
Hari-hari kami menjadi sangat indah. Alhamdulillaah, Adam kembali bangkit dengan dukungan teman sekelas. Ia menjadi seperti yang dulu.
Teman-teman cowok pun menyedekahkan baju seragam layak pakai yang tertumpuk di lemari mereka. Juga baju-baju dan celana keren agar Adam tampak bersih seperti mereka. Aku & teman-teman cewek sengaja membelikan Adam tas, sepatu & peralatan-peralatan sekolah lainnya. Semua orang tua kami setiap hari memberikan santunan kepada ibu Adam ke rumahnya. Hingga kehidupan mereka menjadi lebih baik lagi. Termasuk paman & bibi. Penampilan Adam menjadi tampan dan memukau cewek-cewek satu sekolah. Namun, tetap saja mereka masih menghinanya karena mereka belum tahu yang sebenarnya.
.
Tak hanya itu, di kelas Adam sudah berani berkelompok dengan aku & Meli untuk belajar bersama. Ternyata, kecerdasan Adam di luar dugaan kami. Bahkan, ia menyelesaikan soal dengan sangat cepat. Ia bisa mengerjakan soal kelas XII, maasyaaAllaah. Aku & Meli ikhlas menjadi peringkat 2 & 3, asalkan Adam di peringkat 1. Semoga. Kami bertiga selalu bersama, menjadi sahabat. Di kelas, di kantin, dimana-mana. Dan setiap Jum'at kami bergantian ke rumah Meli & Adam untuk persiapan UKK yang tinggal 1 bulan lagi. Sedangkan hari Minggu, belajarnya di rumah Pamanku dari pagi sampai Dzuhur. Sedangkan, Dzuhur sampai sore, digunakan Adam untuk berlatih bela diri di taman belakang rumahku. Pelatihnya adalah mata-mata Paman yg selama ini mengawalku ketika bersama Kak Bim, namanya Om Dewa.
.
Sebagian teman-teman cowok dengan tingkah konyolnya, membawa buku "Cara Menjadi Cowok Maco", "Cara Berjalan Seperti Pangeran", "Menjadi Cowok Keren Mendadak", "Cara Menyatakan Cinta pada Pujaan Hati", dan lain-lain. Mereka membacanya & mempraktekannya kepada Adam. Mereka melatih Adam berjalan sprti di buku yang mereka baca. Ah, ada-ada saja mereka.
.
Mulai berdatangan gosip-gosip aneh tentang kelas kami, tentang perubahan sikap di kelas kami terhadap Adam.
.
***
Tak terasa, UKK seminggu lagi. Kami semakin giat belajar. Tak ada lagi yg mencontekku. Semua berusaha menyelesaikan PR dan lainnya sendiri. Aku, Adam & Meli menjadi jarang ke kantin. Kami lebih banyak di kelas untuk belajar bersama, sembari memakan bekal.
.
Di suatu siang, saat istirahat. Kelas sepi, tinggal kami bertiga. Tiba-tiba, beberapa murid laki-laki mendatangi Adam. Mereka tak lain adalah Toni & gengnya, preman paling ditakuti di sekolah ini.
"Hey! Kamu, Dam! Kamu tidak pantas bersama Annisa & Meli! Mereka cantik, pintar & kaya. Sedangkan kamuu?? Jelek, bodoh & miskin. Aku mencintai Annisa, walaupun aku tahu tak 'kan pernah mendapatkannya. Aku tidak rela kamu dekat-dekat dengan Annisa! Bandingkan kau dengan aku! Ayahku seorang pengusaha kaya! Aku bisa ke salon untuk menjadi keren! Tak seperti kamu! Keren karena bantuan teman-teman! Sadar, Dam! Dimana malumu??" ujar Toni sambil menarik kerah baju Adam dan melotot.
__ADS_1
"Hueek! Orang jahat seperti kamu tak pantas mencintaiku!" balasku, mau muntah.
"Diam kamu!" ujar Toni berteriak.
Adam tidak takut sedikitpun. Sementara, Toni terus menghinanya. Semakin ia dihina, semakin ia mengepalkan tangannya. Ia ingin melakukan perlawanan yang selama ini terpendam.
"Ayo, Dam! Ini saatnya," ucapku pada Adam.
.
Dan.. Bukk!!! Bukk! Bukk!
Adam memukuli wajah Toni, ia sudah tak tahan lagi. Toni hendak melawan, dengan cepat Adam menangkap kepalan tangan Toni dan memlintirnya hingga Toni kesakitan. Teman-teman Toni hendak memukul wajah Adam, tapi dengan ilmu bela diri yang telah ia kuasai, dengan sigap Adam menghajar mereka hingga babak belur. Lalu, guru BP & Kepala Sekolah menghampiri kami.
"Stooopp! Kalian semua, ikut Bapak ke ruang BP!" perintah Bapak Kepala sekolah. Adam & geng Toni mematuhinya.
.
"Silakan," jawab Bapak Kepsek.
Aku mengikuti mereka, tak lupa membawa HP rekaman Meli kejadian di kelasku.
Semua anak ternyata mengintip di balik jendela kelasku. Mereka terheran-heran.
"Adam bisa mengalahkan Toni & teman-teman nya?"
"Anak miskin itu dapat kekuatan darimana?"
__ADS_1
"Toni bisa kalah? Preman sekolah yang paling kuat itu?"
"Mana mungkin?"
.
Gosip-gosip para siswa di sekitarku.
.
***
"Kenapa, Adam? Kamu menghajar Toni & teman-temannya?" tanya Bapak BP serius. Saat kami semua sudah duduk di ruang BP.
.
Adam menghela nafas panjang, menenangkan diri. Ia menunduk.
"Pak, selama ini saya menjadi korban Toni & teman-temannya. Tapi, saya tidak berani melapor sebab mereka terus mengancam saya. Saya sudah lama dipukuli mereka, bahkan hampir tiap hari. Saya tak ada kekuatan melawan.Tapi, suatu hari saya mendapat dukungan dari teman sekelas & mendapat kekuatan saya kembali. Saya baru bisa membalasnya hari ini," jelas Adam membuatku terperanjat.
"Masih ada rahasia yang belum diceritakan Adam padaku. Tapi, aku bersyukur bisa mengetahuinya hari ini," batinku.
"Benarkah itu semua, Toni?"
Toni mngangguk ketakutan.
.
__ADS_1
***
Brsmbung.