"Aku gak pernah menyangka kamu bisa seperti ini," kataku.


"Itu karena aku sayang kamu," kata Bangkit.


Lalu, kami terdiam lagi. Menikmati suasana nyaman yang sangat jarang bisa kurasakan. Lalu, kami sadar kalau sebentar lagi kami masuk kuliah. Kami berdua pun kembali ke kampus dengan perasaan yang sangat bahagia.


.


***

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2