
"Hello, world! I had ready to come with my hijrah," ucapku sembari tersenyum senang.
Kutatap tulisan besar Universitas Gajah Mada dengan mata berbinar. Aku harus siap apapun resiko yang akan kuhadapi di sini, dengan pakaian seperti ini. Kulangkahkan kaki dengan mantap.
.
*TIIIIINN!
.
Terdengar suara klakson mobil yang memekakkan telingaku. Kututupi telinga kananku & aku menoleh. Ternyata mobil Dimas yang berhenti di samping kanan tempatku berdiri. Vina membuka kaca mobil.
.
"Eh ada ibu-ibu di sini. Annisa...Annisa.. Dengan pakaian kek gitu, citra primadona kamu di kampus ini akan luntur. Tapi aku senang, karena aku yang akan menggantikan posisimu di kampus ini!" kata Vina, lalu tersenyum sinis.
"Wanita itu fitnah bagi laki-laki, Vin. Dan kita ga boleh menyulut api fitnah itu, " jawabku.
"Ah! Udah deh! Ga usah sok ceramah! Inget, meskipun pakaian kamu kayak gitu, tetep aja kamu bukan ustadzah!" kata Vina geram.
"Annisa, Annisa. Gue nyesel pernah bantu Mama lo! Lo ga pantes pake mukena kek gitu! Gak modis!" timpal Dimas.
Rasa sesak menyelimuti dadaku. Aku berlari menuju kelas, berharap bisa meluapkan tangisku. Namun, sesampainya di pintu kelas...
.
"Permisi! Bu Haji mau masuk!" ledek seorang teman.
"Cuma gara-gara patah hati, sok-sok an mau hijrah? Cuih!" sahut teman yang lain.
"Emangnya lo santri heh?"
"Haha pake mukena, helloouw!"
"Ga modis banget ya, Nis!"
"Nyesel gue pernah suka sama lo, kalo endingnya lo pake kek gituan!"
"Jangan ngampus di sini! Di Arab sono!"
.
Hinaan demi hinaan seluruh isi kelasku, semakin menciutkan nyaliku. Menambah sesak di hatiku & mencairkan buliran-buliran bening di mataku. Aku berbalik badan. Tak lama kemudian, Vina datang.
.
"Kenapa masih di sini heh?" tanya Vina.
"Ga ada yang mau dukung hijrahku, Vin," jawabku dengan berlinang air mata.
"Apa? Dukung? Jangan mimpi kamu! O ya aku mau kasih tahu, mulai sekarang kita bukan sahabat lagi! Kita cuma teman!" kata Vina.
__ADS_1
"Apa bedanya?" tanyaku.
"Kamu tu foolish apa gimana sih? Ya jelas beda lah! Sahabat 'kan tempat curhat & deket banget. Sementara teman ga sedeket sahabat. Dan karna cuma teman, kita ga sedekat dulu lagi. Oke?" jelas Vina.
"Makasih, Vin. Masih nganggap aku teman," jawabku sambil mengusap air mata.
"Jangan seneng dulu! Aku nganggap kamu teman, karna Papa Mamamu udah bayarin kuliah aku. Kalo gak, mungkin aku udah gak mau bicara lagi sama kamu!" kata Vina.
"Aku rela tidak dianggap teman oleh siapapun di bumi ini, toh hanya manusia. Asalkan Allah meridhaiku & Allah beserta orang-orang yang sabar," kataku.
"Udah ah! Minggir!" seru Vina sambil mendorong tubuhku ke samping.
.
Tangisku pecah lagi. Kusandarkan tubuhku di tembok luar kelas, lalu merosot terduduk di lantai. Lalu, dosen terlihat sedang berjalan menuju kelasku. Aku segera berdiri & kuusap air mataku. Aku menghela nafas panjang.
.
"Bismillaah," do'aku lirih.
.
Lalu masuk ke dalam kelas dengan menunduk. Tak berani menatap teman-temanku. Allah, sanggupkah aku dengan semua ujian ini?
.
***
.
"Assalaamu'alaikum Pa, Ma," salamku begitu aku bertemu Papa & Mama yang sedang bercakap-cakap di taman hotel.
"Wa'alaikumussalaam Nak," jawab Papa saat aku menjabat & mencium tangan Papa.
"Wa'alaikumussalaam. Koq mata kamu sembab, Nak?" kata Mama saat kucium punggung tangan Mama.
"Tadi temen-temen Annisa gak suka sama Annisa yang sekarang, Annisa yang udah hijrah. Tapi gakpapa koq Pa, Ma. O ya aku punya kabar baik buat Papa sama Mama," kataku riang.
Papa & Mama saling berpandangan.
"Koq teman-teman kamu gak suka sama hijrah kamu, tapi malah kabar baik sih?" tanya Papa.
Aku membuka layanan Video Call di WA. Bermaksud menghubungi seseorang.
"Assalaamu'alaikum Annisa," salam dia di seberang sana.
"Wa'alaikumussalaam," jawabku lalu menyodorkan HP ku ke arah Papa & Mama.
Sontak mereka berdua terkejut.
"MaasyaaAllaah ... Sam? Ini kamu, Nak?" tanya Papa tak percaya.
__ADS_1
"Iya, Om," jawab Kak Sam.
"Ini beneran kamu? Alhamdulillaah," ucap Mama lalu menutup mulut dengan tangannya. Pertanda tak percaya.
Kusandarkan ponselku di vas bunga dengan layar tetap menghadap Papa & Mama. Kak Sam menceritakan semua masa lalu Kak Sam hingga menjadi seperti sekarang. Kak Sam minta maaf karena sempat 'menghilang' dan merahasiakan semua. Kulihat, bulir bening di mata Mama telah jatuh berkali-kali mendengar penjelasan Kak Sam. Kak Sam juga menceritakan pertemuannya denganku di taman itu, sampai aku bisa berhijab syar'i seperti sekarang.
"Om sempat kecewa ketika kamu kabur. Tapi, sekarang Om sangat bangga denganmu," kata Papa dengan wajah sendu.
"Tante berterimakasih banyak sama kamu, Nak. Sudah merubah Annisa seperti harapan kami. Nanti, Tante akan kabari kedua orangtuamu. Mereka pasti sangat bangga," kata Mama di sela-sela tangisnya.
.
***
Mentari menyembulkan dirinya lagi di ujung barat, setelah semalam digantikan oleh bintang-bintang. Sore ini, Paman & Bibi telah sampai di Jogja. Mereka berdua beristirahat di ruko Kak Sam. Sepulang kuliah, aku, Papa & Mama datang ke rumah Kak Sam untuk merayakan berkumpulnya Kak Sam di tengah-tengah kami. Setelah sekian lama rindu telah memenjarakan dan menyiksa hati kami selama bertahun-tahun. Kami mengadakan acara makan malam bersama di rumah Kak Sam.
"Assalaamu'alaikum," salam Papa.
"Wa'alaikumussalaam. Om, Tante, Annisa, mari masuk. Papa sama Mama ada di dalam," kata Kak Sam sambil mencium tangan Papa.
Tapi dengan Mama, Kak Sam menangkupkan kedua tangan di dada.
"Iya. Ayo Ma. Ayo Nak," ajak Papa.
"Annisa mau ngobrol sebentar sama Kak Sam," pintaku.
"Oke! Tapi jangan lama-lama, ya. Kalian kan bukan mahram! Ntar bisa saling suka lagi," kata Mama sambil melotot lucu.
"Hihi. Tenang aja, Ma. Hati Kak Sam kan udah buat ..." kataku sambil melirik Kak Sam.
"Siapa? Siapa?" tanya Mama.
"Tante ini. Annisa kalo ngomong jangan sembarangan, ya!" kata Kak Sam.
Aku hanya menahan tawa melihat Kak Sam yang salah tingkah.
Setelah kupastikan Papa Mama sudah masuk, aku berniat bertanya pada Kak Sam.
"Cepetan. Mau ngomong apa sih?" tanya Kak Sam.
"Apa Kak Sam sama Mama bukan mahram?" tanyaku.
"Oh itu. Seorang bibi dengan keponakan laki-lakinya memang mahram. Layaknya seorang paman dengan keponakan perempuannya. Tapi, jika dengan syarat paman atau bibi itu adalah kakak kandung atau adik kandung dari ayah atau ibu kita. Nah, untuk bibi ipar atau paman ipar, maksudku, paman yang merupakan suami dari bibi kandung, atau bibi yang merupakan istri dari paman kandung kita, bukan mahram. Jadi, karena Mamamu itu istri paman kandungku, istri dari kakak kandung Papaku, beliau bukan mahramku. Ya sudah, ayo masuk," jelas Kak Sam.
Aku manggut-manggut tanda mengerti.
.
***
Bersambung.
__ADS_1