Hijrahku Dari Pacaran

Hijrahku Dari Pacaran
part 16


__ADS_3

Para siswa kelas XII terlihat sedang berlalu-lalang di sekitar aula dan halaman sekolah. Ada yang sedang berfoto-foto, ada yang bercengkrama dengan teman-teman mungkin untuk yang terakhir kalinya. Ya, hari ini adalah hari perpisahan kelas XII usai pengumuman kelulusan tadi pagi. Alhamdulillaah, kami lulus 100 % dan aku mendapat peringkat 2 kelas IPS sehingga aku mendapat kado istimewa dari Bapak Kepala Sekolah. Adam peringkat 1 dan Meli peringkat 3. Acara perpisahannya sudah selesai dan para orangtua sudah pulang. Kami masih ingin melepas rindu bercanda dengan teman-teman yang mungkin tak kan kami temui lagi. Tadi, kami juga sempat sesenggukan akan berpisah dan saling bermaaf-maafan serta saling mendo'akan. Aku memilih berfoto-foto serta berbincang-bincang dengan teman-teman cewekku. Tidak terasa, 3 tahun begitu cepat berlalu. Tak terasa pula kami telah menyelesaikan segala jenis ujian yang memusingkan kepala. Mulai dari Ujian Nasional, Ujian Sekolah, UASBN, Ujian Praktek, dan lain-lain.


"Setelah lulus, kamu mau lanjutin kemana, Nis?" tanya salah satu temanku.


"Mau ke UGM insyaaAllaah. Kalo kamu?" jawabku, balik bertanya.


"Jauh banget di Jogja. Aku ke ITB aja. Mau mencoba yang baru. Bosen pelajaran IPS itu-itu terus," jawabnya.


"Ambil jurusan apa, Nis? Kalo boleh tahu?" tanya temanku yang lain.


"Perekonomian Bank. Kalian tahu sendiri aku suka banget mapel Ekonomi. Gapapa jauh, belajar mandiri. Kamu sendiri mau lanjut kemana?" kataku.


"Aku insyaaAllaah ke STAN, Nis. Do'ain ya bisa masuk," katanya.


"Aamiin." Kami semua mengaminkan.


"Kalo aku kayaknya mau kerja dulu deh," timpal teman yang lain.


"Aku belum tahu. Tapi kayaknya kerja," kata teman yang lainnya.


"Aku pengen juga nyoba di UGM. Kapan-kapan, aku kasih tahu infonya yaa, Nis," pinta temanku yang lainnya lagi.


"InsyaaAllaah. Apapun pilihan kita, pasti yang terbaik menurut kita. Tidak usah mendengarkan ocehan orang lain. Semoga sukses ya. Jangan lupa, tetap saling memberi kabar lewat grup WA. Udah dulu ya, aku mau kesana," ucapku sambil menunjuk Adam yang sedang sendirian bermain HP. Teman-temanku hanya mengangguk.


.

__ADS_1


"Heei! Sendirian aja. Ngobrol kek sama temen-temen," kataku lalu duduk di sampingnya.


"Kamu, yang! Ngagetin aja. Udah koq tadi, kamu gak liat," ucap Adam.


"Setelah lulus, kamu mau lanjut kemana?" tanyaku.


"InsyaaAllaah ke ITB. Kamu ke UGM, 'kan? Gakpapa LDR. Yang penting tetep jaga komunikasi dan komitmen," ucap Adam, merangkul pundakku.


"Hm. Tapi Papa Mamaku gak ngebolehin aku pacaran," kesalku.


Lalu, Adam malah bernyanyi.


"Walau Mamamu tak suka... Papamu juga melarang.. Walau dunia menolak, tetap aku, tetap kukatakan kucinta dirimu.."


"Udah.. Nanti bisa diatur," timpal Adam. Dan ia mulai bernyanyi lagi.


"Aku akan menikahimu, aku akan menjagamu.. Kukan setia..."


"Udah jangan nyanyi lagi! Nanti malem aku ga bisa tidur lho," kataku memotong.


"Kenapa ga bisa tidur?" tanya Adam.


"Soalnya, tiap abis kamu nyanyi, malemnya aku kepikiran terus sama suara merdu kamu," jawabku dengan wajah merah merona.


"Aku juga ga bisa tidur tiap kamu abis bacain puisi. Kamu hebat ya, bisa menampilkan puisi bahkan tanpa dikarang sebelumnya," kata Adam membuat wajahku tambah merah.

__ADS_1


.


Tiba-tiba.....


"Aduuuhh! Astaghfirullaah... Laa ilaaha illallaah..." Adam meringis kesakitan sambil memegangi pinggang kirinya.


"Kamu kenapa, Dam? Yaa Allaah," kataku panik.


Beberapa menit kemudian, Adam pingsan.


"Temen-temeen! Tolongin Adam! Dia pingsan!" teriakku meminta tolong.


Teman-teman cowok lari menghampiri kami dan membopong Adam yang sudah tidak sadarkan diri. Teman-teman cewek juga berhamburan melihat apa yang terjadi.


"Bawa Adam ke mobil Om Dewa! Aku bawa ke rumah sakit tempat Adam biasa periksa. Meli, temani aku," perintahku.


Teman-teman mengangguk. Beberapa menit kemudian, aku, Meli dan Adam sudah berada di mobil. Sari duduk di depan, sedangkan aku memangku kepala Adam yang terbaring di jok mobil dengan kaki ditekuk. Om Dewa melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Aku segera menghubungi Paman, Bibi dan Bunda. Seketika badanku lemas, tak berdaya apa-apa lagi. Panik, sedih & takut. Yaa Allaah, semoga Adam tidak apa-apa yaa Allaah. Air mataku menetes mengalir dan mengenai pipi Adam. Aku segera mengusapnya dengan lembut.


"Allaahummasyfiihi, allaahummasyfiihi, allaahummasyfiihi, Adam." Do'aku lirih.


.


***


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2