Hijrahku Dari Pacaran

Hijrahku Dari Pacaran
part 33


__ADS_3

Seminggu telah berlalu. OSPEK pun selesai. Dan selama itu pula Bangkit terus mencoba mendekatiku. Tapi, aku selalu menjawab, aku tidak bisa. Aku belum siap. Dia tidak pernah putus asa. Tidak di kampus, tidak di chat, selalu mengeluarkan kata-kata gombal padaku. Ya, waktu itu aku pernah memberinya nomor WA ku.


Hari ini, hari pertama masuk kuliah. Mata kuliah demi mata kuliah kami ikuti dengan baik. Seperti hari ini, kami mengikuti penjelasan Dosen secara saksama & lancar. Kami bergegas pulang.


.


*Ting


Sebuah chat masuk di WA ku. Ternyata, Kak Rere yang chat di grup Kos kami.


"Hari ini, Ibu Sintia telah mengizinkan kita menonton akustikan mini di dekat kampus buat siapa yang mau liat. Pulang maksimal Dzuhur," isi pesan itu.


.


Aku tertarik untuk menonton. Ada beberapa penonton yang duduk di bangku taman, depan panggung tempat akustikan diadakan. Aku memutuskan duduk di bangku paling belakang, yang bisa memuat 2 orang untuk duduk.


Sebuah lagu mengharukan dibawakan oleh seorang penyanyi cewek di panggung. Lagu itu berjudul "Selamat Jalan Kekasih", soundtrack film Si Doel the Movie.


.


"Selamat jalan kekasih, kau lah cinta dalam hidupku


aku kehilanganmu, untuk s'lama-lamanya"


.


Air mataku kubiarkan menetes, menikmati suasana haru karena alunan musik & lagu itu. Aku mengenang Adam yang sangat mencintaiku, dulu. Aku tak peduli keadaan sekitar, apakah mereka menatapku atau tidak. Tiba-tiba, ada seseorang yang menyodorkan selembar tisu di hadapan wajahku. Aku menerima tisu itu & mengusap air mataku.


"Terimakasih," ucapku, tanpa melihat siapa yang memberiku tisu.

__ADS_1


"Sama-sama. Boleh aku duduk di sini?" tanya orang itu.


Aku mendongakkan kepalaku.


"Cungkring! Gangguin aja!" umpatku kesal.


Tanpa kuijinkan, Bangkit duduk di sampingku. Lalu, ia membuka laptopnya. Aku melirik ke samping. Background laptop Bangkit menampilkan foto Bangkit bersama seorang anak kecil laki-laki di sampingnya. Suasana hening.


"Kenapa kamu nangis cuma karena lagu? Jangan mellow gitu, lah!" kata Bangkit memecah keheningan.


"Terserah aku dong! Bukannya kamu kalo nyapa orang pake kata "lo gue"? Napa jadi berubah?" tanyaku makin kesal.


"Berubah sejak aku mengenalmu," jawab Bangkit.


"Gombal lagi...gombal lagi! Ngomong-ngomobg, tadi yang di sampingmu siapa? Yang di background?" tanyaku.


"Dia adikku. Sudah meninggal karena kecelakaan 6 bulan yang lalu," jawab Bangkit.


"Hmm," kata Bangkit singkat.


"Namanya siapa? Lucu sekali," tanyaku lagi.


"Adam," jawab Bangkit.


"ADAAM??" kagetku.


"Iya, kenapa?" tanyanya.


"Nama itu...persis seperti nama kekasihku," jawabku pelan. Aku mulai menitikkan air mata.

__ADS_1


"Oh, pantas saja kamu selalu menjauh saat kudeketin. Kalo gtu, aku pergi dulu. Takut pacarmu cemburu," kata Bangkit sambil berdiri & menutup laptopnya. Lalu, menjinjing laptop di tangan kirinya.


"Tapi dia sudah meninggal setahun yang lalu," jelasku lagi.


Bangkit kembali duduk.


"Hmm pantas. Pantas kamu selalu bilang padaku belum siap. Maaf membuatmu bersedih. Tapi paling tidak, kita tidak sendirian. Kita sama-sama sedih. Kehilangan orang yang sangat kita sayangi. Pantas tadi kamu nangis karna lagu yang baru aja diputar. Yang sabar ya," kata Bangkit, lalu menyentuh tanganku.


Entah kenapa, aku tidak ingin menepis tangannya seperti biasanya. Seperti ada kekuatan yang kembali membangkitkanku.


"Tidak apa. Toh, semua itu cuma masa lalu," kataku mencoba teguh.


"Ya, kamu benar. Tidak seharusnya kita berlarut-larut dalam kesedihan. Ada kalanya, kita sambut hari-hari yang baru, menghapus kekalutan masa lalu," kata Bangkit.


Lalu, ia bergegas pergi. Dengan sigap, aku berdiri &menahan tangan kanannya.


"Tunggu!" seruku.


Bangkit membalikkan badannya.


"Sekali lagi, terimakasih," kataku.


Bangkit mengangguk lalu bergegas pergi.


"Andai kamu tahu, aku juga menyukaimu," batinku memandang Bangkit sampai menghilang.


.


***

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2