Hijrahku Dari Pacaran

Hijrahku Dari Pacaran
part 7


__ADS_3

"Mengapa kau tak ceritakan semua dari dahulu, Dam?" tanyaku, masih dengan hati berkecamuk.


"Maafkan aku. Aku baru mampu mengatakannya sekarang," jawab Adam.


"Kamu pasti bisa bangkit. Aku yakin. Jangan smpai kita tak mensyukuri nikmat-Nya dengan terus seperti ini. Laa yukallifullaahu nafsan illaa wus'ahaa. Allah tidak akan membebani seseorang, melainkan sesuai dengan kesanggupannya," ucapku mengakhiri percakapan karena bel masuk sudah berbunyi.


.


***


Keesokan harinya saat jam kosong, kelasku ramai seperti biasa. Aku, Meli dan Adam saling berpandangan untuk melaksanakan rencana kami yg telah kami susun kemarin sepulang sekolah.


.


*Bukkk!!


Sebuah buku tebal sukses mendarat di mejaku dan sontak seluruh siswa diam. Akulah yg melempar buku itu. Ya, mereka selalu menyeganiku sebagai Ketua Kelas sekaligus Ketua Osis.


Aku menghela nafas panjang. Perlahan kulangkahkan kakiku mengunci pintu kelas agar tak didengar kelas lain. Tak lupa menutup korden jendela agar tak ada yang mengintip. Kunyalakan lampu. Semua masih diam di tempat duduknya, dan mungkin mereka bertanya-tanya.


Aku berdiri di depan kelas, kutatap semua muka mereka dan tak ada yang berani menatapku. Aku mengucap salam dan mereka menjawabnya.

__ADS_1


.


"Saya mohon dengan sangat, tundukkan kepala kalian dan pejamkan mata kalian. Rasakan apa yang akan kukatakan dan jangan ada yg memotong perkataanku sebelum aku selesai," ucapku membuka rencana kami. Semua mematuhiku.


"Bismillaahirrahmaanirrahiim. Laa haula walaa quwwata illaa billaah," do'aku lirih.


.


"Sebelumnya, aku mohon maaf bagi yang orangtuanya sudah tidak ada. Kalian bayangkan ayah kalian yang sedang membanting tulang. Keringatnya mengucur deras demi kalian. Rela bekerja keras. Terkadang, pura-pura tidak lelah di depan kalian sepulang sekolah, agar kalian tak mengkhawatirkannya. Dan.. Bayangkan juga ibu kalian yang dulu mengandung kalian dengan susah payah. Melahirkan kalian dengan pertaruhan antara hidup & mati. Membesarkan kalian hingga seperti sekarang ini. Tapi.. Apa balasan kalian? Kalian tidak pernah berusaha membanggakan ortu dengan prestasi. Selalu mencontek aku & Meli. Selalu nilai jelek di setiap ulangan dan naik kelas dengan nilai katrolan para guru. Apa kalian tidak merasa seperti anak durhaka?"


.


Aku diam sejenak, lalu melanjutkan.


.


Mataku tertuju pada Adam, pertanda Adam harus maju ke depan, sesuai rencana kami kemarin. Adam berdiri di sampingku.


.


"Kalian tahu bahwa selama ini kalian telah membunuh harapan terbesar Adam dengan hinaan kalian? Apa kalian tahu, ayahnya sudah meninggal dan ibunya seorang pemulung? Bayangkan jika kalian di posisi Adam! Bayangkaaan!!! Bandingkan kalian dengan Adam! Adam selalu ingin membanggakan ibunya dengan membuktikan prestasinya. Adam tidak pernah mencontekku dan Meli. Dia selalu berusaha menyelesaikannya sendiri. Tapi, tangannya kaku mengerjakan soal karena harapannya telah dibunuh oleh hinaan kalian selama ini! Dia sebenarnya cerdas & jago bela diri. Dia bukan pendiam. Tapi, semua harapannya pupus karena kalian! Tegakah kalian?? Apa kalian tidak takut dengan dosa? Dimana rasa belas kasihan kalian? Sudah bukan jamannya lagi bully-bullyan seperti ini. Kita harus bangkit. Mau jadi apa moral bangsa kita jika masih membedakan kasta? Mau jadi apa akhlaq pemuda Islam? Dimana para pembela Islam? Aku ingin menggertak kalian agar setelah ini, tak ada lagi yg membully Adam. Ini rahasia kita. Dan jangan ada yg membuka rahasia ke kelas lain! Nanti, ada waktunya sendiri aku ingin membungkam mulut satu sekolah ini yg selalu menghina Adam. Dan terakhir, yang terpenting. Aku tidak sedang membela Adam. Tapi lebih dari itu, aku membela saudara sesama muslim. Bantu Adam bangkit dari keterpurukan ini. Takutlah kalian dari siksa neraka, karena salah satu ciri penghuni neraka adalah orang sombong. Termasuk sombong karena harta, yang hanya hasil dari minta orang tua. Selesai. Silakan yang mau menyanggah," ujarku sambil berderai air mata.

__ADS_1


.


Tak ada yg menyanggahku. Semoga ini pertanda Allah menurunkan hidayah-Nya kepada mereka.


.


MaasyaaAllaah, mereka telah berlinang air mata. Semua teman laki-laki menghampiri Adam dan memeluknya. Meminta maaf, menyesali kesalahan mereka selama ini.


Aku tak berdaya lagi, bersandar di tembok depan kelas. Dan merosot, kuterduduk di lantai. Teman-teman perempuan kelasku pun menghampiriku dan memelukku. Mereka berterima kasih padaku, telah membangunkan jiwa-jiwa yg salah selama ini.


.


Dan Meli telah merekam semua ini di HP nya, dari awal hingga akhir.


.


***


Alhamdulillaah. Semenjak hari itu, semua berubah. Hubungan kami dengan Adam terasa harmonis. Kami telah menjadi satu keluarga.


.

__ADS_1


***


Bersambung.


__ADS_2