Hijrahku Dari Pacaran

Hijrahku Dari Pacaran
part 50


__ADS_3

Dosen mata kuliah jadwal terakhir, tidak ada di kampus hari ini. Kami pulang awal. Roy, dia benar-benar pindah dan tidak ada di kampus ini lagi. Hariku terasa sepi tanpanya. Aku sangat merindukannya.


.


Aku melangkahkan kakiku dengan sangat pelan menuju taman dekat kampus, dimana aku & Roy sering berduaan. Aku duduk di bangku dimana kami berdua biasa berpacaran. Aku menunduk. Merasakan kerinduan yang teramat dalam. Membayangkan Roy, seolah dia masih ada di sampingku.


.


*Ting.


Satu notifikasi tanda chat WA masuk. Dari Roy.


"Met siang, sayang," sapa Roy.


"Siang juga. Aku sangat rindu kamu," balasku.


"Aku juga sangat rindu. Aku belum jadi berangkat pindah. Ini lg siap-siap. Emang udah pulang kuliahnya?" balas Roy.


"Oh. Trus kita bisa ketemu? Aku udah pulang. Dosennya ga masuk," balasku.


"Iya. Aku mau ketemu dan mau minta yang kemarin sebelum aku pergi," balas Roy.


"Minta apa?" tanyaku.


"Tapi kmu janji ya jangan marah," balas Roy.

__ADS_1


"Iya janji," balasku.


"Aku mau kita ML, yang. Sebelum aku pergi dari Jogja," balas Roy.


"Maksud kamu, main Mobile Legend?" tanyaku ragu.


"Bukan. Tapi aku ingin membuat sebuah ikatan terlebih dahulu di rahimmu. Gini, bukannya aku bermaksud ***** sama kamu. Tapi, hanya sebagai ikatan supaya aku gak selingkuh sama cewek lain di sana. Kamu paham 'kan maksud aku?" balas Roy.


*Deg. Jantungku berdegup kencang. Aku meneteskan air mata. Aku tak percaya Roy bisa berkata seperti itu sama aku. Aku marah besar, sambil membalas pesannya.


"Kamu gila, ya?? Gak! Asal kamu tahu, aku gak akan memberikan keperawanan aku kepada siapapun sebelum aku menikah!! Kamu jahat! Kamu cowok brengsek!!" balasku.


"Lhoh, katanya tadi kamu janji ga akan marah," balas Roy.


"Ini gak aneh. Ini cuma sebagai ikatan supaya aku gak selingkuh. Aku janji akan tanggungjawab & nikahin kamu," balas Roy.


"GAK! Pokoknya gak! Kamu cowok brengsek! Kita PUTUUSS!!" balasku.


Itulah pesan terakhirku pada Roy. Aku langsung memblokir nomor WA nya. Segera kubuka FB & memblokir FB Roy. Begitu pula dengan instagram & LINE Roy, semuanya kublokir.


Aku takut. Aku sangat takut dengan Roy. Ternyata dia bukan tipe cowok baik-baik. Aku menangis sejadi-jadinya. Perasaanku campur aduk. Kedua telingaku terasa panas sekali, jantungku berdegup kencang. Sedih, takut, bimbang, dada pun terasa sesak.


Aku menunduk, memejamkan mataku dengan air mata yang terus mengalir deras dari sudut retinaku. Aku sedih sekali. Mengapa nasibku harus seperti ini? Dua bulan yang lalu, aku diselingkuhi. Dua bulan berikutnya, dapat chat dari Roy bahwa ia mengajakku berzina. Apa Roy sudah gila? Bgaimna masa depanku nanti jika aku hamil di luar nikah? Apa yang dikatakan oleh Papa Mamaku jika aku sampai menuruti perkataan Roy? Aku terus menangis merasakan perihnya peristiwa yang telah terjadi. Seketika, aku mulai lelah untuk sakit hati. Apa sebaiknya aku mengikuti saran Mbak Irma saja, ya? Yakni berhenti pacaran? Sepertinya, aku mulai menemukan jawaban dari kalimat yang masih kuingat. Dari sebuah buku Motivasi Islami : "Mengapa menjalin cinta sebelum menikah hanya akan membuat sakit hati?"


Karena pacaran hakikatnya ialah mendekati zina. Mbak Irma bilang, mendekati zina itu dilarang oleh Allah. Dan yang dilarang oleh-Nya pasti tidak baik untuk kita jika diterjang. Ya, dari kejadian antara aku & Bangkit, juga aku & Roy, membuatku bisa mengambil pelajaran darinya.

__ADS_1


.


"Kenapa? Sakit hati lagi, La?" tanya seorang laki-laki.


Aku membuka mataku. Aku seperti mengenal suaranya. Tapi, siapa, ya? Aku belum berani mendongakkan kepalaku, takut jika itu Roy. Tapi, suaranya bukan suara Roy. Laki-laki itu memakai sepatu pantopel, seperti orang kantoran. Siapa yang mengenaliku di Jogja ini selain Mahasiswa UGM? Tapi, dari sepatunya, dia bukan Mahasiswa. Aku mengurutkan pandanganku sedikit mulai dari bawah ke atas. Laki-laki yang ada di hadapanku, memakai celana kerja hitam yang longgar dan jas hitam yang rapi. Sepertinya, dia pengusaha sukses. Aku memberanikan diri menatap wajahnya, meski jantungku masih berdebar.


.


"Kak Sam?" tanyaku dengan mata terbelalak.


Aku menganga lebar, seolah tak percaya pada apa yang aku lihat. Kak Sam. Dia adalah anak Paman & Bibiku yang sudah lama minggat dari rumah. Aku berdiri, menatap Kak Sam dengan perasaan yang sangat terkejut. Air mata tak mampu kubendung lagi.


.


"Ini beneran Kak Sam? Aku gak salah lihat, 'kan?" tanyaku lagi.


"Iya, ini Kak Sam, Annisa," jawab Kak Sam.


"Kak, selama ini Kakak kemana aja? Paman sama Bibi nyari Kakak. Kenapa Kakak kabur? Kakak mau jadi anak durhaka? Kak, Paman sama Bibi sampai mengasuhku & dianggap anak, karena mereka kehilangan Kakak. Kakak kemana aja?" tanyaku nyerocos.


.


***


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2