
"Harusnya Mama kamu ga prrcaya gitu aja sama tuh olshop & beli langsung di pasar tradisional daerah Garut. Ada 'kan?" tanya Dimas, sambil memakan sotonya.
.
Dimas telah memutuskan bergabung ke grup sahabat kami & kami menerimanya. Walaupun awalnya ada sedikit penolakan dari Vina. Kemarin, aku sudah curhat ke grup WA yang dibuat Roy. Semuanya menghiburku lewat chat. Dan Vina bilang, mungkin Dimas bisa membantuku karna Dimas pernah jadi pacarnya Dara & masuk ke rumah Dara. Roy memutuskan untuk menambahkan nomor Dimas ke grup untuk menyelesaikan masalahku.
.
"Mamaku lagi kena musibah, koq kamu malah nyalahin Mama aku sih? Ya mungkin Mama saking sibuknya, sampe gak kepikiran kesitu!" kataku ketus.
"Udah, udah. Gak usah bertengkar. Sabar ya, sayang," kata Bangkit yang duduk di hadapanku, di samping kiri Dimas.
"Kita harus fokus ke permasalahannya," kata Diana yang duduk di samping kananku.
"Dan fokus pada penyelesaiannya," timpal Roy yang duduk di hadapan Diana, di sebelah kiri Bangkit.
"Lalu, apa yang bisa kita lakukan, Dim?" tanya Vina yang duduk di hadapan Dimas, di samping kiriku.
"Ehem," dehem Dimas, lalu menyeruput ice coffee nya. "Aku, Vina & Dara itu satu komplek. Cuma agak berjauhan. Sejak kecil, kami bermain bersama. Tapi semua berubah semenjak kami dewasa. Tepatnya, Dara yang berubah jadi sombong & merendahkan Vina. Mungkin karna pergaulan. Semasa kecil, aku sering main ke rumah Dara. Pernah juga saat kedua orang tuaku naik haji, aku dititipkan ke rumah Dara. Tentu saja, aku tidurnya ga sekamar dengan Dara. Aku tidur di lantai paling atas, rumah Dara ada 3 lantai. Kamar yang kutempati ada di sebelah kamar Dara. Dan tak jauh dari ruangan itu, ada satu kamar yang hanya boleh dimasuki sama Papanya Siska, Pak Dirman. Bahkan pembantunya pun tak boleh masuk sekedar untuk membersihkan. Setiap jam 3 sore sampai jam 6 petang, Pak Dirman srlalu masuk ke ruangan itu. Setelah besar, aku baru tahu itu adalah tempat rahasia Pak Dirman. Kudengar keluh kesah warga, katanya banyak yang ditipu sama Pak Dirman. Kasusnya sama seperti Mamanya Annisa. Aku berniat menyelidikinya. Dara itu cinta banget sama aku. Ini jadi kesempatanku waktu itu. Aku pernah jadi pacarnya Dara. Ya, aku mantannya Dara. Mungkin kalian akan terkejut. Tentu saja bukan karna cinta. Amit-amit ya sama sifatnya. Tapi, tujuanku menyelidiki rumah Dara. Benar saja, setelah kami pacaran, aku dibebaskan keluar masuk rumah Dara. Pak Dirman itu ga peduli Dara mau bergaul sama siapa aja. Yang dia pikirkan cuma uang dan uang. Berulang kali, aku di lantai atas & pengen merekam aksi Pak Dirman di ruang rahasianya itu. Aku pengen melaporkannya ke polisi. Tapi, ada CCTV. Ya, aku ga bisa merekam karna pasti ketahuan. Hari ini, aku mengajak kalian untuk menyelidiki ruangan itu," jelas Dimas dengan muka serius.
__ADS_1
Kami pun manggut-manggut.
"Bukankah ada CCTV nya?" tanyaku.
"Kalian tenang saja. Aku sudah mempersiapkan semua peralatan untuk membongkar semuanya. Jam 3 sore, sepulang kuliah, kalian ikut aku. Sebenarnya aku sudah lama ingin melakukan semua ini. Tapi aku belum ada teman. Hari ini, aku rasa telah menemukan orang-orang yang tepat dan waktu yang tepat. Kunci yang pertama adalah di Dara. Dara harus dibuat tak sadarkan diri...." jawab Dimas.
Dimas pun menjelaskan panjang lebar tentang rencana gila yang akan dia lakukan. Kami pun menyetujuinya. Kami tidak mau ada korban lagi.
"Gue baru sadar, lo secerdas ini," ledek Bangkit pada Dimas.
"Yaelah, bro! Lo lupa gue ambil jurusan apa?" kata Dimas santai.
.
.
Aku mengirimkan audio Dimas yang memang tadi sengaja kurekam pada Kak Rere. Tadinya sih, untuk jaga-jaga, siapa tahu berguna.
Di bawah rekaman audio, aku mengetik, "Kak, aku minta dipamitin ke Bu Sintia, ya. Mau ikut menyelidiki rumah Pak Dirman. Kemungkinan besar, dia adalah tersangka yang menipu Mama." Lalu mengirimnya ke Kak Rere.
__ADS_1
.
***
Jam 3 sore. Aku, Diana, Vina, Bangkit & Roy sedang berdiri di depan kampus. Dimas melajukan mobilnya menghampiri Dara yang berdiri tak jauh dari kami.
"Hai, Dara! Pulang bareng, yuk!" kata Dimas sok manis. Kamipun menahan tawa.
"Serius, Dim? Ayo! Tumben gak cuek," kata Dara riang.
Tadi di kantin, Dimas juga bilang, Dara masih mencintai Dimas. Dara masuk ke mobil. Sayup-sayup, kudengar percakapan mereka. Mobil Dimas masih berhenti.
"Nih, minuman buat kamu. Pasti lelah," kata Dimas sambil menyerahkan teh botol yang kata Dimas telah diberi obat tidur 2 jam itu.
Semua kaca mobil Dimas masih dibiarkan terbuka, agar kami bisa melihat aksi Dimas. Siskapun minum teh itu sampai habis. Semenit kemudian, Siska tertidur. Dimas menutup semua kaca mobilnya. Aku, Vina & Diana berlari & masuk ke mobil. Bangkit & Roy menyalakan mesin motor mereka masing-masing.
.
***
__ADS_1
Bersambung.