
Satu bulan berlalu dengan sangat indah. Kami berenam semakin sering bertemu. Kadang, mencari-cari waktu agar bisa kencan bareng. Yang paling sering, makan bareng di kantin, di bangku pojok seperti biasa.
.
Namun, sedikit berbeda untk hari ini. Entah kenapa, Roy yang biasanya periang di kelas, jadi lesu. Di kantin, hanya ada Vina, Dimas & Roy. Mungkin, Bangkit belum keluar kelas. Ups! Diana juga belum terlihat. Ah, barangkali anak Sastra sedang sibuk-sibuknya.
.
"Woy! Napa sh lesu gitu, Roy?" tanya Vina.
Yang ditanya hanya diam saja sambil mengaduk-aduk sotonya.
"Itu kenapa ga dimakan?" tanyaku menimpali, melihat Roy dari tadi belum makan juga. Padahal, makananku sudah hampir habis.
"Kalo ada masalah cerita, Bro!" kata Dimas.
Namun, Roy tetap tak bergeming.
Aku menyeruput es teh ku karena sangat haus.
"Gue diputusin sama Diana," kata Roy.
"Apaaa???" tanya Vina & Dimas bersamaan.
"Uhuk-uhuk," aku tersedak minumanku, "Serius?" tanyaku.
"Iya. Gue udah putus sama dia," ulang Roy.
"Tapi kenapa?" tanya Vina.
"Katanya dia mau pindah sama keluarganya ke Jakarta. Dan dia ga sanggup LDR-an. Ya udah, gue terima aja," jawab Roy.
"Harusnya kamu ga nyerah gtu aja," timpal Vina.
"Trus, kuliahnya gamana?" tanyaku.
"Ga tahu. Katanya mau pindah juga," jawab Roy.
"Yang sabar ya, Bro. Mungkin Diana bukan jodoh lo," hibur Dimas.
"So pasti," kata Roy.
.
Aku menatap Roy dengan tatapan kasihan. Seolah ikut hanyut dengan apa yang dirasakannya. Roy pun menatapku dengan tatapan datar. Aku menyunggingkan senyum kaku, Roy tersenyum kaku pula. Kami berpandangan cukup lama. Dengan perasaan hati masing-masing, yang entah itu perasaan apa.
.
__ADS_1
Tiba-tiba...
Brak!!!
Bangkit menggebrak meja yang ada di hadapanku, yang membatasi aku & Roy.
"Jangan coba-coba deketin cewek gue!" kata Bangkit ketus.
"Sory, bro. Gue cuma ga sengaja liat dia," kata Roy santai.
"Ga sengaja? Lo bilang ga sengaja padahal lo sama Annisa pandang-padangan selama satu menit! Sampai-sampai Annisa ga menyadari gue udah berdiri di sini!" kata Bangkit sambil menarik kerah baju Roy.
Aku berdiri & menatap Bangkit lekat-lekat.
"Kenapa kamu jadi posesif gini? Kita kan cuma sahabatan. Gak lebih!" kataku geram.
"Sahabat? Gue ga butuh sahabat yang ngerusak hubungan orang lain!" kata Bangkit marah.
Aku beranjak pergi.
"Tunggu, Nis!" seru Roy, membuatku tak jadi pergi.
"Harusnya gue yang pergi. Sory udah bikin salah paham. Tenang aja, Bro. Gue akan menjauh & hapus persahabatan ini. Gue juga bakalan ngehapus grup WA kita. Gue minta maaf. Tolong lepasin," kata Roy.
Bangkit melepaskan Roy & Roy pergi dari hadapan kami. Aku kembali duduk dengan wajah kesal. Bangkit juga duduk di hadapanku.
"Iya-iya. Aku ngerti," jawabku, kesal.
.
***
Semenjak kejadian Bangkit menggebrak meja di kantin, aku selalu berusaha menjauhi Roy. Bahkan, aku sudah tidak pernah berbicara lagi dengan Roy. Aku sadar. Pacarku Bangkit. Bukan Roy. Dan kencan pun sekarangg hanya 4 orang. Aku, Bangkit, Vina & Dimas. Di kantin pun, aku sudah jarang sekali melihat Roy. Jadi, hari-hari kami saat makan di kantin, hanya 4 orang. Aku pun berusaha selalu setia pada Bangkit. Tapi entah mengapa, Bangkit jadi jarang menemuiku. Saat kutanya, alasannya sibuk & sibuk terus. Sehingga, aku lebih sering jadi 'obat nyamuk' Vina & Dimas. Tapi, aku tetap bahagia karna Bangkit selalu chat denganku. Di tengah kesibukan Bangkit, dia selalu menjaga komunikasi denganku. Tentang kabar Diana, aku kurang tahu. Sepertinya, dia sudah pindah & tidak ada lagi di kampus ini.
.
***
Sepulang kuliah, seperti biasa aku pulang bersama Vina. Tiba-tiba, Roy memanggilku.
"Annisa! Ini, buku kamu ketinggalan!" teriak Roy.
"Terimakasih," kataku sambil menerima bukuku yang disodorkan Roy.
"Sama-sama," kata Roy sambil menyunggingkan senyum.
Entah mengapa, saat Roy tersenyum, refleks aku pun tersenyum. Dan, kami berpandangan lama sekali.
__ADS_1
"Nis! Nisa! Awas, Nis!" bisik Vina.
"Kenapa, Vin?" tanyaku.
Aku terkejut melihat Bangkit datang & dia menarik kerah baju Roy.
"Lo lagi! Lo lagi! Udah berapa kali gue bilang! Jauhi Annisa!" ketus Bangkit.
"Gue cuma nyerahin bukunya Annisa!" teriak Roy.
"Alah, alesan lo!" seru Bangkit.
"Beneran! Gue serius!" seru Roy.
"Gue ga percaya!" seru Bangkit.
"Lo tanya tuh si Annisa," kata Roy.
"Apapun alesan lo, gue ga akan maafin lo!" seru Bangkit.
Aku menutupi kedua telingaku.
"STOOP! STOOPP! STOOOOPPP!" teriakku.
Bangkit pun melepaskan kerah baju Roy.
"Aku muak denger pertengkaran ini! Tolong hentikan! Jangan kayak anak kecil!" teriakku.
"Aku cuma menjaga hubungan kita, sayang," kata Bangkit pelan.
"Menjaga hubungan? Kamu bilang menjaga hubungan? Kamu pikir chat an itu menjaga hubungan? Selama ini kamu kemana aja?" tanyaku marah.
"Aku sibuk yang," kata Bangkit.
"Sibuk! Sibuk! Sibuk terus!" seruku.
Bangkit hanya terdiam. Vina & Roy juga diam.
"Kamu aja ga bisa atur diri kamu sendiri, ga bisa atur mana waktu sibuk & mana waktu buat pacar! Sok-sok an atur orang lain!" kataku ketus.
Lalu, aku mengajak Vina pergi, meninggalkan Bangkit & Roy yang masih diam di tempat.
.
***
Bersambung.
__ADS_1
Maaf saya lama upload,karena ada inseden yang menimpa saya, yang mengharuskan istirahat total selama beberapa hari.