
Minggu terakhir di bulan April. Seharusnya, jadwalku pulang. Namun, aku meminta izin orangtuaku untuk tidak pulang dengan alasan fokus belajar Ulangan Kenaikan Kelas. Padahal sebenarnya, aku ingin menutupi kekalutanku dari orang tua ku. Karna Kak Bim yang telah memutuskanku seminggu yang lalu. Aku selalu murung & menghindar dari Kak Bim di setiap jam istirahat. Bersama Adam di kelas yang juga memakan bekalnya dan melanjutkan sholat Dhuha di masjid. Meski berdua di dalam kelas, aku tetap seperti ditemani patung. Bagaimana tidak, Adam diam seribu bahasa. Dan aku tidak mempedulikannya. Walaupun aku dan Meli duduk di bangku lajur paling kanan baris kedua, sedangkan Adam duduk sendiri di lajur sebelah kiriku.
.
***
Seminggu kemudian.
"Tunggu! Aku ikut ke kantin, Mel," ucapku berbinar, menahan tangan Meli yang hendak ke kantin.
"Kamu sudah siap ketemu dengan Kak Bim?" tanyanya ragu.
Aku hanya tersenyum.
"Seorang Annisa yang tegar, hanya butuh waktu 2 minggu untuk move on," ujar Meli memujiku.
Dan benar saja, aku bertemu Kak Bim. Tapi, aku bersikap biasa saja. Aku sudah melupakan cintanya. Alhamdulillaah, aku sudah baik-baik saja.
.
***
Pelajaran Sosiologi membuat teman sekelasku bosan. Mereka ngantuk & menunggu jam istirahat kedua. Namun, aku masih tetap memperhatikan dengan serius.
Tak lama kemudian, bel berbunyi. Semua siswa melaksanakan sholat Dzuhur berjama'ah. Lalu, kembali ke kantin. Sementara aku di kelas dengan soal-soal yang belum kukerjakan, karena merasa belum lapar.
__ADS_1
.
"Kamu sudah move on dari mantanmu?" tanya seseorang.
Aku menoleh ke kiri sambil melongo.
"Seorang Adam bisa mengajakku bicara? Wow! Aku memecahkan rekor kelas," ucapku terheran-heran.
"Jangan ikutan menghinaku," ucap Adam tertunduk lesu.
"Ups! Maaf, hanya bercanda," kataku.
"Hm, tak apa."
Suasana kembali hening.
.
"Hm, alhamdulillaah Seperti yang kau lihat," jawabku sambil masih mengerjakan.
"Kalau boleh jujur, aku salut denganmu. Yang bisa tetap tegar, tabah & sabar menghadapi cobaan. Hanya dengan mengerjakan soal. Kalo boleh tahu, apa yg membuatmu bisa setegar ini?" tanyanya membuatku menghentikan pekerjaanku dan meletakkan pulpenku.
Aku menghela nafas panjang mengumpulkan ketegaran, serta kupejamkan mata sebentar. Aku membukanya, lalu merubah posisi dudukku sehingga menghadap ke Adam.
"Aku sebenarnya masih sedikit terluka. Tapi, aku selalu mengingat apa yang Papaku ajarkan. Ya, kau tahu sendiri Papaku seorang tentara. Bahwa aku harus selalu tegar dalam setiap cobaan. Mengambil hikmah dari setiap kejadian untuk maju ke depan. Mencoba bangkit dari keterpurukan dan terus bertahan," ucapku mantap.
__ADS_1
Perlahan bulir bening menetes di pipi lelaki yang ada di depanku.
"Mengapa kamu menangis, Dam?" tanyaku, mengernyitkan kening.
Adam menggelengkan kepala, tapi raut wajahnya seolah menunjukkan suatu beban berat. Adam menyeka air matanya.
"Aku..." jawabnya terdengar berat.
"Ayo, Dam. Ceritakan saja. Aku temanmu, aku akan mencoba membantumu. Jangan pernah merasa sendiri," ujarku berusaha memancingnya agar bercerita.
"Aku...hanya teringat dgn almarhum ayahku."
.
"Ceritakanlah bebanmu, jika kamu mau," kataku. Adam menghela nafas panjang.
"Asal kau tahu, aku juga ingin tegar sepertimu. Tapi, aku kehilangan sosok ayah yang selalu buatku tegar. Ibuku hanya seorang pemulung. Tapi, aku terus berusaha buat ibuku bangga dengan prestasi. Tapi, nilaiku selalu jelek. Kau tahu Annisa, mengapa aku tak pernah mencoba mencontek PR kamu atau Meli, seperti yang dilakukan teman-teman sekelas? Itu karena aku berprinsip sepertimu. Aku selalu mencoba mengerjakan soal semuanya sendiri dan pantang kata mencontek sekalipun hanya PR & bukan ulangan. Tapi, aku tak bisa menyelesaikan.
Tanganku kaku, tak bisa menulis setiap hampir selesai. Dulu, aku di SD & SMP aku selalu peringkat 1. Namun, tidak di SMA ini. Sebenarnya, aku bukan pendiam, Annisa. Aku juga jago bela diri, dulu. Tapi, hinaan anak 1 sekolah, selain kamu, mantanmu, Meli dan pacarnya, membuat mentalku benar-benar down. Aku ingin tegar & bangkit dari keterpurukan ini. Aku sudah mencoba, tapi tidak bisa. Mereka terlanjur membunuh semua harapanku, hingga menjadi pendiam yang bodoh & miskin seperti ini. Aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan," jelas Adam membuatku kaget bercampur sedih.
Ternyata ini semua beban berat yang ada di balik Adam. Seorang yang semua orang menyangka, ia pendiam. Aku berderai air mata mendengarnya, tak kuasa berkata apa-apa. Aku seolah hamba yang tak bersyukur. Ternyata, masih ada yang jauh lebih berat ujiannya dariku.
Akupun menyeka air mataku & mencoba menguatkan Adam. Aku menjelaskan panjang lebar, sesuai yang Mama ajarkan dari ilmu Psikologis.
.
__ADS_1
***
Bersambung.