Hijrahku Dari Pacaran

Hijrahku Dari Pacaran
part 47


__ADS_3

Seminggu sudah wajahku selalu murung, mengenang Bangkit yang menghancurkan semua harapanku begitu saja. Rasanya sakit sekali.


Namun, aku tak perlu menyesalinya. Sudah tak ada lagi gunanya untuk kusesali, karena Bangkit yang tak mungkin kembali.


"Ayo doong, move on! Move on! Kamu pasti bisa, koq," kata Vina, menghiburku.


"Iya, Vin. Akan aku coba," kataku sambil tersenyum lebar.


Vina pun ikut tersenyum padaku. Lalu, kami berjalan ke kantin. Kami memilih tempat duduk yang paling dekat dengan pintu keluar, bukan lagi di pojok tempat kesukaan Bangkit. Kami memesan soto & es teh, lalu mulai makan.


Lalu, Dimas datang & menyapa kami.


"Eh, yang. Hai, Nis," sapa Dimas.


Aku mengangguk karena masih sibuk makan.


"Duduk sini, yang," pinta Vina.


Lalu, Dimas duduk di hadapan kami.


"Koq kalian duduk di sini? Biasanya 'kan di pojokan?" tanya Dimas heran.


"Pojokan itu bangkunya Bangkit," jawab Vina.


Aku hanya diam saja.


"Oh, sory sory. Jadi ga enak nih sama kamu, Nis," kata Dimas ragu.


"Santai aja, Bro!" kataku.


"Tapi 'kan si Bangkit udah ga ada di sini. Jadi ya mana mungkin duduk di pojokan?" kata Dimas.


"Maksudnya?" tanyaku bingung.


"Mmm... Bangkit pindah kuliah, aku ga tahu sih pindahnya kemana. Yang jelas, mulai hari ini, dia ga di kampus ini lagi," jawab Dimas.


Aku terkejut. Namun, ada sedikit rasa lega di hatiku.

__ADS_1


"Bagus deh klo gitu, mudah-mudahan aku jadi cepat move on, karena udah ga ketemu dia lagi," kataku.


"Aamiin," do'a Vina & Dimas bersamaan.


"Ciyee kompakan. Kalian emang pasangan serasi. Aku harap, apa yang terjadi sama aku, ga terjadi sama kalian," harapku.


Vina mengusap-usap kedua bahuku. Dimas mengangguk mantap, lalu beranjak untuk memesan makanan.


.


***


Hari demi hari berlalu. Hingga terhitung tiga minggu semenjak aku putus dengan Bangkit. Aku sudah melupakan dia. Ya, aku sudah move on. Terlebih, aku sudah tidak pernah bertemu dengan nya di kampus. Sehingga, aku lebih mudah untuk melupakannya. Perasaanku dengan Bangkit sudah benar-benar pudar.


.


Hari Minggu yang panas. Hari ini, Kak Rere tidak mengajakku berbelanja karena Kak Rere sedang sakit. Aku menghampiri Kak Rere yang sedang terbaring lemah di kamarnya, usai memeriksakan dirinya ke Dokter tadi pagi dengan diantar Thea.


"Kak, udah minum obat?" tanyaku.


"Udah, Nis," jawab Kak Rere.


"Ga usah, aku udah beli lewat online tadi," jawab Kak Rere.


"Oh ya udah. Kalo gtu Kakak istirahat dulu aja. Jangan banyak-banyak pikiran ya, Kak?" kataku.


"Iya, insyaaAllaah," kata Kak Rere.


Lalu, aku pamit untuk balik ke kamarku. Aku melangkahkan kaki ke kamar. Kudengar nada dering telepon di HP ku.


"Mama," fikirku.


Aku segera masuk kamar & meraih ponselku di kasur. Kubaca nama yang tertera di layar ponselku.


"Roy? Tumben bangrt," batinku mengernyitkan kening.


Aku mengangkat telepon Roy & duduk di kasur.

__ADS_1


"Halo Roy?" sapaku.


"Iya, Nis. Maaf tiba-tiba telfon. Apa aku ganggu? Lagi sibuk kah?" tanya Roy.


"Enggak ganggu koq. Lagi santai aja. Ada apa?" tanyaku, sambil menyalakan kipas angin kamar.


"Oh enggak ada apa-apa. Cuma kangen aja," jawab Roy.


"Oh, i-iya," kataku gugup.


"Mmm aku mau tanya, apa kamu udah bener-benar move on dari mantan kamu?" tanya Roy.


*Deg. Jantungku berdegup kencang. Aku diam.


"Halo? Nis? Koq diem aja?" tanya Roy membuyarkan lamunanku.


"Eh i-iya Roy. Mmm, aku rasa aku udah melupakan Bangkit. Dan aku yakin aku udah bener-benar move on," kataku mantap.


"Apa selanjutnya...kamu memberikan aku kesempatan untuk mengisi hati kamu?" tanya Roy.


"Ya, aku akan mencoba untuk membuka hatiku buat kamu. Meskipun sejujurnya, aku belum siap buat itu, Roy. Mungkin aku masih trauma," jawabku ragu.


"Terimakasih. Kalo gtu, apa boleh aku deketin kamu?" tanya Roy.


"Mmm... Boleh," jawabku.


"Setidaknya, aku bisa menghibur hati kamu yang lagi bersedih," kata Roy.


"Iya, Roy. Itu hak kamu. Ya udah, aku masih ada kerjaan. Udah dulu ya," ucapku berbohong.


"Oke," kata Roy, lalu menutup teleponnya.


Aku mengunci layar ponselku & merebahkan tubuhku di kasur.


"Huuh," aku menghela nafas panjang. Aku sibuk dalam kebimbanganku memikirkan kata-kata Roy tadi.


.

__ADS_1


***


Bersambung.


__ADS_2