
Hari demi hariku berlalu bersama mbak Irma. Aku semakin asik belajar dan semakin paham materi yang akan aku hadapi di perguruan tinggi kelak. Papa & Mama juga sangat senang padaku yang mampu memahami materi dengan cepat. Mereka sangat percaya pada mbak Irma. Mereka juga tidak khawatir lagi meninggalkanku di rumah bersama mbak Irma, karena mereka sadar aku sudah besar. Tak perlu diawasi lagi. Seperti siang ini, aku & mbak Irma berdua di rumah karena Papa Mama sedang ke tempat kerja. Kami sedang menikmati hidangan yang sudah disiapkan oleh Mama sebelum berangkat kerja tadi. Tiba-tiba, aku ingin mengeluarkan uneg-uneg di hatiku.
.
"Mbak, boleh gak aku curhat dan tanya sesuatu sama mbak?" tanyaku.
"Boleh. Silakan Nia," jawab mbak Irma sambil menyeruput teh manisnya.
"Maaf sebelumnya. Janji dulu jangan cerita ke siapa-siapa ya. Mmm..mbak pernah patah hati gak?" tanyaku memberanikan diri.
"Pernah, Nis. Iya janji ini rahasia. Memangnya kamu lagi patah hati?" jawab mbak Irma.
__ADS_1
Kusandarkan kepalaku di bahu mbak Irma. Air mataku mulai mengalir tanpa diperintah.
"Bukan patah hati lagi mbak. Tapi, semangatku hilang. Patah semangat. Sudah berulang kali kucoba move on, tapi entah kenapa gak pernah bisa mbak. Karena mantanku itu..." ucapku terisak.
"Mantan kamu kenapa sayang?" tanya mbak Irma memotongku.
"Mantanku udah lama meninggal, mbak. Makanya, aku mau minta nasihat sama mbak Irma," jawabku sendu.
"Annisa sayang. Bersabarlah. Semua sudah ditakdirkan oleh Allah, kita ambil hikmahnya saja ya? Kita bisa berencana, mau pacaran dengan si A sampai menikah. Tapi, kita punya kuasa apa? Allah Maha Kuasa dan kita makhluk yang sangat lemah. Kita manusia diciptakan dengan aturan Islam. Dan aturan itu, salah satunya adalah.. Maaf banget ya Annisa sebelumnya. Salah satunya adalah sebenarnya kita dilarang pacaran. Karena apa? Karena pacaran itu sama dengan mendekati zina. Saya tahu mungkin kamu tidak suka berbicara seperti ini, tapi ini kewajiban saya mengingatkan sesama muslim. Terlebih, kamu tetangga saya yang sudah saya anggap adik sendiri. Di dalam surah Al-Israa' surah ke 17 ayat 32, Allah berfirman : "Walaa taqrabuzzinaaaaa, innahuu kaana faahisyataw wasaaaaa-a sabiilaa". Artinya, "Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk". Mmm... Annisa sayang, saya tahu betul perasaan kamu karena saya juga pernah patah hati. Tapi, alhamdulillaah Allah beri kemudahan saya berhijrah dari yang namanya pacaran. Sebab saya sadar pacaran itu sama dengan mendekati zina, sekaligus ajakan syaithan. Annisa tahu tipu muslihat syaithan itu sangat halus? Saking halusnya, kita dibuai olehnya. Kita membayangkan yang indah-indah bukan saat akan pacaran? Tapi, itu semua hanya ekspektasi, Annisa. Realitanya? Kita akan sering sakit hati, kecewa, cemburu, hilang semangat seperti yang kamu alami. Mengapa pacaran itu hanya berujung sakit hati? Karena itu semua tipu daya syaithan. Semu. Tak ada kebahagiaan abadi sama sekali. Jadi ya, saran saya, yuk berhijrah dari pacaran. Ya ini hanya saran, sih. Tentang diterima atau tidaknya, itu hak Annisa sepenuhnya. Yang penting, mbak Irma sudah menyampaikan. Saya tahu ini pilihan yang berat sekali untukmu," jelas mbak Irma panjang lebar.
*Degg
__ADS_1
Seketika aku merasa tak karuan. Remuk, hancur, merasa tertipu. Bingung apakah akan menerima saran mbak Irma. Atau tak menghiraukannya. Aku belum siap untuk itu semua. Sungguh pilihan yang berat. Aku berlari ke kamar sambil masih sesenggukan. Antara sedih, bingung, remuk. Bercampur jadi satu. Aku jadi bertanya-tanya, apakah ini alasan Papa Mama melarangku pacaran? Tapi 'kan aku gak sampai melakukan zina? Mbak Irma bilang, pacaran sama halnya mendekati zina? Aku bertambah bimbang. Bukankah aku juga berhak merasakan kebahagiaan? Mengapa mbak Irma membatasiku? Sedikit kecewa dan kesal pada mbak Irma. Kufikir, dia bisa kasih solusi yang bisa buatku tersenyum dan bahagia. Tapi... Mengapa harus jadi seperti ini? Ini semua tidak adil bagiku! Namun, ada benarnya juga perkataan mbak Irma tadi. Duuh, aku jadi pusing sendiri. Aku menarik selimut untuk menutupi muka sembabku dan berniat tidur. Meski tak tahu apa aku bisa tidur nyenyak dalam keadaan hati sedang berkecamuk?
.
Kudengar langkah kaki mbak Irma keluar dari rumahku. Mungkin dia tahu apa yang kusedihkan, sehingga ia memutuskan untuk pulang.
.
***
Bersambung.
__ADS_1