Hijrahku Dari Pacaran

Hijrahku Dari Pacaran
part 53


__ADS_3

Adzan Dzuhur berkumandang. Sepertinya, kepulanganku dari Jogja ke Garut tinggal setengah perjalanan lagi. Papa meminta supir untuk berbelok ke sebuah SPBU. Papa memberikan uang pada Pak Supir untuk membeli bensin. Sementara, aku & Mama turun dari mobil. Kami menuju Rest Area yang lengkap dengan fasilitas mushola itu. Huh, badanku terasa capek sekali.


.


"Sholat dulu yuk, Nia. Dijamak sekalian ya," ajak Mama.


"Mmm, Annisa lagi libur sholat, Ma," jawabku.


"Oh, ya udah" kata Mama sambil berlalu ke toilet. Terlihat beberapa orag berlalu-lalang. Beberapa orang juga tidur di Rest Area yang beralaskan karpet. Aku masuk ke Rest Area & meletakkan tasku yang besar & berat. Lalu, aku menyandarkan punggung di dinding Rest Area & kujulurkan kakiku ke depan. Aku gerah sekali. Beruntung, di langit-langit Rest Area ada kipas anginnya. Sembari menunggu Papa, Mama & Pak Supir sedang sholat, aku berniat membaca novel pemberian Kak Sam. Kukeluarkan novel yang berjudul "Go Hijrah and Move up!" dari tas. Aku mulai membuka lembar pertama.


.


"Tidak ada namanya pacaran Islami. Islam mengajak ke surga, sedangkan pacaran ajakan syaithan ke neraka.


So, masih mau pacaran? Katanya mau masuk surga, mengapa yang ditempuh jalan ke neraka?"


.


Itulah pembukaan yang kubaca di lembar pertama. Kufikir-fikir, ada benarnya juga. Lanjut ke lembar kedua. Kubaca halaman demi halaman, hingga selesai Bab 1. Novel yang ditulis Kak Sam mengisahkan tentang seorang laki-laki yang berhijrah dari pacaran. Mirip dengan kisah nyata Kak Sam. Laki-laki itu diceritakan berasal dari seorg aktivis pacaran & berubah menjadi seorang pendakwah yang istiqomah dijalan Allah. Keistiqomahannya sangat teguh, terutama di bidang menghindari pacaran. Dituliskan pula dalam novel itu petuah-petuah & ceramah yang diungkapkan oleh sang tokoh saat mengisi khutbah di masjid. Di antara ceramahnya adalah :


.


"Pacaran termasuk dalam kategori mendekati zina. Allah berfirman :


"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji. Dan suatu jalan yang buruk". [AL-ISRAA' (17) : 32].


Dari ayat tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa Allah melarang kita mendekati zina. Mendekatinya saja sudah dilarang, apalagi sampai melakukannya. Dan kita adalah orang Islam, yang harus tunduk & patuh kepada aturan Allah & Rasulullah di dalam kehidupan kita sehari-hari. Di antaranya, meninggalkan larangan Allah, yaitu tidak pacaran.

__ADS_1


Oke, mungkin antum berpendapat, "Ah, saya 'kan pacarannya biasa-biasa saja. Cuma ketemuan, ngobrol, makan bareng, jalan bareng, dan sebagai nya .. Ga mungkin melakukan hal-hal yang tak senonoh".


Intinya, antum berfikir bahwa apa yang antum lakukan itu tidak melanggar agama. Padahal, itu sudah melanggar. Islam mengatur batas-batas hubungan antara laki-laki & perempuan yang bukan mahram. Apakah mahram itu? Mahram adalah orang yang haram dinikahi, seperti ayah kandung bagi anak perempuan, ibu kandung bagi anak laki-laki, kakak kandung, adik kandung, paman, bibi, kakek, nenek. Nah, terhadap orang-orang yang bukan mahram, ada batas-batas nya. Yaitu kita tidak boleh sengaja memandang lawan jenis yang bukan mahram & tidak boleh menyentuhnya. Jadi kalau diajak salaman, kita tangkupkan kedua tangan di dada. Sebagai kode bahwa kita tidak mau diajak salaman".


.


.


Itulah petuah sang tokoh yang ada di Bab 1 dalam novel "Go Hijrah and Move up!".


*Tess.


Satu titik air mataku tak terasa menetes, membasahi halaman novel yang kubaca. Aku segera mengelap halaman novel itu dengan ujung ibu jariku. Aku segera menutup novel itu & buru-buru menghapus air mata yang membasahi pipiku. Tapi hatiku masih terasa pecah.


"Jadi, selama ini aku melanggar aturan Allah? Dengan pacaran, berarti aku tidak tunduk pada aturan Islam? Aku melanggar satu ayat surat Al-Israa' tadi? Yaa Allaah, betapa hinanya diri ini. Astaghfirullaah. Ampuni aku yaa Allaah," batinku.


"Neng, kenapa nangis?" tanya Pak Supir yang baru terbangun dari tidurnya.


Rupanya, di Rest Area hanya ada kami berempat.


"Eh. Gakpapa koq, Pak. Cuma karena baca novel tadi," jawabku.


"Oh, saya kira kenapa," kata Pak Supir sambil membaringkan tubuhnya kembli.


"Apa Pak Supir tadi denger ya aku nangis?" fikirku.


Tiba-tiba, perutku sakit sekali.

__ADS_1


"Aww. Innaa lillaahi wa inna ilaihi raaji'uun," dzikirku lirih sambil memegangi perut.


"Neng? Kenapa?" tanya Pak Supir yang bangun kembali.


"Ga tahu, Pak. Mungkin karena belum makan," jawabku.


"Tuan, Tuan. Bangun Tuan," kata Pak Supir sambil menggoyang-goyangkan kaki Papa.


"Ga usah, Pak. Kasian Papa, capek," kataku.


"Eeh. Nanti Neng bisa sakit," kata Pak Supir.


Papa Mama pun terbangun.


"Iya. Ada apa?" tanya Papa.


"Itu, Neng Annisa perutnya sakit," jawab Pak Supir.


"Astaghfirullaah, Mama lupa. Annisa 'kan punya sakit maag. Ya udah, kita cari makanan, yuk," ajak Mama.


Kami branjak menuju caffe milik SPBU.


.


***


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2