
Lambat laun, aku merasa lebih nyaman bersama Roy. Aku lebih sering bersama Roy. Kami berdua menjadi teman dekat. Terlebih di kantin, sekarang aku sudah tidak jadi 'obat nyamuk' Vina & Dimas lagi, karena ada Roy yang selalu menemaniku. Sepulang kuliah, semua anak keluar kelas untuk pulang. Aku juga hendak keluar, namun Roy memintaku untuk bicara berdua barang sebentar. Vina pun pamit pulang duluan. Mungkn dia ingin memberiku kesempatan berdua dengan Roy. Aku duduk di bangkuku, sementara Roy duduk di bangku Vina yg ada di samping bangkuku. Aku menghadapkan badanku ke samping, begitupun Roy, sehingga kami saling berhadapan.
.
"Annisa, aku minta kejelasan hati kamu," kata Roy memulai percakapan.
"Aku..ingin tanya sesuatu trrlebih dahulu," kataku.
"Tanya apa?" tanya Roy.
"Apa kamu masih menyimpan perasaan pada Diana?" tanyaku.
"Tentu saja tidak. Aku udah lama putus, bahkan sebelum kamu putus sama Bangkit," jawab Roy.
"Aku mau tanya lagi. Kenapa kamu gak langsung labrak Diana pas brrduaan sama Bangkit di taman? Kenapa harus nunggu aku waktu itu?" tanyaku.
"Kami berdua udah putus. Jadi aku gak berhak ngelarang-larang dia, hubungan sama siapa aja itu terserah Diana. Jadi aku nunggu kamu memergoki langsung si Bangkit karena kamu masih jadi pacarnya dia. So, yang masih berhak itu kamu, waktu itu," jawab Roy.
"Tapi apa kamu sudah bener-bener move on dari Diana?" tanyaku.
Roy memegang dua tanganku.
"Annisa. Bagi aku, Diana tak ada apa-apa nya dibanding kamu. Aku sudah benar-benar melupakan dia, jauh sejak saat dia pindah dari kampus ini," kata Roy.
Roy mendekatkan tanganku ke dadanya.
"Dan di hati ini, sudah ada bidadari pengganti dia yang berhati berlian. Dan bidadari itu adalah kamu. Kamu istimewa, kamu wanita hebat yang pernah kutemui. Begitu mudahnya aku melupakan dia, karena srlalu ada kamu yang memenuhi pikiranku. Aku cinta kamu, karena aku gak buta. Aku gak buta seperti Bangkit, yang menukar bidadari dengan seorang wanita biasa. Aku tidak bodoh. Aku akan berusaha memiliki bidadari yang ada di hadapanku. Annisa, please terima cintaku. Maukah kamu jadi kekasih hatiku?" kata-kata Roy sangat puitis, membuat hatiku meleleh.
Aku tersenyum lebar memandang wajah tampan Roy yang selalu menyulitkan tidurku itu.
"Aku juga sangat mencintaimu. Aku melihat aura ketulusan yang terpancar di wajahmu. Aku mau jadi kekasihmu," kataku mantap.
Roy pun tersenyum lebar.
"Terimakasih. Yok, kita pulang," ajak Roy sambil berdiri.
Aku ikut berdiri dan Roy menggandeng tanganku. Kami berjalan beriringan keluar kelas dengan perasaan yang sangat bahagia. Aku mencintai Roy setulus hatiku.
.
__ADS_1
***
"Vin, aku jadian sama Roy hari ini," isi pesan WA ku ke Vina.
Tak lama kemudian, Vina membalas.
"Akhirnyaaaa.... Selamat! Semoga kamu bahagia," balasnya.
Aku mengunci layar ponselku. Adzan Maghrib berkumandang. Aku segera mengambil air wudlu untuk ikut sholat Maghrib berjama'ah.
Imam sholat dipimpin oleh Kak Rere. Kami sholat berjama'ah dengan khidmat.
.
Seusai sholat, aku mengembalikan mukena ke kamar. Lalu, menuju ke ruang gazebo untuk makan bersama.
"Gimana? Enak gak nasgornya?" tanya Thea yang tadi membuat nasi goreng saat kami sholat Maghrib.
"Enak koq," jawabku.
"O ya? Mau cobain dong!" kata temanku yang bernama Ria.
"Kapan-kapan aku ajarin, ya. Ala restaurant nih!" timpal temanku yang bernama Dea.
"Iya," jawab Thea.
Makanan buatan Thea memang sangat enak. Dia adalah anak dari seorang pemilik resto. Aku senang sekali punya teman-teman kos yang baik. Kami sudah seperti satu keluarga. Selesai makan, aku ikut mencuci piring. Setelah semuanya bersih, aku kembali ke kamar & mengecek HP ku.
"Sepuluh panggilan tak terjawab?" batinku, kaget.
Aku menelepon balik. Siapa lagi kalau bukan Roy.
"Halo, Roy. Maaf aku tadi lagi makan," kataku setelah Roy mengangkat teleponku.
"Iya, sayang. Gakpapa," kata Roy.
*Deg.
"Sayang? Koq kamu panggil aku 'sayang' sih?" tanyaku, mengernyitkan dahi.
__ADS_1
"Kamu udah lupa, ya? Kita udah jadian tadi siang," kata Roy.
"I-iya, sa-yang," kataku gugup.
"Nah, gtu dong. Jangan canggung lagi ya, manggil aku 'sayang'," kata Roy di seberang sana.
"Iya," kataku.
"Aku sayang banget sama kamu," kata Roy.
"Aku juga," kataku.
"Lagi apa, yang?" tanya Roy.
Kami pun bercakap-cakap via telepon. Sampai aku lupa keadaan sekitar. Kadang Roy juga mengajakku bercanda hingga aku tertawa terpingkal-pingkal. Aku sangat bahagia. Aku sangat beruntung memiliki Roy.
Adzan sholat Isya' pun berkumandang.
"Yang, udah adzan tuh. Udah dulu ya telfonan nya. Besok lagi," kataku menutup telepon.
"Iya, iya. Love you," kata Roy.
"Love you to," kataku.
.
***
Mentari bersinar cerah, seolah memancarkan kebahagiaan di hatiku. Ya, hatiku yang sangat bahagia karena memiliki seorang kekasih hati sejak kemarin siang. Seperti biasa, aku berjalan kaki ke kampus. Di tempat parkir, aku melihat Roy sedang menungguku, seperti yang dia katakan di chat WA tadi.
"Pagi sayangku," sapa Roy lembut.
"Pagi juga, yang," jawabku.
Kami berjalan bergandeng tangan menuju kelas. Kami diam tanpa kata.
.
***
__ADS_1
Bersambung.