
Aku membuka mata & perutku masih sakit sekali. Kulihat tanganku telah diinfus. Bibi duduk di kursi samping ranjangku & menunduk.
"Bi.." panggilku. Bibi mengangkat kepalanya.
"Alhamdulillaah, Nak. Kamu sudah sadar?" tanya Bibi.
"Iya, Bi. Annisa di rumah sakit ya? Paman & Om Dewa dimana, Bi?" tanyaku.
"Iya. Kamu di rumah sakit, sayang. Paman & Om Dewa sedang sholat di mushola," jawab Bibi.
"Annisa sakit apa, Bi?" tanyaku.
"Kamu... Kamu mengalami peradangan yang parah pada lambung. Tapi belum pasti, harus melalui pemeriksaan sinar X. Itupun menunggu badanmu pulih dulu. Jika memang benar radang lambung, akan dilakukan operasi. Makanya, kamu harus lekas sehat ya? Ini ada jatah makan dari rumah sakit. Bibi suapin ya?" jelas Bibi sambil mengambil piring berisi nasi ayam & sayur.
"Annisa mau dioperasi Bi?" tanyaku, kaget. Baru pertama kali aku akan dioperasi.
"Iya. Banyak-banyak berdo'a saja ya, Nak. O ya Papa Mamamu akan kesini. Tadi Bibi sudah nelfon. Yuk, makan dulu," nasihat Bibi.
"Papa Mama mau kesini? Annisa seneng sih, tapi..." kataku.
"Kamu tenang saja. Paman & Bibi akan merahasiakan semuanya tentang Adam. Bibi tidak mau kamu shock karna dimarahi. Bibi sangat menyayangi kamu, Nak. Bibi tahu kamu belum bisa melupakan Adam. Tapi, kamu harus move on ya sayang," nasihat Bibi, sendu.
Aku mengangguk dengan wajah lesu. Lalu mulai memakan nasi yang disuapkan oleh Bibi. Fikiranku masih berputar-putar, apakah mampu menutupi semua kesedihanku dari Papa & Mama?
.
Selesai makan, aku bertayamum di dinding kamar rumah sakit dan sholat 'Asar dengan isyarat mata & tangan, sebab badanku belum bisa bangun karena sakit sekali rasanya.
.
***
Keesokan harinya.
Papa & Mama telah tiba di RSUD Jakarta, tempat aku dirawat. Mereka tak henti-hentinya berdo'a untuk kesembuhanku dan terus mensupportku.
__ADS_1
.
Detik-detik dimana aku akan masuk ruang pemeriksaan sinar X, aku dibimbing kalimat tahlil oleh Papa. Aku telah siap insyaaAllaah apapun yang terjadi.
.
"Laa ilaaha illallaah. Laa ilaaha illallaah. Laa ilaaha illallaah..."
.
Seketika Dokter menyuntikkan obat bius padaku, aku tidak sadarkan diri.
.
***
Aku membuka mata.
"Alhamdulillaah," ucapku lirih, mengucap syukur. Namun, badanku terasa berat sekali. Seolah, aku sudah tidur di ranjang rumah sakit sekian tahun lamanya. Aku mulai menggerakkan tanganku, rasanya lemas sekali. Badanku tak bisa digerakkan. Hanya kepala yang bisa menoleh ke kanan & ke kiri. Aku meraba lambungku, telah banyak berbagai macam jahitan. Aku melihat sekitar di dalam kamarku. Mama sedang menunduk lesu di samping ranjangku, mungkin beliau ketiduran. Paman & Bibi menunduk, kelihatan seperti menangis. Sedangkan Papa, beliau sedang menghadap kiblat berdo'a dengan khusyuknya. Sangat mungkin bahwa beliau berdo'a untukku.
.
Mama berdiri dari kursinya dan menghapus air mata di pipinya.
"Mama kenapa nangis?" tanyaku.
"MaasyaaAllaah. Alhamdulillaah sayang. Akhirnya, kamu sadar juga," kata Mama lalu mengecup keningku.
Papa, Paman & Bibi segera berdiri menghampiriku.
"Alhamdulillaah," ucap mereka bersamaan.
Lalu, Papa memanggil Dokter & Dokter memeriksaku.
"Ini semua keajaiban dari Tuhan. Keadaan putri Bapak berangsur-angsur membaik. Kami akan selalu mengecek perkembangannya & melakukan perawatan intensif. Saya permisi dulu," jelas Dokter lalu berlalu pergi.
__ADS_1
"Terimakasih Dok," jawab Papa.
.
"Kalau boleh tahu, berapa lama Annisa tidur di ranjang ini, Ma?" tanyaku.
"Mmm... Semua itu tidak penting ya sayang. Yang penting, kamu sudah sehat. Ya? Yuk sekarang makan dulu," jawab Mama.
Aku mengangguk. Tapi, batinku ragu. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan oleh Mama.
.
***
Seminggu kemudian, aku berangsur-angsur membaik. Alhamdulillaah sudah bisa sholat dengan duduk. Bisa makan sendiri, tanpa perlu disuapi. Mama & Bibi selalu setia menginap di rumah sakit dan merawatku. Sedangkan Papa & Paman bolak-balik dari rumah karena harus bekerja, sebab tidak bisa ambil cuti seperti Mama & Bibi.
.
Siang ini, saat Papa & Paman sedang bekerja. Mama sedang sholat di mushola. Bibi hendak menyuapiku.
"Bi, Annisa sudah bisa makan sendiri," tolakku.
"Tidak apa, mumpung kamu masih di Jakarta," kata Bibi.
Namun Bibi tetap bersikeras menyuapiku. Akupun mengiyakannya.
"Bi, Annisa mau tahu. Berapa lama Annisa tak sadarkan diri?" tanyaku di sela-sela makan.
Lagi-lagi Bibi hanya diam saja. Seolah ada yang mereka sembunyikan.
.
***
Bersambung.
__ADS_1