Hijrahku Dari Pacaran

Hijrahku Dari Pacaran
part 42


__ADS_3

Lima menit. Kami semua telah sampai di rumah Dimas. Tujuannya adalah menaruh Dara di rumah Dimas, sholat di rumah Dimas, sekaligus memarkirkan motor Bangkit & Roy.


Lima belas menit. Selesai sholat, aku, Vina & Diana masuk ke mobil. Kami bertiga duduk di jok paling belakang. Disusul Dimas sebagai supir. Sementara Bangkit & Roy ikut masuk ke dalam mobil & duduk di jok bagian tengah.


.


"Kenapa gak dilaporin langsung ke polisi?" tanyaku.


"Polisi ga akan semudah itu percaya, sebelum ada bukti. Kita sedang mencari bukti itu," jwb Dimas.


.


Ssyuuuttt!! Dimas melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi & terdengar decitan rem beberapa kali. Kami melewati rumah yang kata Vina itu rumah Vina, persis yang ada di foto dalam berkas Bu Dosen Wali. Sepuluh menit kemudian, kami sampai di depan rumah Dara, rumah besar berlantai 3. Alamatnya persis yang dikirim Mama di WA, kemarin. Rumah Dara terletak di seberang kanan jalan, sementara Dimas memarkirkan mobilnya di sebelah kiri jalan. Dimas bilang, Pak Dirman adalah seorang duda karna Mama Dara sudah lama meninggal. Jadi, Dara tinggal hanya bersama Papanya & para satpam serta pembantunya.


.


Gerbang rumah itu terbuka, sehingga terlihat 2 orang satpam di teras rumah sedang berjaga.


*Tik-tik-tik


Dimas memainkan ponselnya, memberikan kode pada seorang wanita tukang jamu untuk menjalankan aksinya. Dimas bilang, Pak Dirman punya 2 satpam, seorang supir & seorang pengawas CCTV. Kelemahan mereka berempat adalah saat bertemu wanita tukang jamu yang setiap pagi mereka beli jamunya.


Wanita tukang jamu itu berjalan berlenggak-lenggok memasuki teras rumah. Kata Dimas, wanita itu biasa berjualan di teras. Benar saja, 4 org target kami keluar & membeli jamu. Aku agak geli karena mereka sempat menggoda dengan mencolek dagu si wanita. Ya, jamu itu sudah diberi obat tidur 2 jam. Mereka pun akhirnya tertidur, kami segera keluar mobil & Dimas mengunci mobil dengan remotenya. Kami berlari menuju rumah itu. Si tukang jamu pergi menuju mobil Dimas, ditugaskan menjaga mobil, setelah Dimas memberikan beberapa lembar uang kepadanya. Dimas menutup gerbang dengan sangat hati-hati.

__ADS_1


.


Vina & Diana bertugas menjaga di teras rumah, sekaligus pengirim kode jika ada satpam yang bangun. Aku, Bangkit, Dimas & Roy menuju ruang pengawas CCTV. Dengan sigap, Dimas merusak sistem CCTV agar aksi kami tidak terlacak. Setelah rusak, kami memakai masker penutup wajah. Kami menerobos masuk. Di tangan kami, sudah ada teh botol yang semuanya berjumlah 10, tentu saja berisi obat tidur. Dikhususkan untuk para pembantu Pak Dirman yang jumlahnya 10 orang. Dimas memang sudah hafal betul seluk-beluk rumah ini.


.


Kami berpencar. Bruk. Bruk. Bruk. Satu per satu pembantu berhasil kami paksa minum teh botol itu. Mereka tak ada pilihan karna ketakutan. Mereka tertidur & berjatuhan di lantai. Sebagian di lantai 1, di dapur & di lantai 2.


.


Kami naik ke lantai atas & berlari melewati tangga. Kami sampai di ruang rahasia Pak Dirman. Kebetulan, pintunya terbuka sedikit. Dengan sangat hati-hati, kami berusaha melangkah kaki tanpa menimbulkan suara.


.


Kami menyiapkan kamera HP masing-masing. Di dalam ruangan, terlihat Pak Dirman sedang sibuk menatap komputer berlayar datarnya. Dia berbicara sendiri.


.


"Hahaha! Emangnya enak kena tipu juragan sayur! Kalian main percaya saja! Aku sudah berpura-pura akan mengirim sayur & kalian percaya gitu aja! Haha, kalian pake otak, dong! Aku dapat uangnya, tapi kalian gak dapat sayurnya. Haha! Orang kaya mah selalu bisa!"


.


Lalu, Pak Dirman menyebutkan semua aksi bejatnya. Kedok di balik kekayaannya, tidak lain hanyalah karena menipu! Mataku terbelalak. Masih ada orang sejahat dia di dunia ini?

__ADS_1


.


"Korbannya sudah ada Bu Tari, Bu Wiwit, Pak Johan, Pak Dion, Pak Muslim, Bu Merina...."


.


Pak Dirman membaca daftar korbannya satu per satu. Terakhir, dia menyebut nama Mamaku. Aku geram. Air mata menetes di pipiku. Hampir saja aku menerobos masuk & memergokinya. Tapi dengan cepat, Bangkit menahanku. Aku tahu, kalau aku ceroboh, semua rencana ini akan gagal total.


Tik. Kami mematikan kamera. Dimas memberi kode untuk segera keluar. Tak membutuhkan waktu lama, kami sampai di teras, melewati para pembantu & satpam, seolah mereka mayat yang bergelimpangan. Dimas membuka gerbang & kami berlari menuju mobil, diikuti Vina & Diana. Si tukang jamu pergi begitu melihat kami sampai di mobil.


.


"Huh! Huh! Huh!" Aku ngos-ngosaan dari tadi kayak pencuri.


Kami semua sudah dduk di dalam mobil, namun dengan posisi duduk yang brbeda, karena suasana sudah tak setegang tadi. Diana & Roy duduk di belakang srndiri. Aku & Bangkit duduk di jok bagian tengah. Sementara Vina, duduk di jok depan di samping supir, tepatnya di samping Dimas.


"Ya ampun, kasian banget si, yang. Sini aku lap in," kata Bangkit sambil mengambil tisu di mobil & menyeka keringat di wajahku.


.


***


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2