Hijrahku Dari Pacaran

Hijrahku Dari Pacaran
part 27


__ADS_3

Keesokan harinya, aku tetap mengikuti pelajaran mbak Irma. Meski hatiku dongkol. Tapi, aku tidak boleh menyalahkan mbak Irma. Sebab, aku hanya meminta saran & mbak Irma memenuhi permintaanku. Berarti mbak Irma tidak salah. Yang salah adalah konflik batin di dalam diriku sendiri. Akupun berusaha menepis rasa jengkelku pd mbak Irma.


Kami menyelesaikan materi hingga 6 jam lamanya. Seperti biasa, aku & mbak Irma istirahat dengan menikmati hidangan.


.


Jujur saja, aku masih bertanya-tanya tentang penjelasan mbak Irma kemarin & berniat menanyakannya hari ini. Aku menarik nafas dalam-dalam & kupejamkan mata. Lalu menghembuskannya pelan-pelan sambil membuka mata.


.


"Bismillaah," do'aku lirih.


"Mbak, aku mau menanyakan hal kemarin. Ada bagian yang aku tidak paham dari penjelasan mbak Irma," ucapku serius.


"Silakan, Nis," jawab mbak Irma tak kalah serius pula.


"Mbak 'kan menjelaskan kalau pacaran itu dilarang dalam Islam, karena mendekati zina. Tapi, selama Annisa pacaran itu tidak sampai berbuat hal tak senonoh koq, mbak. Paling cuma ketemuan, jalan bareng, kencan, dinner, pelukan. Dan terakhir sebelum mantanku meninggal, aku hanya mencium keningnya saat sakit. Itu saja. Apakah yang seperti itu juga dilarang, mbak?" tanyaku.


Mbak Irma mengernyitkan dahi, sebelum kemudian menjawab dengan bijak,"Ketahuilah Annisa. Zinanya mata adalah dengan memandang yamg haram, zina telinga adalah dengan mendengarkan yang haram. Zina mulut itu dengan membicarakan yang haram. Zina tangan adalah menyentuh yang haram, yakni orang yang belum halal untuk kita. Zinanya kaki adalah dengan melangkah menuju yang haram. Sedangkan zinanya hati adalah berangan-angan tentang yang haram atau orang yang haram untuk kita. Jadi, dengan kamu merindukan dia saja, itu sudah zina hati. Maka berhati-hatilah. Ini penjelasan dari potongan hadits shohih. Semoga kamu paham ya Annisa."


Mbak Irma tersenyum ramah. Aku manggut-manggut.


"Jadi, kita tidak boleh mencintai lawan jenis sebelum menikah, mbak?" tanyaku.


"Boleh saja, Nisa. Asal jangan diungkapkan langsung. Jika ada 2 insan yang saling mencintai, obatnya ialah menikah. Jika belum mampu, maka berpuasalah. Berpuasa disini maksudnya bertahan dalam kesendirian. Artinya jomblo sampai halal, dengan tetap fokus memperbaiki diri," jawab mbak Irma.


"Trus kalo misalnya Annisa cuma chattingan doang, gak boleh juga ya mbak? 'Kan gak ketemu langsung?" tanyaku.

__ADS_1


"Ketahuilah, chatting dengan laki-laki non mahram itu termasuk zina mulut atau zina lisan. Bukankah, dengan chat terus lama-lama kalian akan saling merindukan? Sedangkan merindu sudah termasuk zina hati? Jadi, tetap haram ya sayang," jelas mbak Irma.


"Tapi 'kan mbak, aku cuma pengen senang & bahagia? Kenapa sih?" tanyaku mulai kesal.


"Yaa terserah kamu. Saya cuma menjawab karena kamu bertanya. Semoga suatu saat nanti, hidayah Allah menyentuhmu," jawab mbak Irma, tanpa menunjukkan muka sebal terhadapku. Dia tetap sabar.


"Ya udah lah, mbak. Terimakasih banyak atas penjelasannya. Kita belajar lagi, yuk," ujarku ingin mengakhiri pembahasan menyebalkan ini.


Mbak Irma hanya mengangguk.


Lalu, aku & mbak Irma belajar lagi.


.


***


Setelah adzan Dzuhur berkumandang, kami bermaksud mengakhiri pelajaran hari ini.


"Iya, mbak. Annisa juga udah capek. O ya aku pengen ke Perpus kota, tapi belum tahu tempatnya. Sepertinya, aku butuh banyak buku. Apa mbak Irma tahu tempatnya?" tanyaku.


"Ooh, itu sih udah tempat langganan mbak. Gimana kalo besok saja kita kesana?" tawar mbak Irma.


"Waah, tidak kusangka. Boleh juga, mbak. Tapi aku harus ijin dulu sama Papa Mama," kataku berbinar.


"Iya, mbak tahu itu koq. Ya udah, mbak pulang dulu ya. Assalaamu'alaikum warahmatullaah," pamit mbak Irma.


"Wa'alaikumussalaam warahmatullaahi wabarakaatuh," jawabku gembira.

__ADS_1


.


***


Mentari pagi bersinar cerah. Aku menatap cermin sehabis mandi. Aku sudah rapi dengan celana jogger pen biru laut, yang kupadukan dengan kaos panjang warna ungu. Juga jilbab segiempat yang menghiasi kepalaku. Aku tersenyum senang, karena hari ini aku diijinkan keluar rumah. Yakni, ke Perpus kota. Jenuh rasanya di rumah terus semenjak sakit. Sudah lama aku ingin kesana, namun belum tahu jalannya. Dan kali ini, aku bisa kesana bersama mbak Irma.


Tiin.. Tiiiiiiinnn...


Klakson mobil mbak Irma terdengar nyaring dari dalam kamarku.


"Iyaa mbaaak!!" teriakku sambil mengambil tas selempangku dan berlari keluar.


Lalu, kukunci pintu rumah karena Papa Mama sudah berangkat kerja.


Aku segera masuk mobil dan memakai sealbeath atau sabuk pengaman. Mbak Irma tampak anggun dengan gamis pink cerah dan jilbab warna senada yang menjuntai hingga selutut. Dia duduk di belakang setir. Mbak Irma memang sudah memiliki SIM mobil karena usianya yang sudah cukup dewasa.


Suasana hening selama perjalanan. Mbak Irma fokus nyetir. Sementara aku melihat suasana kota melalui kaca mobil.


Sekitar 1 jam kemudian, kami sampai di Perpus kota. Sebelum turun dr mobil, aku melihat sosok yang sangat kukenal sedang duduk membaca buku.


*Deg


"Kak Bim?" batinku, kaget.


.


***

__ADS_1


Bersambung.


.


__ADS_2