Hijrahku Dari Pacaran

Hijrahku Dari Pacaran
part 38


__ADS_3

Bangkit pun tersenyum pada Roy yang duduk di hadapanku. Dibalas senyuman manis pula dari Roy. Tak lama kemudian, Vina datang membawa sebuah nampan, dengan 2 mangkuk soto & 2 gelas es teh di atasnya.


"Hmm meskipun aku tahu akan jadi obat nyamuk di sini, tapi rasa laparku tetap tak bisa terkalahkan oleh apapun," kata Vina sambil menaruh mangkuk soto & gelas es teh ke meja satu persatu.


Aku hanya terkekeh mendengar ocehan konyolnya itu, lalu mulai makan.


"Emangnya kamu udah tahu kalo pacar Roy juga kuliah di sini?" tanyaku sambil melirik sinis ke arah Diana yang sedang sibuk dengan makanannya.


"Udah lah. 'Kan kemarin udah chatan sama Roy, dan Roy udah cerita semua tentang Diana. Diana, aku Vina. Temen sekelas Roy & Annisa," kata Vina sambil senyum sok manis ke arah Diana. Diana mengangkat kepalanya, aku buru-buru mengalihkan pandangan ke soto yang kumakan.


"Iya," jawab Diana singkat.


"Jutex banget jadi cewek," batinku.


"Yang, kamu bilang kemarin mau temenan sama cowok lain. Cowok lain yang kamu maksud, siapa?" tanya Bangkit.


"Ooh, ini. Roy ngajak aku sama Vina sahabatan. Boleh, gak?" jelasku.


"Oh, boleh. Kita mah sahabatan sama siapa aja. Dan kalo boleh, aku ikut," kata Bangkit menawarkan diri.


"Oke, jadi grup sahabat kita jadi 5 orang. Kamu juga ikut 'kan, yang?" kata Roy pada Diana. Diana hanya mengangguk.


"Ok, ntar aku bikin grup WA nya," kata Roy lagi.


Setelah itu, tidak ada yang bicara karena sedang menghabiskan makanan. Sesekali, aku tak sengaja Bangkit saling menatap dengan Diana. Hatiku rasanya seakan terbakar. Aku memakan soto dengan kesal.


"Emangnya kamu aja yang bisa bikin cemburu, yang?" batinku.

__ADS_1


Lalu, aku menatap Roy yang sedang menunduk, menghabiskan sotonya. Tak lama kemudian, Roy mengangkat kepalanya. Dan saat itulah, matanya menatapku lembut. Ada senyuman tersungging di bibirnya, begitu pula denganku. Desiran hati ini semakin kuat aku rasakan.


"Ehem!" dehem Vina yang membuat kami salting & kaget.


"Kalian ati-ati, ya! Jangan sampe ketuker pasangan!" kata Vina ketus.


"Maksud kamu?" tanyaku, pura-pura tidak tahu.


"Pacarnya siapa, yang dipandangi terus siapa," kata Vina.


Kamipun terdiam.


"Iya aku tahu aku jomblo, haha!" kata Vina heboh.


"Makanya, cari gebetan," kataku.


"Orang kayak kamu gak pantes punya pacar anak UGM!!" kata seorang cewek yang tiba-tiba melangkah ke arah kami.


Dia adalah Siska. Seorang cewek yang terkenal sombong, sok kaya & centil. Vina pun berdiri, wajahnya merah padam. Aku ikut berdiri. Vina adalah sahabatku sudah lama. Ketika dia marah, akupun akan marah.


"Dan.. Kamu gak pantes sahabatan sama cewek kaya seperti Annisa! Kamu sama Annisa itu kayak bumi sama langit tahu, gak?" kata Dara sambil melotot.


Bangkit ikut berdiri mendengar penghinaan itu. Aku menahannya dengan cepat, sehingga Bangkit kembali duduk.


"Aku bisa sendiri," kataku pada Bangkit.


"Tuh mulut dijaga, ya! Nilai belajarku memang gak setinggi punyamu. Tapi, mulutku gak sehina kamu yang suka menjelekkan orang lain!" balas Vina.

__ADS_1


"Hmm... Kamu tahu mereka berempat? Mereka orang-oran terpandang! Sedangkan kamu? Gembel!" kata Dara dengan 2 tangan mendorong pundak Vina.


Vina hendak menampar Dara, dengan sigap aku menahannya.


"Tahan, Vin! Ini di kampus. Kamu kalo ngomong jangan sembarangan, ya! Emangnya kamu tahu dari mana kalo Vina bukan orang kaya?" kataku geram.


"Kamu pake pelet apa, Vin? Sampe bisa bohongin Annisa? Annisa...Annisa. Kamu salah milih sahabat yang miskin & pembohong seperti Vina! Tahu gak? Bapaknya Vina itu pedagang sayur, dan sayurnya itu ambilnya dari Pak Juragan Dirman, Papaku. Tapi, bapaknya Vina ga pernah lunas klo ambil stok sayur! Ngutaang terus. Hm, aku juga heran, dapet uang darimana bapaknya Vina nguliahin Vina di kampus elit kayak gini!" kata Dara.


Vina menangis tersedu mendengar semua penjelasan Dara, sebelum akhirnya berlari keluar kantin.


"Vin! Tunggu, Vin!" teriakku, namun Vina tak menghiraukanku.


"Dara! Kamu tahu apa soal modal, utang dan piutang? Kamu bukan anak Ekonomi! Bisa aja 'kan bapaknya Vina itu lg ngumpulin modal? Memang semua usaha itu pasti butuh modal & pertamanya pasti ngutang dulu. Dan udah gak ada lagi kasta kaya-miskin kayak gitu! Semua Mahasiswa punya hak yang sama! Kecuali buat penghina sepertimu, ga ada yang pantas temenan sama kamu!" kataku geram.


Kuambil mangkukku yang berisi sisa kuah soto, dan...


Byurr!


Aku menyiramkannya ke baju Dara.


"Annisa! Kurang ajar!!" umpat Dara, mengangkat tangannya. Dengan sigap, aku menahannya agar tak jadi menamparku.


"Ini satu hukuman untuk satu penghinaan! Dan kamu tahu? Orang jelek adalah orang yang suka menjelek-jelekkan orang lain! Dan penyebar fitnah seperti kamu!" teriakku, lalu berlari untuk menemui Vina.


"Aku gak fitnah! Itu kenyataan!" teriak Siska.


Aku tak mempedulikan pandangan orang-orang di kantin. Fikiranku, masih fokus pada apa yang dikatakan Dara tadi. Apa benar Vina adalah orang gak mampu? Kenapa Vina gak pernah cerita? Kenapa dia menutupi semuanya tentang ini? Harusnya dia cerita, jadi mungkin aku bisa membantunya?

__ADS_1


__ADS_2