
Hari ini adalah ulang tahun Bangkit. Aku sudah menyiapkan sebuah kado untuknya. Kemarin di hari Minggu saat belanja dengan Kak Rere, aku sudah membeli sebuah kemeja lengan panjang untuk kado ultah Bangkit. Tadi malam, aku sudah membungkusnya dengan rapi. Tak lupa, sebuah kartu ucapan kecil dengan kata-kata puitis, telah kumasukkan ke dalam kado. Pagi-pagi sekali, aku sudah berangkat ke kampus & menunggu Bangkit di depan kampus. Kebetulan, jadwal kuliah Bangkit masuk pagi untuk hari ini.
.
Tak lama kemudian, Bangkit datang dengan motornya. Lalu, ia pun berhenti di dekat tempatku berdiri. Ia melepas helmnya, lalu turun.
"Assalaamu'alaikum sayang. Tumben nunggu di sini," sapa Bangkit.
"Wa'alaikumussalaam, yang. Iya. Surprise!! Happy birthday, ya!" seruku sambil menyerahkan kado yang sejak tadi kupegang.
"Wah! Makasih ya sayang," kata Bangkit sambil menerima kado. Namun, Bangkit tidak melepaskan kedua tangannya. Alhasil, kami berdua berpegangan tangan dengan sebuah kado di atasnya.
Kamipun saling berpandangan & tersenyum, cukup lama. Lalu, aku menengok kanan kiri. Masih sepi. Jalanan juga sangat lengang. Dan... Cupp! Aku mencium pipi Bangkit sedetik, dengan sedikit jinjit. Karna Bangkit lebih tinggi.
"Ehm! Romantis banget. Siapa yang ngajarin, yang?" tanya Bangkit.
Aku tidak menjawab. Tapi, aku masih memandangi wajah Bangkit yang benar-benar tampan itu, serta tersenyum padanya.
.
"Ehem!" dehem seseorang yang lewat di samping tempat aku & Bangkit berdiri. Refleks, aku & Bangkit melepas tangan yang tadinya saling berpegangan. Kami pun jadi salah tingkah & tersadar. Kami mengamati orang yang berjalan tadi. Seorg cowok yang masih asing bagiku. Sepertinya, bukan Mahasiswa UGM.
"Siapa dia, yang?" tanya Bangkit sambil memakai helm nya.
"Ga tahu," jawabku.
"Mahasiswa baru mungkin? Ah tahu ah! Ya udah, aku markirin motor dulu, ya?" kata Bangkit sambil menaiki motornya.
__ADS_1
Aku pun mengangguk. Lalu, aku berjalan ke dalam kampus dengan perasaan sangat senang. Sementara Bangkit menjalankan motornya menuju parkiran.
.
***
Dosen yang biasa mengajar kami di Senin pagi masuk ke dalam kelas. Namun, beliau tidak sendiri. Di belakangnya ada seorang cowok. Hm, sepertinya cowok yang tadi lewat pas aku & Bangkit lagi berduaan. Pak Dosen duduk di kursi dosen, sementara cowok itu berdiri di depan kelas.
"Pagi semuanya! Perkenalkan, dia Roy. Mahasiswa baru di sini. Dia berasal dari.....," kata Pak Dosen menjelaskan panjang lebar tentang cowok yang bernama Roy itu.
Sementara, aku tak mendengarkan penjelasan Pak Dosen. Mataku membulat lebar memandang Roy itu. Ya! Dia sangat tampan. Terlebih, dia tersenyum dan mengangguk sopan setelah Pak Dosen mengenalkannya pada kami. Duuhh, hatiku meleleh melihat ketampanannya.
"Woy! Nis!" bisik Vina sambil mengibaskan tangannya di depan wajahku.
Aku tersadar dari lamunanku. Ternyata Roy sudah berpindah tempat dan mataku hanya menangkap papan tulis putih kosong. Roy sudah duduk di bangku belakang sendiri paling kanan, saat aku menengok sebentar ke belakang.
"Apaan sih, Vin!" kataku agak kesal.
"Hmm yg ini nih gilirannya buat aku! Ya?" kata Vina genit.
"Terserah!" kataku.
"Aku tahu, Roy emang ganteng 'kan, La? Tuh cewek-cewek lain juga tertegun ngeliat ketampanan Roy. Meleleh. Hmm, sepertinya arjuna di kampus ini bertambah satu lagi. Jadi...ada dua! Kak Bangkit sama Roy. Dan karna Kak Bangkit udah sama kamu, jadi cewek-cewek akan berlomba mendapatkan Roy! Beruntungnya, Roy sekelas dengan kita! Itu artinya, ini kesempatan besar buat aku! Jadi, gak jomblo terus. Hihi," kata Vina panjang lebar.
Aku hanya menggelengkan kepala. Vinaaa....Vina! Di saat sibuknya kuliah kayak gini, masih sempet-sempetnya mikirin gosip gak penting kayak gitu. Yaa walaupun aku akui, Roy memang tampan. Tapi, aku masih sadar, aku harus menahan diri. Karna bagaimana pun, aku harus setia pada Bangkit.
.
__ADS_1
***
"Demikian anak-anak. Pembahasan hari ini cukup sampai di sini dulu. Selamat siang!" tutur Pak Dosen mata kuliah jadwal terakhir hari ini.
"Siang, Pak!" jawab kami kompak.
Lalu, kami berhamburan keluar kelas untuk pulang. Seperti biasa, aku & Vina berjalan bersama sampai di depan kampus. Namun, Roy memanggilku.
"Annisa! Kamu yang namanya Annisa, 'kan?" tanya Roy.
Aku membalikkan badanku, gugup.
"I-iya, Roy. Kenapa?" tanyaku.
"Boleh minta nomor WA mu?" tanya Roy.
"Boleh," jawabku, lalu mnyebutkan nomorku. Roy pun mnyimpannya di ponselnya.
"Maaf, Roy! Annisa itu udah punya pacar," ucap Vina ketus. Akupun mencubit pinggangnya, sehingga Vina kesakitan.
"Gakpapa, saya udah tahu. Saya juga udah punya koq. Yaa buat temenan gakpapa 'kan?" kata Roy yang membuat aku & Vina sdikit terperanjat. Jadi Roy gak jomblo?
"Oh kalo temen, aku juga mau tuh dimintain WA nya," kata Vina caper. Roy menurut. Aku hanya geleng-geleng kepala.
.
***
__ADS_1
Bersambung.