Hijrahku Dari Pacaran

Hijrahku Dari Pacaran
part 59


__ADS_3

Empat tahun kemudian. Aku telah menyelesaikan studiku di UGM dengan sangat lancar. Aku sudah wisuda dengan IPK yang lumayan tinggi, yakni 3,8. Bahagia senantiasa bertandang di hatiku karena aku terus berusaha belajar dengan tekun. Meski hinaan teman-teman sekelasku tak jarang menyesakkan dada, hingga memaksaku harus menitikkan air mata. Pahit & getirnya ujian semakin menguatkan hijrahku. Namun, semua itu telah berlalu. Kini, aku sudah kembali ke Garut dengan menyandang gelar Sarjana. Lebih tepatnya, Sarjana Ekonomi. Ah, rasanya semua seperti mimpi!


.


Mentari masih malu-malu menyembulkan dirinya. Aku menatap selembar kain mulia di tanganku. Sehelai cadar yang dibelikan Mama belum lama ini. Tentu saja sepaket dengan pakaian syar'i yang kupakai. Aku menatap cermin dengan perasaan senang, haru, sekaligus takut.


.


"Bismillaahirrahmaanirrahiim. Ridhailah hijrah saya yaa Allaah. Hari ini, hari pertama saya bercadar. Sudah lama saya mengetahui ilmunya semenjak ikut kajian. Cadar adalah kain penutup kecantikan wanita muslimah, penutup pintu fitnah dari lelaki ajnabi. Saya telah memikirkannya berhari-hari. Saya ingin membantu ikhwan menundukkan pandangannya. Saya putuskan hari ini saya mulai bercadar & saya harus siap apapun resikonya," do'aku.


Aku mengikatkan cadar ke wajahku dengan perasaan mantap. Aku segera mengambil tasku dan keluar menuju mobil. Papa & Mama sudah menungguku untuk berangkat ke kajian di masjid kota yang diadakan seminggu sekali. Papa dan Mama tersenyum senang melihatku yang telah mantap bercadar.


.


***


Hikmat. Itulah suasana yang menyelimuti seluruh jama'ah masjid selama dua jam lamanya mengikuti kajian. Dengan fokus, aku mencatat setiap intisari dari ceramah Ustadz di mimbar. Usai kajian, aku berjalan menuju toilet wanita untuk cuci muka agar rasa kantukku hilang. Setelah selesai, aku bercermin di dekat wastafel khusus wanita yang ada di luar toilet. Kupakai kembali cadarku sembari bercermin. Ada seseorang menyapaku dan sepertinya aku kenal dengannya. Namun, siapa ya? Sebab wajahnya tertutup cadar.


.


"Assalaamu'alaikum ukhty," sapanya.


"Wa'alaikumussalaam. Apa ana mengenal anty?" tanyaku sambil menatap matanya.


Dia membuka cadarnya dan aku sangat terkejut.


"MaasyaaAllaah! Meli? Ini... Ini kamu?" tanyaku tak percaya.


"Iya. Kamu Annisa, 'kan?" tanya Meli.


Aku membuka cadarku.


"Alhamdulillaah," ucapku dan Meli bersamaan.


Refleks, kami saling berpelukan. Kami menangis, tangis haru bahagia. Antara tak percaya dan sangat bahagia melihat sahabatku berhijrah.


"Kamu kemana aja? Kita udah lama banget gak ketemu?" tanyaku.

__ADS_1


"Maafkan aku. Aku selama ini sengaja sembunyi darimu karna ... karna aku belum siap jika kamu menolak hijrahku," jawab Meli.


"Berati kamu udah tahu kalau aku ada di majelis ini?" tanyaku.


"Aku baru tahu hari ini. Ternyata selama ini, kita satu majelis," jawab Meli.


"MaasyaaAllaah. Dulu kita jahil bareng. Sekarang, kita hijrah bareng," kataku.


.


***


Hari ini, aku & keluarga menghadiri acara walimatul 'ursy Kak Sam & Mbak Irma di sebuah hotel di Garut. Akhirnya, Kak Sam menemukan belahan jiwanya. Aku bersyukur karena berhasil menjadi perantara yang menghubungkan Kak Sam & Mbak Irma untuk berta'aruf seminggu yg lalu. Meli & keluarganya juga diundang karena Meli tetangga Mbak Irma.


.


Ijab qobul & acara makan-makan telah selesai. Tempat para tamu dalam acara pernikahan Kak Sam & Mbak Irma diatur secara infishol, yakni terpisah antara laki-laki & perempuan dengan dibatasi tabir. Begitu pula dengan mempelai pengantin yang terpisah. Kak Sam berada di depan para tamu laki-laki, sedangkan Mbak Irma di depan para tamu perempuan. Mbak Irma sangat cantik, memakai balutan dress pengantin warna putih yang syar'i, jilbab warna senada & sehelai cadar putih di wajahnya.


.


"Baarakallaahu laka wa baaraka 'alaika wa jama'a bainakumaa fii khoiir. Selamat Kak Sam & Mbak Irma. Smg samawa," ucapku.


"Aamiin," do'a Kak Sam & Mbak Irma bersamaan.


"Mbak ingin kasih kejutan buat kamu," kata Mbak Irma.


"Kejutan apa, Mbak?" tanyaku.


"Liat siapa yang dateng," kata Mbak Irma.


Empat orang melangkahkan kaki menghampiriku.


"Bangkit? Diana? Dimas? Dan ini... istrinya Dimas?" tanyaku tak percaya, sebab Dimas menggandeng seorang akhwat bercadar.


"Iya. Ini Vina," jelas Dimas.


"MaasyaaAllaah!" ucapku tak percaya.

__ADS_1


Air mata lolos dari sudut retinaku. Vina langsung memelukku.


"Maafkan aku yang tak pernah hiraukan nasehatmu. Sekarang aku nyesel. Sebulan sejak kita lulus, aku diajak orang tua ku ikut kajian. Aku & Dimas jadi takut pacaran, lalu memutuskan menikah karena tak mau nabung dosa. Dimas menyuruhku bercadar. Sebagai seorang istri, aku patuh. Mbak Irma sudah cerita semua tentangmu. Maaf gak ngundang pas aku nikah, aku malu sama kamu," jelas Vina sambil terisak.


"Udah-udah. Semua sudah berlalu. Aku udah maafin kamu. Hidayah bisa menyapa siapa saja. Alhamdulillaah, aku seneng liat kamu hijrah. Kenalin, ini Meli, sahabatku wktu SMA. Dulu dia juga aktivis pacaran. Tapi dia sudah hijrah semenjak kuliah di UIN," kataku sambil melepas pelukan Vina.


Vina berjabat tangan dengan Meli & duduk di samping Meli.


"Ini Diana?" tanyaku terkejut, melihat Diana yang telah berhijab syar'i.


Diana memelukku. Tangis kami pecah.


"Maafin semua salahku ke kamu, Nis. Semenjak aku pindah ke Bandung, Bangkit juga pindah ke Bandung. Kami menikah & Bangkit membimbingku agar mau berhijab. Kami ikut kajian di Jakarta. Kami satu majelis dengan Meli. Tapi kami masih malu untuk menghubungi & menanyakan keadaanmu," jelas Diana.


"Alhamdulillaah. Aku sudah memaafkanmu," ucapku.


"Kudengar kamu mantan Roy juga, ya?" tanya Diana sambil melepas pelukannya.


Aku mengangguk.


"Mungkin dulu kamu fikir, aku ptusin Roy karena Bangkit. Bukan. Tapi karena Roy mengajakku berzina. Aku menolaknya mentah-mentah," kata Diana.


"Itu juga yang dia chat kan ke aku. Dan itulah bahayanya pacaran," kataku.


Diana duduk di sampingku. Dimas & Bangkit duduk di samping Kak Sam.


"Berati disini yang jomblo cuma Annisa & Meli, ya?" ledek Kak Sam.


"Ih gak ya! Sebentar lagi aku akan dilamar sama Kak Fadil!" bela Meli.


Aku melotot ke arah Meli & tersenyum padanya. Akhirnya Meli berjodoh dengan orang yang dicintainya dengan cara yang halal.


"Annisa mau fokus kerja di Bekasi dulu, Kak. Di Bank Syari'ah diket rumah Kak Sam di Bekasi itu. Annisa seneng banget hari ini. Bertemu teman-temen yang dulu jahil bersama & sekarang kami hijrah bersama," jawabku.


.


.

__ADS_1


__ADS_2