
Keesokan harinya, aku kuliah seperti biasa. Meski mataku sembab karena menangis semalaman. Aku mendengar suara Roy di parkiran.
"Lo tega, Kit! Mengkhianati cinta Annisa! Lo fikir Annisa gadis apaan?" suara Roy terdengar marah besar.
Aku mendekat ke parkiran, mengintip apa yang sedang terjadi. Terlihat Roy sedang menarik kerah kemeja Bangkit dengan tangan kiri & Bangkit hanya bisa pasrah menerima kemarahan Roy.
"Annisa itu gadis yang istimewa yang pernah gue temui! Dia baik, bantuin Vina & keluarga Vina. Dia berusaha keras buat melaksanakan amanat orang tua buat jeblosin Papanya Dara ke penjara. Gue belum pernah bertemu gadis sebaik Annisa! Gue sayang sama Annisa. Gue ga tega lo nyakitin dia! Gue ga peduli lo pacaran sama Diana! Bagi gue, Diana ga ada apa-apanya dibanding Annisa! Gue cinta sama Annisa, tapi gue sadar Annisa milik lo! Gue sekeras mungkin dapetin hati Annisa, tapi Annisa selalu pertahanin lo! Lo udah dapetin hati Annisa, dan lo sia-siain dia? Gue kecewa sama lo, Kit. Gue emang cowok brengsek, tapi sebrengsek-brengsek nya gue, gue ga pernah duain cewek! Dasar pecundang!"
Kata-kata Roy membuatku meneteskan air mata. Setulus itukah cinta Roy? Mengapa aku baru sadar?
Aku mendekati Roy. Kehadiranku tak disadari oleh Roy, maupun Bangkit. Aku menghapus air mataku.
Roy mengepalkan tangan kanannya, hendak memukul Bangkit. Aku menangkap tangan Roy dengan cepat.
"Annisa, sejak kapan disini?" tanya Roy terkejut. Ia menurunkan tangannya & melepas kerah kemeja Bangkit.
Bangkit menatapku, lalu menunduk lesu.
"Kita orang-orang berpendidikan, Roy. Ga sepantasnya berbuat anarkis. Masa lalu biarlah masa lalu. Aku udah ga ada urusan lagi sama cowok munafik ini. Kamu ga perlu melakukan ini semua, Roy. Sekarang, ikut aku ke kelas," kataku.
.
Lalu, aku & Roy berjalan menuju kelas meninggalkan Bangkit.
"Aku mau tanya soal kemarin," kataku memulai pembicaraan.
"Tanya apa?" tanya Roy.
__ADS_1
"Kemarin kamu yang pertama liat duluan Bangkit sama Diana di taman?"
"Iya. Kemarin 'kan aku diajak main sama Dimas, pake mobilnya Dimas. Trrus aku sama Dimas liat Bangkit sama Diana. Trus Dimas pulang, ngasih tahu kamu di rumah Vina. Karena Dimas tahu kamu lagi di rumah Vina. Aku nunggu di gerbang buat mata-matain mereka biar ga pergi dari taman sebelum kamu liat mereka berdua," jawab Roy.
"Ooh gtu. Makasih ya," kataku.
Tak terasa, kami sudah sampai di kelas. Masih sepi sekali. Aku duduk di bangkuku. Roy melewati bangkuku, karena bangkunya di belakang sendiri. Aku menahan tangannya, saat ia melewatiku.
"Roy," panggilku.
Roy berhenti & berdiri di dekat mejaku.
"Apa bener yang aku dengar di parkiran tadi? Mmm soal perasaan kamu ke aku?" tanyaku gugup, sambil melepaskan pegangan tanganku.
"Jujur, Nis. Sejak pertama kali kita ketemu, aku masuk ke kelas ini, aku udah jatuh cinta sm km," jawab Roy.
"Tapi waktu itu, aku sadar. Posisi kita udah punya pacar masing-masing. Jadi yaa ga mungkin lah, aku selingkuhin Diana," kata Roy lagi.
Aku tertegun.
"Serius? Jujur, aku juga ngerasain hal yang sama waktu itu. Tapi, sama kayak kamu, aku tahu posisi aku waktu itu," kataku memberanikan diri.
"O ya? Hm, makanya waktu itu, aku cuma berani ngajak sahabatan. Aku cuma bsa mencintaimu dalam diam," kata Roy.
Lalu, kami tertawa. Menertawakan kekonyolan yang baru kami sadari itu.
"Kenapa aku baru tahu? Kufikir, rasaku ke kamu cuma bertepuk sebelah tangan," kataku.
__ADS_1
"Enggak, Nis. Aku juga ngerasain hal itu. Cuma belum dapat timing yang tepat," kata Roy.
"Roy, tapi maaf. Untuk saat ini aku..." kataku.
"Iya, aku tahu. Kamu harus menenangkan diri terlebih dhulu & ga mau menjadikan aku pelampiasan. Itu 'kan yang mau kamu katakan?" tebak Roy, seolah tahu apa yang ada di otakku.
Aku hanya mengangguk pelan.
"Ya udah. Aku ga akan maksa. Yang harus kamu tahu, aku slalu setia menunggumu," kata Roy.
Aku hanya tersenyum kaku. Roy pun melangkah menuju bangkunya. Tak lama kemudian, Vina & teman-teman sekelasku datang. Aku masih sibuk memikirkan perasaanku. Antara sedih & senang. Perasaan yang sangat sulit kuartikan. Mengapa kami baru saling mengetahui semuanya sekarang? Aku benar-benar tak menyangka, Roy bisa secepat itu memiliki perasaan yang sama denganku. Ada sedikit rasa sesal. Tapi, kurasa ini belum terlambat. Ah, entahlah.
.
***
"Apakah harus terasa sepenting itukah egomu. Kita berawal karna cinta, biarlah cinta yang mengakhiri.
Kamu dihadapkan pilihan antara aku dan dia. Begitu rumitnya dunia hanya karna sebuah rasa".
Lantunan lagu milik Agnes Mo berjudul "Sebuah Rasa" selalu kuputar via HP. Selama satu minggu, aku selalu memutar lagu itu di setiap kesempatan. Di kelas, di kantin, di kamar kos, saat aku menyendiri. Sembari mengenang Bangkit yang dahulu kumiliki. Setiap detik kebersamaan dengan Bangkit masih melekat kuat dalam ingatan. Diiringi air mata yang selalu mengalir setiap ingat semuanya. Menyesali kenyataan yang telah terjadi. Jujur, aku masih mengharapkan Bangkit. Ingin aku menagih janjinya, mewujudkan impian indah dalam ikatan pernikahan. Namun.... Ah, sudahlah!
.
***
Bersambung.
__ADS_1