
Hari ini, kebetulan dosen tidak hadir. Jadi kami pulang lebih awal. Aku ikut ke rumah Vina naik angkot, untuk melaksnakan amanat Papa & Mama. Yakni, memastikan bagaimana kelanjutan pekerjaan Bapak Vina.
.
Aku telah duduk di ruang tamu bersama Vina & bapak ibunya. Di meja telah disediakan minuman & beberapa piring berisi kue.
.
"Ayo, Nduk. Diunjuk dulu," kata Ibu Vina.
Aku bengong, tak paham Bahasa Jawa.
"Mmm, maksud Ibuku, 'Ayo, Nak. Diminum dulu,' gitu Nis," kata Vina seolah paham kebingunganku.
"Oh, iya, Bu," jawabku, lalu minum.
"Jadi tujuan saya kesini untk melaksanakan amanat Papa Mama saya, untuk menanyakan bgaimana pekerjaan Bapak sekarang? Stok sayurnya dimana, Pak?" tanyaku, to the point.
"Oh, alhamdulillaah, Dek. Kami sudah punya ganti juragan sayur yang lain. Beliau baik hati, tidak seperti Pak Dirman. O ya, Dek. Makasih banyak, Dek. Karena keluarga Adek sudah membantu membayarkan semua biaya kuliah Vina smpai selesai. Bapak tidak tahu cara membalasnya," kata Bapak Vina berkaca-kaca.
*Deg. Vina pasti terkejut karrna selama ini, aku merahasiakannya. Tapi, hari ini dia mengetahuinya jua.
"Apa? MaasyaaAllaah. Itu bener, Nis? Koq kamu ga pernah cerita? Tapi makasih banyak, kamu sahabat terbaik yang pernah kutemui," kata Vina berlinang air mata.
Vina memelukku, aku hanya diam tanpa kata.
"Aku minta nomor Mama kamu, aku ingin mengucapkan terimakasih secara langsung," pinta Vina sambil melepas pelukannya.
Aku pun memberikan nomor Mama ke Vina & Vina keluar untuk berbincang dengan Mama di seberang sana. Sementara, aku berbincang & bercanda dengan Bapak Ibu Vina sambil memakan kue yang disediakan oleh Ibu Vera.
Saat kami sedang asik berbincang, tiba-tiba Vina & Dimas masuk dengan langkah tergesa-gesa.
"Vina, Dimas, ada apa?" tanyaku heran.
__ADS_1
Mereka saling berpandangan, lalu diam memandangku.
"Mmm maaf Pak, Bu. Vina mau izin keluar sebentar sama Dimas & Annisa," kata Vina.
"Oh iya iya. Silakan," tutur Bapak Vina.
"Mari, Pak, Bu. Assalaamu'alaikum," pamitku.
Lalu, Vina menarik-narik tanganku keluar, menghampiri mobil Dimas.
"Masuk," pinta Vina.
"Ada apa sih sebenernya?" tanyaku heran.
Mereka masih diam, aku pun masuk ke mobil diikuti Vina yang juga ikut masuk. Dimas duduk di depan & segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Lalu, Dimas menghentikan mobilnya di sebuah taman kota.
"Turun," pinta Vina.
Kami bertiga berjalan memasuki taman. Di gerbang, ada Roy yang juga tampak sedang menunggu.
"Roy," sapaku.
Roy diam saja.
"Ini ada apa sih sebenernya? Koq kalian diem aja?" tanyaku heran.
"Liat itu, Nis!" seru Vina menunjuk ke arah taman.
Aku mengerlingkan mataku mengikuti arah telunjuk Vina.
*Tess.
Air mataku menetes tanpa diperintah. Aku melihat dari kejauhan, di sebuah bangku taman, Bangkit sedang bermesraan dengan Diana. Iya! Diana mantannya Roy! Ternyata, Diana belum pindah ke Jakarta? Dan, Bangkit sedang merangkul pundak Diana, dengan kepala Diana bersandar di bahu Bangkit.
__ADS_1
Aku segera berlari menuju mereka berdua, diikuti Vina, Dimas & Roy. Bangkit terkejut & melepas rangkulannya.
"Aku...aku bisa jelasin semuanya," kata Bangkit terbata sambil berdiri.
Plakk! Aku menampar Bangkit.
"Tega kamu yang, tega! Jadi ini yang kamu bilang sibuk? Jadi begini perlakuanmu sama aku selama ini? Kamu sadar gak sih? Empat bulan aku berjuang mati-matian pertahanin cinta kita, berusaha buat setia! Berusaha kuat walau hanya pacaran lewat chat akhir-akhir ini! Tapi apa balasan kamu? Apa? Mana janji kamu mau nikahin aku? Mana? Masih pacaran aja berani selingkuh, gimana kalo ntar berumah tangga? Ternyata selama ini aku salah nilai kamu! Kamu bukan cowok yang baik! Kamu jahat, yang! Jahat! Ooh, aku inget kamu agak membebaskan aku bergaul sama Roy, sok-sok an gak posesif! Ternyata buat bisa deketin Dianaa? Kamu sok-sok an akting marahin Roy di depan aku, ternyata kamu sendiri yang selingkuh? Aku berusaha mati-mati an ngelawan perasaanku ke Roy, dengan selalu menjauhinya! Tapi apa balasanmu? Kamu selingkuh sama temen aku sendiri??" kataku dengan wajah marah besar & berlinang air mata.
Aku melirik Diana. Wanita tak berjilbab itu tertunduk malu, tak berani menatapku.
"Sayang, maafin aku," kata Bangkit sambil meraih tanganku.
Aku segera menepisnya.
"Stop panggil aku dengan sebutan 'sayang'! Panggilan itu tak pantas kamu ucapkan! Karena panggilan itu hanya pantas diucapkan oleh orang yang benar-benar tulus mencintai. Dan itu bukan kamu!!! Kita putus!" seruku dengan menangis deras.
"Sayang, aku..." kata Bangkit memelas.
"Sekarang pergi dari sini! Pergi!! Dan jangan sampai kita bertemu lagi!" seruku dengan suara parau.
Bangkit & Diana pun prrgi dari hadapanku. Aku berbalik badan &trrduduk lesu di bangku yang tadi diduduki oleh mereka berdua. Tangisku semakin deras. Aku tak pernah menyangka mereka akan tega melakukan semua ini. Vina duduk di sampingku & memelukku. Aku menumpahkan tangisku di pundak Vina. Roy & Dimas menghampiri kami & dduk di bangku yang ada di depanku.
"Sabar ya, Nis," kata Roy.
"Mungkin Bangkit bukan jodohmu," kata Dimas.
"Ada aku di sini," kata Vina.
.
***
Bersambung.
__ADS_1