
Lariku terhenti. Aku menemukan Vina sedang duduk di sebuah bangku koridor kampus. Dia sedang menangis, kepalanya tertunduk. Dengan langkah pelan, aku menuju Vina & duduk di sampingnya.
"Kamu jangan nangis, Vin. Ada aku, sahabat kamu," ucapku mencoba menghibur, sambil menatap Vina. Tapi Vina masih tertunduk.
"Mungkin sekarang kamu bukan sahabat aku lagi," kata Vina sambil mengangkat kepalanya. Pandangannya lurus ke depan. Air matanya masih terus mengalir.
"Maksud kamu?" tanyaku heran.
"Kamu dengar sendiri 'kan yang dibilang Dara tadi? Dia buka kedok. Aku cuma orang miskin yang tak pantas bersanding denganmu," kata Vina tanpa sedikitpun melirikku.
"Ja-di, yang dia katakan tadi, be-nar?" tanyaku terbata-bata, takut keliru.
"Iya," jawabnya.
"Kenapa kamu gak pernah cerita sama aku? Aku sahabat kamu. Mungkin aku bisa mencoba meringankan bebanmu?" tanyaku.
"Karna aku takut, Nis. Aku takut kehilangan kamu! Aku takut kamu ninggalin aku karna aku miskin. Aku takut ga punya teman selain kamu. Aku..." kata Vina.
"Ssuut," potongku sambil memeluk Vina, "Aku akan selalu ada buat kamu. Aku tidak mengenal kasta dalam persahabatan. Aku tidak akan pernah ninggalin kamu, apapun keadaanmu. Ya?" lanjutku.
"Terimakasih," kata Vina pelan.
Aku membiarkan Vina menangis di pelukanku hingga membasahi jilbabku. Setelah sekian lama, Vina merasa tenang & melepas pelukanku.
Vina menghapus air matanya, lalu pamit ke kelas duluan karena ingin menenangkan diri dulu. Aku membiarkannya pergi & memikirkan bagaimana cara membantu Vina bisa lepas dari permasalahan ini. Di tengah-tengah aku sibuk berfikir, tiba-tiba Dimas datang. Dimas, seorang cowok berkaca mata & rambutnya sebahu agak bergelombang. Dimas adalah cowok yang lumayan cool. Dia memakai kemeja kotak-kotak lengan panjang warna merah & celana jeans, menambah kesan cool nya. Dia adalah tetangga Vina yang sebenarnya sangat disukai oleh Vina. Wajar jika Vina menyukai Dimas. Tapi, Vina tidak berani jujur. Sebab, lagi-lagi Vina minder karena nilai belajar Vina yang tak sebanding dengan Dimas.
"Annisa," panggil Dimas.
__ADS_1
"Ya," jawabku.
"Boleh aku duduk di sini?" tanya Dimas sambil menunjuk bangku. Aku mengangguk. Dimas pun duduk.
"Aku tahu Vina suka sama aku," kata Dimas tiba-tiba.
"Terus?" tanyaku.
"Jujur, aku juga suka sama Vina," jawabnya.
"Kenapa kamu gak tembak dia aja?" tanyaku.
"Udah berulang kali. Ya, meskipun lewat chat. Tapi, dia selalu nolak. Katanya minder lah, dia orang gak punya lah, gak pinter lah. Padahal, aku udah meyakinkan dia berkali-kali kalo aku nerima dia apa adanya. Tapi, dia gak mau. Dan aku pernah minta izin sama bapaknya Vina buat deketin Vina..." jelas Dimas.
"Terus?" tanyaku.
Aku menghela nafas panjang.
"Kamu tenang aja, Dim. Aku akan bantu kamu mendapatkan cintamu," kataku.
"Caranya?" tanya Dimas.
"Ya aku akan bantu masalah bapaknya Vina, dengan mengulurkan tangan insyaaAllaah," kataku.
Dimas pun paham.
"Aku juga akan bantu bapaknya Vina. Dengan patungan uang, kita bisa. Karna itulah arti persahabatan ini. Saling mengerti dan saling membantu," kata Roy yg tiba-tiba datang.
__ADS_1
Akupun tersenyum. Aku melongok arloji, masih ada waktu 30 menit untuk menemui Bu Dosen Wali. Aku berdiri.
"Mau kemana, Nis?" tanya Dimas & Roy bersamaan.
"Mau minta nomor rekening bapaknya Vina ke Bu Dosen. Karna kalo aku tanya ke Vina, dia pasti gak mau jawab. Karna dia udah menutupi masalah bapaknya dari aku, selama ini. Itu artinya, dia segan dibantu orang lain. Aku udah paham sifat Vina," kataku lalu melangkah pergi.
"Tapi masalah nya bukan itu saja, ada lagi!" seru Dimas.
"Kamu jelaskan nanti saja!" kataku setengah berteriak.
.
***
Aku telah duduk di ruang Bu Dosen Wali. Di depanku, Bu Dosen sedang menatapku. Di tengah aku & Bu Dosen, ada sebuah meja yang di atasnya ada berkas-berkas keterangan keadaan keluarga Vina. Mulai dari foto rumah, penghasilan bapak Vina, dan sebagai nya. Aku menitikkan air mata. Mengapa aku baru tahu keadaan sahabatku? Tapi setidaknya, aku belum terlambat untuk membantunya. Aku telah mencatat nomor rekening bapak Vina & mengirimnya ke Bangkit, Roy & Diana. Tentu saja aku tidak mengirimnya di grup yang telah dibuat Roy, agar Vina tidak tahu. Aku pun telah selesai mengirim sejumlah uang ke nomor rekening bapaknya Vina melalui HP, dengan uang tabunganku yang ada.
"Ibu kagum sama kamu, Nis. Kamu gak khawatir, kalo nanti kamu ga punya tabungan dengan memberikan semuanya ke bapaknya Vina?" kata Bu Dosen.
"Tidak, Bu. InsyaaAllaah degan kita membelanjakan harta kita di jalan Allah, justru akan bertambah 'kan Bu harta kita? Allah akan memberikan berkah pada harta kita, bisa jumlahnya yang tambah, atau berkah merasa cukup dengan harta yang ada. Lagipula nanti bisa minta lagi ke Papa Mama," kataku.
Wanita berjilbab lebar itu tersenyum puas. Akupun pamit dari ruang Bu Dosen.
.
***
Bersambung.
__ADS_1