
Aku termenung duduk di ruang tunggu, sambil terus memanjatkan do'a di dalam tangisku. Paman, Om Dewa, Bibi, Bunda dan Meli mensupportku untuk tetap tenang & tetap berdo'a. Tak lama kemudian, Dokter yang memeriksa Adam keluar dari kamar pasien tempat Adam terbaring. Kami berenam langsung berdiri, menunggu keterangan dari Dokter.
.
"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" tanya Bunda khawatir.
"Putra ibu mengalami gangguan parah pada kanker ginjalnya. Tapi, saya belum bisa memastikan sebelum ibu menandatangani administrasi pemeriksaan menggunakan sinar X. Pemeriksaan sinar X digunakan untuk mengetahui penyakitnya secara pasti," jelas Dokter.
"Saya akan menandatangani apapun yang Bapak minta. Asalkan anak saya bisa sembuh," kata Bunda mulai berlinang air mata.
"Baik Bu. Lima menit lagi, silakan ibu ke ruang administrasi. Karena keadaan pasien sudah memprihatinkan. Pemeriksaan sinar X dilakukan jika pasien sudah sadar dan membaik. Sebab jika tubuhnya tidak tahan terhadap sinar X, maka akan dikhawatirkan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Kita serahkan semuanya kepada Allah. Saya izin pamit dulu," jelas Dokter.
Bunda mengusap air matanya dan mengangguk. Setelah seorang suster keluar dari kamar Adam, kami langsung masuk ke kamar. Air mata telah membasahi jilbabku.
"Adam. Kamu harus kuat, ya. Aku akan terus berdo'a untuk kesembuhanmu," kataku pada Adam yang kini seragamnya telah berganti baju khusus pasien berwarna hijau toska.
"Nak, sudah adzan tuh. Kita sholat ke mushola dulu, yuk. InsyaaAllaah, hati kita menjadi lebih tenang," nasihat Bunda memegang dua pundakku.
"Annisa sholat di ruangan ini saja ya, Bun. Annisa belum bisa ninggalin Adam," jawabku sambil mengusap air mataku.
__ADS_1
Lalu mereka berlima meninggalkanku menuju mushola rumah sakit. Aku mengambil baju ganti yang sudah dibawakan Bibi & masuk ke toilet yang ada di dalam kamar Adam.
Setelah mandi & wudlu, aku sholat dan berdo'a kepada Allah.
"Yaa Allaah. Sembuhkanlah Adam untukku yaa Allaah. Aku sangat mencintainya & tak mau kehilangannya. Allaahummasyfiihi allaahummasyfiihi allaahummasyfiihi Adam," do'aku.
Lalu kulihat kepala Adam menengokku perlahan dan matanya terbuka, buru-buru kuhapus air mataku dan melipat mukena. Aku duduk di kursi dekat Adam berbaring dengan perasaan senang.
"Alhamdulillaah, Adam. Akhirnya kamu sadar juga," ucapku lalu kupegang tangan kirinya, "Kamu yang kuat ya. Aku akan disini terus jagain kamu. Jangan lupa terus berdo'a & ucapkan dzikir pada Allah," lanjutku.
Adam tersenyum perlahan lalu berkata dengan terbata-bata, "A-ku baik-baik saja insyaaAllaah. A-ku tak berhenti berdzikir & berdo'a. Dan de-ngarlah, aku ingin mengatakan sesu-atu."
Kudekatkan telingaku padanya. Dia berkata dengan suara lirih.
Kata-kata Adam benar-benar menohok hatiku. Membuat dadaku sesak & tak bisa berkata apa-apa selain mengeluarkan tangisan. Aku belum siap jika Adam meninggalkanku.
Tiba-tiba, seseorang mengetuk pintu. Segera kuhapus air mata yang membasahi pipiku. Kubuka pintu, ternyata suster piket memberikan jatah makan untuk Adam. Aku menerimanya & melangkah menuju Adam.
"Kamu jangan bilang begitu. Kita 'kan belum tahu apa yang akan terjadi. Bukankah kamu sendiri yang pernah bilang padaku, bahwa keajaiban do'a itu bisa merubah segalanya, biidznillaah insyaaAllaah. Selama kita masih mau berusaha. Yuk, sekarang makan dulu. Aku suapin," ucapku berusaha menguatkan Adam. Meski bertolak belakang dengan batinku, bagaimana aku menguatkan jiwanya jika aku sendiri dalam keadaan lemah?
__ADS_1
Adam mengangguk. Aku memutar alat di bawah ranjang Adam yang berfungsi menaikkan ranjang Adam, sampai badan Adam bisa dalam keadaan posisi duduk. Aku mulai menyuapi Adam & setiap kumenyuapinya, kulihat wajah Adam yang sayu tersenyum padaku. Aku juga berusaha mengajaknya bercanda agar tdk sedih, hingga Adam bsa tertawa kecil. Adam slalu setia mendengarkan setiap ceritaku.
Lima belas menit kemudian, Adam telah selesai makan. Lalu aku meminumkan air hangat pada Adam dengan sangat hati-hati.
.
*Tok-tok-tok!
Aku mmbuka pintu begitu mendengar suara ketukan. Ternyata Bibi, Bunda dan Meli sudah kembali. Aku mempersilakan mereka masuk.
"Kamu cari makan di luar dulu sana. Biar gantian Bunda yang jagain. Pamanmu sama Om Dewa sudah pulang," nasihat Bunda yang sekarang duduk di kursi yang tadi kutempati.
"Baik, Bunda," jawabku.
"Adam sudah sadar? Alhamdulillaah. Sudah makan juga?" tanya Bunda.
Adam mengangguk. Lalu, aku keluar ruangan untuk membeli makan & sudah tak mendengar percakapan lagi.
.
__ADS_1
***
Bersambung.